Lompat ke isi utama
Wandoyo berfoto dengan menggunakan kursi roda

Wandoyo, Mantan Atlet Difabel yang Aktif Membina Atlet Muda

Solider.id, Gunungkidul- Dulu, ia adalah seorang atlet cabang olah raga Voli dan Sepakbola ternama di dusun Nglipar. Sekarang ia ‘naik jabatan’ menjadi pengarah sekaligus memanajemen atlit muda yang tergabung dalam karang taruna di dusunnya. Meski begitu, figurnya yang ramah dan terbuka membuat siapapun merasa nyaman meski baru kenal.

Lahir sebagai putra Gunungkidul, Wandoyo adalah atlit Difabel yang biasa turut serta dalam setiap kegiatan tournamen Kecamatan. Anak keempat dari lima bersaudara pasangan dari almarhum Sumarto dan Sayem ini, terbiasa melanglang segala bentuk lomba hingga menjadi juara.

Kondisi difabelilitasnya tak lantas menghilangkan semangat dan daya juangnya untuk tetap menggerakkan para pemuda kampungnya. Justru dengan menjadi difabel, Wandoyo semakin aktif jadi pemangku bagi mereka yang tergabung di Sinar Muda Cup, sebuah klub olahraga bagi atlet voli dan sepakbola yang ada di dusun Nglipar.

Baginya anak muda identik dengan semangat yang membara. Menyulut rasa solidaritas awak mudanya, Wandoyo tak segan turun lapangan untuk jadi supporter dalam pertandingan. Bahkan sering para wasit meminta saran dan masukan karena Wandoyo dinilai selalu menghasilkan bibit unggulan.

Dijumpai saat rehat siang usai ngarit (red: mencari rumput untuk pakan ternak) di rumahnya di dusun Ngaliyan, pria 50 tahun yang dalam keseharian adalah pegawai bagian farmasi di puskesmas Nglipar (15/01). Wandoyo, ayah satu putri ini seorang paraplegi.          

Meski begitu, ia tetap aktif dalam aneka rupa kegiatan. Pada masa penyembuhan, ia punya keinginan untuk bisa kembali bekerja. Ia berpikir tentang keluarga kecilnya, anak dan istri yang jadi semangat hidupnya. Sampai ia harus membuat tempat latihan untuk bisa duduk. Ia memasang tali pada tiang-tiang atap rumangnya untuk digunakan terapi agar bisa duduk. Ia belum tahu cara terbaik untuk bisa kembali beraktifitas.

“Tetangga dan teman-teman khawatir dengan tali yang dipasang. Mereka pikir saya sudah putus asa, takut bunuh diri juga.” Ia tertawa. “Yang penting saya bersyukur masih diberi keselamatan,” tambahnya, mengingat peristiwa naas pada 2003 silam.

Berkat usaha dan semangat juangnya, akhirnya Wandoyo bisa kembali beraktivitas seperti semula. Ia terinspirasi saat menonton acara TV ketika melihat Sri Lestari dari UCP Roda Untuk Kemanusiaan. Ia ingin memiliki sarana mobilitas yang bisa membawanya ke tempat yang ia inginkan. Bermacam usaha ia lakukan demi bisa mempunyai motor roda tiga.

“Saya dapat bantuan kursi roda, bentuk dan warna kursinya kok sama dengan yang di TV yang saya lihat. Saya diberi nomer kontak mbak Sri, lalu saya hubungi di mana bisa membuat motor seperti yang dia miliki,” kisahnya, sambil terkekeh.

Namun, perjuangan tidak sampai di situ. Ia merasa kecewa karena akses menuju kantor tempat ia bekerja belum ramah untuk motor roda tiga. “Saya senang. Kalau mau pergi kemanapun bisa sesuka saya. Dulu, kalau besok mau pergi mikirnya sudah dari sekarang. Mikir mau minta tolong siapa, mikir juga yang diminta tolong bisa atau tidak?,” tutur suami dari Muryanti ini.

Sebelum memiliki motor roda tiga, Wandoyo bekerja dengan diantar-jemput kakaknya. Pernah pula ia memakai jasa antar jemput  pengemudi yang bisa membantu mobilitasnya. Semua ia lakukan demi menjalankan kewajiban sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di puskesmas Nglipar.

“Teman-teman kantor baik semua. Mereka menolong dan mendukung saya.” Wandoyo bercerita bagaimana setiap hari ia berkumpul bersama teman kerjanya dengan penuh kekeluargaan.

Dalam bekerja, ia punya prinsip jika mereka bisa bekerja dengan kemampuan mereka, maka ia juga berusaha semampunya unutk bisa. “Misal dengan kondisi itu ada kebijakan yang mengharuskan saya agar dirumahkan, bagi saya itu tidak jadi masalah. Dalam waktu setengah hari pekerjaan sudah saya selesaikan sehingga tidak menjadi beban buat teman-teman.”

Ia menjadi sosok yang dibanggakan oleh lingkungan sekitarnya. Semangatnya patut jadi teladan. Di kantornya, ia aktif ikut dalam senam lansia yang rutin setiap Selasa pagi di puskesmas Nglipar.

 “Sebagai PNS ada aturan yang menyatakan kalau kondisi pegawai memang tidak fit bisa ijin dengan surat dokter,” ungkap Sumiyati kepala bagian Tata Usaha Puskesmas Nglipar. Berkat loyalitas Wandoyo selama bekerja menjadi salah satu alasan untuk mempertahankannya.

“Dengan kondisi fisiknya yang berkursi roda justru pak Wandoyo memiliki kinerja yang bagus. Teman-teman melihat semangat kerjanya juga bagus. Dengan kondisi seperti itu dia rajin. Berangkat tepat waktu,” tambah Sumiyati. [Yanti]

The subscriber's email address.