Lompat ke isi utama
Jalan Muhammad Ali di Cianjur yang dulu digunakan untuk latihan baris-berbaris (Kredit gambar: arsipindoneisa.com)

Obituari Mohammad Ali: Pahlawan Kemerdekaan dari Cianjur

Solider.id, Malang- Sebagian orang tentu tahu jika Jalan Muhammad Ali di Cianjur untuk mengenang jasa seorang pahlawan di perang pasca kemerdekaan, di bawah pemimpin laskar Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) cabang Cianjur.

Jalan yang setiap harinya cukup macet karena lalu-lalang pedagang kaki lima, anak-anak sekolahan, parkir sepeda motor dan angkot yang semrawut, terlebih pada malam hari. Namun tak banyak orang tahu jika pejuang revolusi tersebut adalah seorang difabel.

Mohamad Ali terlibat dalam masa Revolusi Fisik, khususnya di rentang 1945-1946 di lokus Cianjur. Perang yang cukup membuat Inggris kewalahan sebagai pemenang Perang Dunia ke-II. Peperangan yang ternyata tidak hanya melibatkan satu golongan saja, melainkan berbagai golongan dengan latar belakang ras, agama, dan ideologi yang berbeda bahu-membahu melawan pasukan Inggris. Termasuk dari para laskar rakyat, seperti BBRI, Hizbullah, Sabilillah, dan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo).

Muhammad Ali dalam beberapa catatan penelitian, selain pemimpin laskar yang disegani juga tokoh agama dan jajaran pimpinan partai Sarekat Islam (SI). Dalam beberapa catatan tentang tokoh ini hanya satu yang mengungkap difabel fisiknya, selebihnya fokus pada perjuangan yang ia lakukan.

BBRI adalah organ perjuangan nasional yang didirikan Muwardi di Jakarta pada 1946 dan berpindah ke Solo, usai Jakarta diduduki Belanda. Organ yang memiliki ideologi sepaham dengan garis perjuangan Tan Malaka tersebut lantas membentuk cabang di banyak kota, termasuk Cianjur.

Kekuatan laskar ini juga sangat diperhitungkan oleh Sukarno sebagai penguasa saat itu. Ketika Muwardi, Sudirman, Urip Sumohardjo dan Tan Malaka tak menyetujui Perjanjian Linggarjati yang ditandatangani pada 25 Maret 1947. Muwardi sempat ditahan Pemerintah meski akhirnya dilepaskan kembali untuk menghindarkan tindak kekerasan dari BBRI dan simpatisannya. Selain itu Muwardi juga diduukung Sudirman dan Urip Sumohardjo yang menyebabkan pemerintah berpikir ‘dua kali’ untuk menahan Muwardi.

Pandangan Tokoh Masyarakat terhadap Muhammad Ali

Sejarawan Cianjur, Hendijo ketika diwawancara mengaku mengenal profil Muhammad Ali melalui pembicaraannya dengan saksi hidup. Menurutnya sosok penjuang difabel ini memang belum ada yang mendokumentasikannya dalam sebuah buku. “Figur ini hanya bisa didapat dari beberapa saksi dan pelaku sejarah yg tentunya sudah uzur,” paparnya “yang jelas dia pada akhirnya berhasil ditangkap lalu ditembak mati oleh militer Belanda dan jasadnya dibuang ke sungai Cisokan.”

Lebih lanjut Handijo mengisahkan, Muhammad Ali ini awalnya adalah seorang anak muda yang berdagang es sirup di pasar Ciranjang. Ia memang sudah menjadi difabel sejak lahir karena terkena polio. Hingga pada 1946, ia didapuk sebagai pimpinan laskar BBRI dan gugur pada sekitar 1947. "Saat akhir kekuasaan Jepang, Muhammad Ali dikenal sebagai pimpinan sekelompok pemuda, pedagang pemberani yang terlibat dalam perebutan senjata tentara Jepang," jelas Handijo.

Handjio juga menuturkan saksi lain perjuangan Muhammad Ali, yakni R. Makmur eks anggota BBRI yang sedikitnya tahu kiprah Muhammad Ali. Lebih lanjut tentang Muhammad Ali, ditulis Handijo dalam catatannya yang berjudul Hikayat Dua Benteng.

Sesepuh Cianjur, Mulyadi (75) anak dari R. Dumbon Sumintapura salah seorang tokoh pergerakan Cianjur di era revolusi. Ia mengisahkan kawasan yang didiaminya sekitar 65 tahun lalu dan tak seramai sekarang. Toko-toko yang sebagian besar dikelola orang-orang Tionghoa pun jumlahnya masih bisa dihitung, apalagi kendaraan yang lalu-lalang yang waktu itu kebanyakan adalah sado atau sejenis delman. "Banyak sudut kota yang kini menjadi bangunan, dulunya adalah hamparan tanah kosong," ungkap Mulyadi.

Bahkan begitu lengangnya, pada sekitar tahun 1946-1947, anak-anak muda dari laskar BBRI cabang Cianjur selalu menggunakan kawasan itu sebagai tempat untuk latihan baris-berbaris. Di Cianjur, BBRI dipimpin Muhammad Ali, yang namanya kemudian disematkan kepada nama jalan tempat ia secara rutin melatih baris-berbaris.

Sebelum berangkat latihan baris-berbaris, mereka biasanya berkumpul di sebuah rumah yang terletak di wilayah Pasar Su’uk. Kini wilayah yang masih menyisakan beberapa batang pohon mahoni tua itu dinamai sebagai Jalan Barisan Banteng (Barba).

Sepengetahuan Mulyadi, Muhammad Ali sendiri merupakan lelaki kelahiran kampung Sukasari di Ciranjang, sebuah desa yang terletak di luar wilayah Cianjur menuju Bandung. Karena itu, tidak aneh jika saat ini di kecamatan Ciranjang terdapat juga jalur jalan yang diberi nama Jalan Mohamad Ali.

Mulyadi mengenang sosok Muhammad Ali sebagai pemuda yang memiliki tubuh kecil dan berjalan agak terpincang-pincang, kemungkinan polio. Namun keberaniannya melebihi badannya yang kecil. Karena itu ia disegani kawan-kawannya dan ditakuti oleh lawan-lawannya terutama militer Belanda. “Ia diibaratkan bantengnya Cianjurlah saat itu,” ujar Mulyadi.

Namun perjuangan belum selesai, Muhammad Ali telah gugur. Belum jelas benar, kata Mulyadi, apakah ia meninggal karena ditembak militer Belanda atau karena sakit. Kisah lain yang beredar, Mohammad Ali gugur ditembak Belanda, kemudian jasadnya dibuang ke sungai Cisokan.

Sepeninggal Muhammad Ali, BBRI diserahkan kepada pemuda lain bernama Soeroso. Ia merupakan “banteng kedua” di laskar BBRI. Mulyadi menyatakan, sejatinya pemuda Soeroso bukanlah asli berasal dari Cianjur. Ia merupakan warga Jawa Tengah (belum diketahui berasal dari kota mana) yang hijrah ke Cianjur. Sosoknya dikenal sebagai pemuda pemberani dan kharismatik, sehingga ia diangkat menjadi pemimpin perlawanan terhadap militer Belanda oleh anak-anak muda asli Cianjur.

Dalam buku Pertempuran Konvoy Sukabumi-Cianjur 1945-1946, Kolonel (Purn) Eddie Soekardi menyebut nama Soeroso sebagai pimpinan gerilyawan kota yang berhasil mengganggu pergerakan Batalion 3/3 Gurkha Rifles-kesatuan elit militer Inggris yang diperkuat orang-orang Gurkha-dari Bandung ke Sukabumi.

Bersama gerilyawan lain dari Yon 3 Resimen III TRI, laskar Hizbullah dan Sabilillah, laskar BBRI pimpinan Soeroso melakukan penyerangan lewat aksi hit and run terhadap Yon 3/3 Gurkha Rifles yang diperkuat oleh kendaraan tank Sherman, panser wagon, brencarrier dan truk-truk berisi pasukan.

Kendati hanya menggunakan molotov cocktail (bom sederhana yang terbuat dari botol yang diisi bensin dan disertai sumbu) dan beberapa pucuk senjata saja, mereka melakukan serangan terstruktur dari sudut-sudut pertokoan dan lorong-lorong rumah yang berderet sepanjang pusat kota Cianjur.

Sama dengan nasib pendahulunya, Soeroso gugur dalam sebuah operasi intelijen yang dilancarkan Belanda untuk menjebak Soeroso. Satu pleton KNIL tiba-tiba mengepung Soeroso saat makan siang di warung. Sempat melakukan perlawanan, namun “Banteng Kedua” itu lantas terjengkang dihantam peluru musuh. Jasadnya kemudian dibawa oleh penduduk setempat dan dimakamkan di kawasan Panembong.

Mohamad Ali dalam karir dan kepemimpinan

Wijaya, dalam catatannya yang berjudul laskar Hizbullah antara Jihad dan Nasionalisme Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 1945-1949. Mengulas tentang pergerakan laskar Hizbullah di kecamatan Ciranjang kabupaten Cianjur- dalam catatan, ditulis dengan variasi Mohamad Ali-dengan BBRI yang dipimpin Muhammad Ali.

Mohamad Ali dalam perannya sebagai pemimpin laskar termasuk elit non formal. Sebuah golongan elit yang keberadaannya bukan karena mendapat pengangkatan dan restu secara formal dari pemerintah RI, melainkan karena memiliki kualitas yang unggul dalam pandangan masyarakat. Baik ditokohkan karena pemahaman akan agama, status sosial dan ekonominya. Selain pemimpin perang ternyata, ia juga tokoh agama yang berpengaruh sekaligus termasuk dalam pimpinan Sarekat Islam.

Golongan ini dapat memiliki pengaruh yang besar terhadap kondisi psikis dan prilaku kelompok masyarakat. Kedudukan elit non formal cukup penting, terutama dalam kehidupan masyarakat desa. Bahkan kadang-kadang pengaruhnya lebih kuat bila dibandingkan dengan elit formal. Beberapa faktor seseorang dapat diakui sebagai elit non formal antara lain keturunan, kekayaan, pendidikan, pengalaman, keberanian, kahrisma (Sartono Kartodirjo, 1982).

Para elit non formal di Ciranjang semasa revolusi fisik adalah para Kiai dan Haji dengan pondok pesantren, tanah yang luas dan usaha yang maju, pimpinan laskar/badan perjuangan di luar TNI serta golongan bangsawan/raden yang merupakan keturunan dari kerajaan-kerajaan yang berada di priangan.

Di lain sisi para bangsawan dapat masuk ke dalam lapisan elit formal dan juga elit non formal. Dikaitkan dengan catatan Handijo, Mohamad Ali termasuk elit non formal dari rakyat jelata. Selain difabel, ia adalah seorang pedagang sirup pemberani yang didapuk memimpin laskar BBRI di Cianjur. Sedang laskar sendiri merupakan organisasi tentara tentara non formal yang dibentuk masyarakat. Kedudukan sama disegani dengan tentara resmi seperti BKR.

Pergerakan Mohamad Ali dalam catatan Wijaya dimulai dari berita telah diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia yang tidak langsung diterima masyarakat Ciranjang. Informasi tersebut baru diterima oleh masyarakat karena media komunikasi yang sederhana dan terbatas serta sensor Jepang yang sangat ketat. Berita kemerdekaan baru diterima masyarakat Ciranjang keesokan harinya, Sabtu 18 Agustus 1945. Menjadi kabar yang disambut dengan suka cita terutama kaum pergerakan nasional Sarekat Islam (SI) Ciranjang.

Para pimpinan SI Ciranjang mengadakan rapat-rapat non stop di rumah Haji Maksudi/Ibu Syarifah di Curug. Sekarang menjadi jalan Raya Bandung Nomor 80 atau di rumah Mohammad Ali di komplek BPPI. Pertemuan juga dilakukan dengan pemerintah Kawedanaan Ciranjang untuk mengambil sikap menyambut Proklamasi Kemerdekaan dan mengumumkannya kepada rakyat.

Pada tanggal 29 Agustus 1945, pemerintah pusat membentuk komite Nasional Indonesia (KNI) dan Badan Keamanan Rakyat (BKR), di daerah pun termasuk di Ciranjang yang segera dibentuk pula KNI dan BKR itu sampai ke desa-desa. KNI dibentuk untuk menyelenggarakan kemerdekaan Indonesia yang berkedaulatan rakyat. Sedangkan BKR untuk membangun keamanan negara.

Hampir sebagian besar pengurus Sarekat Islam (SI) Ciranjang itu masuk di seksi penerangan KNI yaitu Mohammad Basyir, Mohammad Ali, Haji Djaenoedin dan Dam Rosyadi. Bersama elit SI lainnya seperti Abdullah Zahid, dan Roekma membuat pendidikan kilat untuk mendidik kader-kader yang memiliki semangat kebangsaan, nasionalisme, dan militan. Mereka menggerakan rakyat di desanya masing-masing. (Tahkimula B. Arifin, 1998).

Para pemuda berkelompok menyandang golok dan bambu runcing dalam koordinasi Mohammad Ali yang secara informal ketika itu masih menjabat Chudanco Keisyat (Komandan Kompi) Suishintai Kewadanaan Ciranjang. Mereka melucuti tentara Jepang, menurunkan para pangreh praja/ pegawai negeri serta menduduki tempat-tempat yang menjadi sarana vital penjajah, dan mengambil alih perekonomian dari monopoli pihak Tionghoa.

Sampai awal September usai kemederkaan, kekuasaan sipil masih penuh di tangan Jepang. Walaupun sudah tampak gejala-gejala pembangkangan di kalangan pegawai-pegawai Indonesia yang bekerja di kantor-kantor Jepang. Penduduk umumnya sudah berani dengan terang-terangan menentang penguasa Jepang dengan menurunkan bendera Hinomaru untuk digantikan dengan Merah-Putih di mana-mana, serta memekikkan kata “Merdeka” tanpa merasa takut.

Pertempuran Cisokan dan Keterlibatan Muhammad Ali

Masih dalam catatan Wijaya, badan-badan perjuangan/ kelaskaran terus menata pasukannya di tempat yang dikuasai masing-masing. Sambil mengadakan perlawanan dalam bentuk penghadangan terhadap konvoi-konvoi Tentara Sekutu. Mohamad Ali dan pasukannya serta gabungan laskar lainnya kerap kali terlibat pertempuran. Diantaranya pertempuran Pongpok Landak serta pertempuran Cisokan.

Pertempuran Cisokan berlangsung selama dua hari dua malam, tepatnya 30-31 Maret 1945. Dengan arena pertempuran mulai dari Cikijing sampai Pasanggrahan di Ciranjang. Pertempuran ini memakan korban yang tidak sedikit dari kedua belah pihak.

Pertempuran Cisokan dimulai dari laskar Sabilillah pimpinan Rd. Iim Ibrahim yang berkedudukan di Selajambe. Mereka memasang bom batok (ranjau darat) untuk menghadang konvoi-konvoi Tentara Sekutu di beberapa ruas jalan antara Cikijing dan Tungturunan.

Namun selama dua hari mereka menunggu, ternyata konvoi-konvoi itu tidak ada yang lewat, besar dugaan pengawal-pengawal konvoi yang ditempatkan di Ciranjang telah mengetahuinya serta melaporkannya ke Jakarta dan Bandung. (Wawancara dengan Tahkimula B. Arifien, 2006).

Aksi berikutnya laskar ini dibantu oleh badan perjuangan lainnya, seperti Hizbullah, BBRI Mohammad Ali dan TRI. Mereka membuat Komando Gabungan Penghadangan Konvoi yang diketuai oleh Utom Bustomi, Komandan Hizbullah Batalyon II. Keputusan awal yang diambil adalah mengosongkan dan mengevakuasi seluruh penduduk mulai dari Pasir Nangka sampai Tungturunan kemudian diisi oleh para laskar dan TRI.

Sebelah Barat diisi oleh TRI, BBRI Cianjur dan BBRI Karang Tengah. Di barisan tengah oleh Laskar Sabilillah. Tegal Teri dan Bantar Gebang BBRI oleh Mohammad Ali. Sedangkan di Cikamuning, Tungturunan, terutama di Kebon Jati pinggiran Cisokan diisi oleh Laskar Hizbullah Batalyon II dan Hizbullah Kompi II Batalyon III.

Di Pasanggrahan diisi oleh Hizbullah Kompi I Pimpinan Rd. Ruba’i dari Hizbullah Batalyon III Pimpinan Mohammad Basyir bersama “Laskar Eredan” dari BBRI Mohammad Ali, yang dipimpin oleh Partondo dan Yotham (Adjat Sukandi, 1990: 47). Selang beberapa hari konvoi-konvoi Tentara Sekutu datang dari arah Barat maupun Timur, yang didahului dua buah pesawat Speed Fire (Pesawat Pemburu) dan dua buah Bomber B. 25.

Ketika pesawat terbang itu ada di atas kebun Jati Pinggiran Cisokan, ditembaki dengan karaben oleh laskar-laskar yang berada di sana. Tentara Sekutu membalas dengan tembakan senapan mesin kaliber 12,7 dari pesawat-pesawat Speed Fire secara membabi buta ke kedudukan-kedudukan para laskar.

Beberapa waktu keempat pesawat itu menghilang dan muncul konvoi tentara sekutu dari Barat yang didahului dengan kendaraan-kendaraan Berlapis Baja, kemudian menembaki daerah sekitar dengan senapan otomatis, mortir, dan kanon secara membabi buta juga. Mengamuk setelah konvoi dar melanggar “Bom Batok” yang ditanam di ruas Jalan antara Cikijing dan Tungturunan.

Selang waktu tidak lama setelah konvoi Sekutu dari Timur. Mereka menyasar laskar-laskar yang ditempatkan di Kebun Jati pinggiran Cisokan. Sekutu terus mendesak mundur. Dalam posisinya kurang menguntungkan untuk menyelamatkan diri mereka terperosok ke dalam jurang-jurang sungai yang curam dan berbatu.

Sungai Cisokan yang sedang meluap menghayutkan para pejuang. Mereka yang selamat banyak mengalami patah tangan dan kaki. Demikian juga para laskar yang ada di sebelah Selatan, mereka didesak Tentara Sekutu sampai rel Kereta Api.

Pertempuran di Jembatan Cisokan ini berlangsung selama dua hari dua malam. Korban gugur dari pihak laskar diketahui hanya empat orang, puluhan luka-luka akibat jatuh ke jurang. Lainnya tak diketahui nasibnya hanyut terbawa arus sungai.

Sementara korban pihak Sekutu, menurut Adjat Sukandi (Wawancara Nunun Nurkholifah, 2001) memakan lebih banyak korban. Selain akibat terjebak granat, juga tertembak sendiri pesawat Sekutu yang membabi buta. Laskar juga berhasil menahan tentara Gurkha yaitu Basin, Tek Dur, Dal Badur, Besin, dan dua orang tentara NICA, yaitu Garule Tamang dan Idris Ali.

Setelah dua hari pertempuran itu baru mereda tentara Sekutu mundur sambil membakar rumah-rumah di sepanjang Jalan Raya. Dalam buku Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia jilid 5 halaman 187-188, Jenderal A.H. Nasution juga menuliskan tentang Pertempuran Cisokan ini, antara lain:

Sesungguhnya kami terus melakukan serangan-serangan Jalan Raya Puncak – Padalarang menjadi perhatian musuh yang utama, akan tetapi pihak kitapun terus mengganggu dan menghadang mereka. Pada tanggal 30-31 Maret 1946 berkobar pertempuran sejak Cianjur sampai Rajamandala dari Barat Citarum musuh datang dengan lebih 125 kendaraan. Pertempuran di Cisokan dan Ciranjang berlangsung cukup lama. Musuh membakari kampung-kampung sepanjang Jalan. Rakyat mengungsi dan meninggalkan sawah-sawahnya yang dekat ke Jalan Raya. Jalan Kereta Api Padalarang – Cianjur putus sama sekali, karena vak ini tidak aman lagi. Musuh menduduki Stasiun Selajambe, Ciranjang dan Cipeuyeum serta merintangi rel di beberapa tempat.

Muhammad Ali dan Soeroso, Pimpinan BBRI dalam perang Cisokan

Dalam catatan Wijaya, dikisahkan Muhammad Ali dalam laskar BBRI bersama laskar Hizbullah dan TRI sejak awal mempersiapkan pertempuran dan terlibat langsung dalam peperangan. Namun dalam catatan Handijo disebutkan Soeroso dalam perang Cisokan sebagai pemimpin BBRI Cianjur. Ada kemungkinan keduanya terlibat langsung dalam pertempuran. Karena setelah Muhammad Ali meninggal laskar BBRI Cianjur digawangi oleh Soeroso.

Informasi lainnya dalam liputan Metro Nusantara di Ciranjang, terdapat tugu setinggi orang dewasa bertuliskan, Peristiwa Pertempuran Pasukan Banteng/Polri Hisbulloh/Sabilillah Rakjat Lawan Tentara Inggeris Bulan April Tahun 1946.

Tokoh masyarakat setempat, Halimi Abdul Jabar Halimi mengisahkan perjuangan bangsa Indonesia. Khususnya warga Ciranjang, melawan penjajah pasukan Inggris setelah pasukan Jepang mundur dari Republik Indonesia, karena Hirosima dibom pasukan sekutu.

Saat itu ribuan pasukan Inggris sedang konvoy menuju Bandung, dihadang pasukan Banteng/Polri Hisbullah/ Sabilillah Rakyat dan Yon III Resimen 13 TKR Pimpinan Kapten Anwar Patmawidjaja dan banyak lagi para pahlawan lainnya. “Seperti Muhamad Ali Ciranjang, Kolonel Eddi Sukardi Cianjur, Kapten Entang Ajli Bojongpicung dan pahlawan lainnya yang ada di Kecamatan Ciranjang,” ucap Halimi Abdul Jabar.

Halimi meneruskan, sebenarnya sejarah pertempuran melawan tentara penjajah Inggris di Jembatan Cisokan Ciranjang itu telah ditulis dalam buku sejarah di Inggris karangan Letnan kolonel A.W.F. Doultom. Buku itu berjudul The Fighting Cock, merujuk pada nama divisi yang terlibat dalam peperangan tersebut.

Difabel berperan aktif dalam setiap jaman

Perang demi perang sebelum merdeka hingga pasca kemerdekaan sudah pasti banyak menimbulkan korban hidup yang akhirnya menjadi difabel. Pasti pula para "difabel baru" atas semangat kepahlawan dan cinta bangsa tetap berjuang bela bangsa dengan kondisi fisik maupun mental yang ada.

Bahkan terungkap, kisah Muhammad Ali yang difabel sejak kecil karena polio mampu berperan sebagai pemimpin perang, tokoh agama dan orang partai yang sekaligus sebagai pedagang sirup dalam kesahajaan hidupnya.

Difabel berperan aktif dalam setiap jaman. Tak hanya Muhammad Ali, ada Panglima Besar Soedirman yang dalam keterbatasan fisiknya karena sakit paru-paru ditandu dan perang gerilya di hutan-hutan. Pertama kali dalam karir militer bergabung dengan Pemuda Pembela Tanah Air (Peta) pada 1944-1945 menjadi Panglima Besar TKR.

Kemudian K. H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, difabel netra tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001.

Selanjutnya di era kini, makin banyak pejuang difabel yang mendedikasi hidupnya untuk kemanfaatan masyarakat, bangsa dan negara. Seperti Joni Yulianto yang membangun gerakan inklusi di Indonesia. Kemudian di Jawa Timur ada difabel celebral palsy Hari Kurniawan, pendiri LBH Disabilitas dan beberapa lainnya.

Berbicara soal kemampuan, prestasi dan semacamnya kerap kali perhatian masyarakat tertuju hal yang telah dilakukan dan beberapa hal yang luput. Ini yang menjadi salah satu sebab pejuang dan pahlawan difabel tidak tercatat. [Ken]

 

Catatan Referensi:

1. Hikayat Dua Benteng, oleh Hendijo. http://arsipindonesia.com/hikayat-nusantara/era-revolusi/hikayat-dua-banteng/

2. Laskar Hizbullah Antara Jihad dan Nasionalisme Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 1945-1949 oleh Wijaya S. Pd. http://cubinet-edukasia.blogspot.co.id/2012/03/laskar-hizbullah-antara-jihad-dan.html?m=1

3. Neraka Pasukan Gurkha, oleh Hendijo. http://historia.id/modern/neraka-pasukan-gurkha

4. Sejarah Perjuangan Ciranjang Nyaris Terlupakan, pewarta Sam. https://metronusantara.com/sejarah-perjuangan-ciranjang-nyaris-terlupakan/

The subscriber's email address.