Lompat ke isi utama
Pertemuan rutin kelompok difabel mandiri "Solo Juara" membahas rencana strategis tahun 2018

Dinamika Kelompok Difabel Mandiri Solo Juara

Solider.id, Surakarta- Ketergantungan terhadap pendampingan di lapangan, stigma di masyarakat, dan ketidakpedulian difabel terhadap organisasi merupakan tantangan tersendiri bagi kelompok difabel mandiri Solo Juara yang saat ini telah berusia delapan tahun.

Hal demikian dikatakan Sri Sudarti, pegiat difabel yang juga staf Pusat Pengembangan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (PPRBM) Solo yang selama ini mendampingi kelompok mandiri Solo Juara, usai menggelar pertemuan rutin yang dihadiri 30 anggota dengan agenda gelar rencana kerja strategis tahun 2018 di Serengan, Senin (22/1).

Menjawab berbagai tantangan tersebut, Sri Sudarti bersama ketua kelompok difabel mandiri Solo Juara memetakan resolusi. Di antaranya akan melakukan beberapa kunjungan, regenerasi dengan membentuk kelompok relawan Redifa atau kepanjangan dari Relawan Difabel. Dimana anggota relawan difabel yang relatif masih berumur muda dan memiliki kapasitas pengetahuan yang lebih luas. Redifa bergelut tentang pengurangan risiko dan pengelolaan bencana, dan memiliki 25 anggota dari difabel dan nondifabel.

“Kami tetap vokal menyuarakan advokasi pemenuhan hak-hak difabel di Kota Solo. Termasuk ketika belum lama ini salah seorang anggota kelompok mempertanyakan tentang beralihfungsinya Bus Abiyasa yang beberapa tahun lalu telah diserahkan penggunaannya untuk memfasilitasi para difabel jika memerlukan mobilitas,” jelas Sri Sudarti.

Sri menjelaskan, kebutuhan akomodasi mobilitas saat pelatihan yang diadakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang diselenggarakan pada Selasa (23/1), 25 difabel peserta difasilitasi oleh BPBD Surakarta dengan satu unit Bus Abiyasa.

Tujuan paparan rencana strategis kelompok mandiri Solo Juara untuk menjaga semangat berorganisasi. Mendorong anggota agar di tingkat kelurahan dan kecamatan mereka aktif berpartisipasi. Sri mengatakan, perkembangan gerakan keorganisasian difabel di Surakarta berbeda dengan kabupaten lainnya saat mereka membentuk kelompok di tingkat desa atau kelurahan.

“Sebenarnya, pihak kecamatan pun sudah memiliki kesadaran dan bertekad memfasilitasi teman-teman dalam berorganisasi di tingkat kecamatan. Namun hanya di Kecamatan Serengan saja yang jalan,” tutur Sri. Saat ini anggotanya baru bisa berpartisipasi pada tahap Musyawarah perencanaan dan pembangunan kelurahan (Musrenbangkel) dan Musyawarah perencanaan dan pembangunan Kecamatan (Musrenbangcam).

Sri Sarmiyati, salah seorang anggota kelompok difabel mandiri yang sehari-hari berjualan pulsa dan bekerja membuat kerajinan bunga kertas, meapresiasi gerakan tersebut. Dengan adanya organisasi, ia mendapat banyak manfaat dan mengalami perkembangan dari banyak kegiatan. "Suara saya juga banyak didengar di acara-acara sosialisasi maupun Musrenbang," ujarnya. [Puji Astuti]

The subscriber's email address.