Lompat ke isi utama
Farid Wahyudi dan beberapa anggota kelompok mandiri Alaska Sejahtera

Difabel Mendapat Pengetahuan Baru, jika Mau Bergabung dengan Organisasi

Solider.id, Sukoharjo- Bagi difabel, apapun organisasinya, baik organisasi dengan basis massanya difabel ataupun organisasi yang basis anggotanya non difabel dapat bergabung. Selain pengalaman baru yang didapat difabel, juga pengetahuan baru yang sangat bermanfaat.

Hal tersebut juga dilakoni Sri Wahyuni Setyaningsih, perepmpuan berusia 23 tahun. Ia seorang dengan hambatan cerebral palsy (CP) dari lima tahun yang lalu. Tya, sapaan akrabnya, kini bergabung dengan organisasi difabel bersama teman-teman lainnya di Kelompok Mandiri bernama Alaska Sejahtera di desanya.

Tya merupakan bungsu dari dua bersaudara. Ia menikah dengan seorang duda memiliki anak satu. Sehari-hari sang suami bekerja sebagai buruh tani di sawah. Sedangkan ia sendiri membantu ibunya berjualan karak (red: kerupuk nasi) di Pasar Bekonang yang berjarak sekira dua kilometer dari rumahnya, dukuh Tawang, desa Ngombakan, kecamatan Polokarto.

“Ibu saya menemani saya jalan kaki dengan menuntun sepedanya,” cerita Tya kepada Solider yang menyertai perjalanannya dengan menaiki sepeda motor roda tiga/sespan yang dikendarai oleh Sutrisno, seorang relawan Paguyuban Sehati.

Mulanya, Tya enggan bergabung dengan organisasi dan memilih untuk menutup diri. Baru beberapa bulan ini, ia bergabung dengan kelompok difabel mandiri di Kecamatan Polokarto. Kelompok Mandiri Alaska Sejahtera telah berumur enam tahun. “Saya jadi punya banyak kawan, dan bertambah pengalaman. Apalagi ini pertama kalinya saya berorganisasi difabel,” ungkapnya, Minggu (21/1).

Tya mengenyam pendidikan formal hanya sampai kelas satu Sekolah Dasar (SD). Saat itu, ia tinggal kelas dan karena seringnya mendapat perundungan di sekolahnya. Akhirnya ia mogok belajar dan pendidikannya terputus begitu saja. Ia tidak lagi bersekolah dan melulu hanya tinggal di rumah sampai kemudian datanglah keberaniannya untuk keluar rumah dan turut berdagang di pasar.

Sampailah ia di rumah Purwanto, anggota kelompok mandiri Alaska Sejahtera yang sedang mengadakan pertemuan rutin. Kelompok ini tak hanya berdaya secara ekonomi, tetapi juga mampu menguatkan motivasi bagi anggota baru seperti Tya.

Kelompok yang saat ini memiliki usaha ternak sapi tersebut juga memberikan semangat dan mengajak berorganisasi bagi difabel baru, yakni kepada Farid Wahyudi, warga desa Mranggen. Usai pertemuan rutin, sejumlah anggota Alaska Sejahtera berkunjung ke rumah Farid.

“Kenapa kami selalu melakukan silaturahmi dengan difabel baru yang informasinya kami dengar dari warga? Karena kami ingin menularkan semangat berorganisasi, supaya teman-teman bisa mengetahui berita terkait difabilitas secara kekinian. Termasuk bagaimana mereka mengakses kartu difabel, serta jaminan kesehatan lainnya. Itu salah satu atau dua manfaat berorganisasi dari banyak manfaat lainnya,” terang Sutrisno. [Puji Astuti]

The subscriber's email address.