Lompat ke isi utama
Nuryati sedang memegang produk kerajinan

Perjuangan Nuryati, Mantan Atlet Difabel Kusta Meraih Sukses

Solider.id, Blitar- Nuryati, perempuan difabel asal Blitar, pernah terpuruk karena kemiskinan. Kusta yang dialaminya dijadikan alasan rerata masyarakat yang menjauhinya, bahkan suaminya sendiri. Pada puncak krisisnya ia menjual medali emas penghargaannya sebagai atlet nasional.

Kusta adalah penyakit kulit menahun yang disebabkan bakteri mycobacterium leprae yang menyerang sel saraf tepi kecuali otak. Tidak mudah menular namun dampaknya yang meninggalkan bekas menimbulkan kesan ngeri. Stigma negatifnya, orang merasa takut, ngeri, jijik, takut tertular dan sebagainya, sehingga dianggap menjadi masalah sosial dan ekonomi bagi Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK).

Stigma atau pandangan negatif masyarakat membuat OYPMK sulit memperoleh pekerjaan sehingga hidup dalam kemiskinan serta berpendidikan rendah karena putus sekolah. Riset Lingkar Sosial tahun 2014 di Mojokerto pada komunitas kusta, menunjukkan dampak stigma tak hanya dialami oleh penderita maupun orang yang pernah mengalaminya, melainkan juga berdampak pada keluarga.

Para pemuda anak-anak dari OYPMK banyak menjadi pengangguran. Dalam pergaulan sosial mereka enggan menyebutkan desa asalnya atau menyamarkan identitas sebagai keluarga OYPMK karena malu dan takut dijauhi.

Minimnya perhatian pemerintah membuat persoalan ini berlarut-larut. Tak sedikit dari mereka memutuskan hidup sebagai pengemis di jalanan. Meski sebagian lainnya memilih berjuang secara totalitas untuk menghapus stigma dan bekerja keras.

Nuryati lahir di Blitar, 1 Januari 1961. Ia divonis kusta oleh dokter pada usia 25 tahun. Tekanan ekonomi membuat kusta Nuryati tak terawat, ia merasa depresi yang berdampak cepat memicu reaksi kusta sampai daya tahan tubuhnya mulai lemah. Pada usia anaknya yang kelima tahun, ia dirawat di RS Kusta Kediri selama satu tahun.

Usai masa pengobatan, Nuryati tetap rajin kontrol ke RSK hingga 3 tahun lamanya. Selama masa kontrol, ia berkenalan dengan sesama difabel kusta yang berlanjut di pernikahan. "Kami bersepakat dan berharap untuk lembaran kehidupan baru yang lebih baik," kenang Nuryati, ketika bertemu dengan pasangannya yang sama-sama memiliki hobi olahraga.

Nuryati menyukai voli dan tenis sedangkan suaminya jago main catur. Hingga pada 1987, mereka mengikuti Pekan Olah Raga Penyandang Kusta Nasional (Perpentanas) di Jakarta. Mewakili atlet Jawa Timur, ia dan suaminya sukses menggondol medali emas dari tiga cabang olahraga (cabor) yaitu bola voli, tenis meja dan catur.

Bangkit dari stigma

Nuryati tak patah arang. Selama perawatan di rumah sakit ia dan sesama kusta lainnya saling memotivasi. Harapan mereka bisa kembali ke masyarakat untuk bersosialisasi. "Usai masa perawatan, berbekal ilmu perawatan diri dan informasi kusta yang didapat dari rumah sakit, kami membentuk Kelompok Perawatan Diri atau KPD," tutur Nuryati. Ia dan kawan-kawan sesama OYMPK membentuk Kelompok Perawatan Diri (KPD) dan membentuk organisasi sosial Perhimpunan Mandiri Kusta (Permata) cabang Blitar pada 2011.

Organisasi itu dibentuk dengan latarbelakang pengetahuan masyarakat tentang kusta masih minim. Oleh karena itu, organisasi bentukan Nuryati juga tidak lepas dari peran sosialisasi. adanya organisasi, ia dan kawan-kawan bisa bersosialisasi dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan. KPD dalam naungan Permata Blitar bekerjasama dengan dinas kesehatan, yang setiap bulan mengadakan pertemuan rutin di Puskesmas Sutojayan. Agendanya selain perawatan diri juga berbagi pengalaman seputar kusta.

Hingga saat ini, tujuh tahun sudah kegiatan Nuryati dan rekan-rekannya berjalan. Berbagai kegiatan mereka lakukan. Mulai dari arisan, senam kusta, perawatan diri, simpan pinjam, perekrutan anggota baru dan memberikan penyuluhan kusta. Termasuk kegiatan di bidang keterampilan untuk pemberdayaan ekonomi. Manfaatnya saat ini mereka memiliki berbagai usaha, produksi manisan belimbing, menjahit, membuat tas serta berbagai suvenir dari kardus dan barang bekas.

Berkat kerja keras perempuan penggerak peduli kusta ini, hidup lebih baik sebagai wirausahawan. Kondisi perekonomian Nuryati kini jauh lebih baik. Beberapa usaha ia tekuni memanfaatkan modal pinjaman bergilir kelompok. Ia juga aktif di kegiatan PKK dan jamaah pengajian. Melalui kegiatan ini ia mensosialisasikan kusta sehingga masyarakat memperoleh informasi yang benar.

Secara medis Nuryati mengalami difabilitas tingkat dua, yaitu dampak kusta yang meninggalkan bekas dalam pandangan mata biasa. Namun semangatnya luar biasa tidak mau bergantung pada orang lain. "Apapun yang dilakukan dengan baik dan ikhlas akan membawa kebahagiaan dan kesejahteraan hidup," ungkapnya. Buah perjuangannya saat ini tengah ia nikmati bersama keluarga, anak dan satu cucunya.

"Selamat hari kusta sedunia, pesan saya kepada teman-teman difabel kusta dimanapun untuk tetap semangat," harap Nuryati. [Ken]

The subscriber's email address.