Lompat ke isi utama
Salah satu anak sedang diterapi di salah satu rumah warga desa Jantiharjo, kabupaten Karanganyar

Kursi Roda dan Terapi untuk ABK di desa Jantiharjo

Solider.id, Karanganyar- Pusat Pengembangan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (PPRBM) Solo bekerja sama dengan Liliane Foundation, kembali memberikan terapi bagi anak-anak di desa Jantiharjo, kabupaten Karanganyar. Terapi dilakukan di rumah salah seorang warga dan akan diagendakan dua kali dalam sepekan untuk beberapa bulan ke depan.

Ada delapan anak yang akan diterapi, lima anak dari warga desa Jantiharjo, tiga lainnya asal warga desa lain. Salah satunya Kasih, anak dari Sularmi yang menatap takjub saat Sumiyem dan dua orang staf PPRBM Solo datang membawa sebuah kursi roda, bekas, bantuan Jepang. Ia memiliki hambatan pada kedua kakinya sejak lahir hingga sekarang berumur empat tahun.

Bungsu dari tiga bersaudara ini sehari-hari dititipkan kepada neneknya yang tinggal serumah untuk diasuh. Sedangkan kedua orangtuanya bekerja menjadi buruh di sawah. Berbagai usaha pengobatan telah dilakukan termasuk terapi. Sularmi sedikit bernapas lega, karena Kasih mendapat alat bantu mobilitas dan terapi.

Sularmi merupakan salah seorang yang bergiat di komunitas orang tua anak difabel, bernama kelompok Bina Mandiri yang terbentuk sejak akhir 2016. Kelompok ini lahir di Desa Jantiharjo. Dibentuk untuk menjadi wadah orang tua dalam berbagi, mendampingi dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.

Terapi dan untuk pertama kali dilakukan di rumah orangtua Mareta, anak difabel Cerebral Palsy (CP) berusia 10 tahun. Mareta, yang bertubuh bongsor menikmati saat badannya diterapi oleh dua orang petugas fisioterapi. “Dia sudah biasa diterapi, karena sejak kecil juga saya terapikan di rumah sakit daerah dan puskesmas, meski ini agak lama senggang. Terapis yang merawatnya bilang jika Mareta perlu mengurangi berat badan agar seimbang,” ujar ibu Mareta.

 Ada pula Frida Ayu Permata Sari, difabel ganda, netra dan Tuli yang berusia tujuh tahun dengan hambatan saraf motorik. Frida sama sekali belum pernah diterapi oleh orangtuanya karena terkendala biaya. Frida belum bisa berdiri dengan tegak. Frida saat lahir prematur enam bulan.

“Padahal dokter bilang waktu itu biasanya bayi lahir seumur itu dengan berat badan 1000 ons tak berusia panjang. Frida sempat selama empat bulan dirawat dalam inkubator. Alhamdulillah sampai hari ini saya masih bisa melihat Frida,” kata Sulasmini, ibunda Frida yang sehari-hari bekerja membantu suami berjualan es dan tahu di Alun-alun Karanganyar.

Sumiyem, ketua kelompok Bina Mandiri kepada Solider, Jumat (19/10) mengatakan pihaknya masih akan melakukan audiensi-audiensi lagi dengan kepala desa dan puskesmas. Ia berharap ke depan harapannya tidak lagi hanya bergantung kepada pihak donor.

“Kami masih memerlukan campur tangan pihak desa untuk kelangsungan kelompok kami, salah satunya adalah karena ada kebutuhan terapi bagi anak-anak,” ujar Sumiyem. [Puji Astuti]

The subscriber's email address.