Lompat ke isi utama
Pertemuan Pusat Pemberdayaan Disabilitas (PPD) Mitra Sejahtera Gunungkidul dalam rangka membentuk organisasi difabel

PPD Mitra Sejahtera Membentuk Organisasi Cerebral Palsy

Solider.id, Gunungkidul- Pusat Pemberdayaan Disabilitas (PPD) Mitra Sejahtera Gunungkidul mengundang para orangtua perwakilan dari anak dengan cerebral palsy untuk hadir dalam pembentukan organisasi (18/1). Utamanya untuk menghidupkan kembali organisais difabel yang Vakum di kabupaten Gunungkidul.

Sebagai hasil musyawarah bersama pertemuan tersebut membentuk kelompok Mitra Anand,  yang nantinya menjadi mitra kerja bagi Mitra Sejahtera. Pembentukan organisasi yang diberi nama Mitra Ananda ini diharapkan menjadi wadah berbagi informasi dan kegiatan untuk keluarga dengan anak cerebral palsy. “Selain itu, dari forum, orangtua anak-anak cerebral palsy lebih mudah diarahkan dan dikoordinasi,” tambah Hardiyo, ketua PPD Mitra Sejahtera.

Kegiatan berlangsung di sekertariat PPD Mitra Sejahtera dengan dihadiri sekira 40 orang wali keluarga cerebral palsy se-kabupaten Gunungkidul. Para peserta diberikan pengarahan bagaimana membentuk organisasi, karena beberapa undangan yang hadir adalah orang-orang yang baru bergabung di organisasi lengkap dan terstruktur.

“Anak-anak cerebral palsy adalah anak-anak spesial yang perlu penanganan spesial. Karena mereka memerlukan terapi. Hal inilah yang menjadi alasan sehingga diperlukan adanya terapi dan pelatihan ketrampilan sebagai bentuk pembekalan untuk keluarga anak-anak CP,” terang Hardiyo menyambut baik terbentuknya organisasi baru.

Kedepan Hardiyo berjanji akan mengusahakan agar anak-anak cerebral palsy yang ada di kabupaten Gunungkidul bisa mendapat terapi gratis secara rutin melalui kegiatan yang diadakan Mitra Ananda.

Mewakili WKCP, Anis Sri Lestari mengatakan anak-anak CP butuh dukungan yang tepat. Melalui cara mengenali secara detail kemampuan anak dengan mengajarinya agar anak-anak CP bisa melakukan aktivitas dengan penuh kemandirian. “Karena dengan kegiatan rutin yang mereka jalani maka anak CP akan belajar sendiri,” tutur Anis.

Pada sesi berbagi, WKCP mengajak serta Alfi, Rahmat dan Isti. Ketiganya anak-anak CP yang berbagi kisah unik yang mereka alami. Pengalaman sejak kecil hingga dewasa dan bisa mandiri, serta pola didik seperti apa yang mereka pelajari.

Isti ssalah satu dari mereka merupakan alumni Akademi Perindustrian yang fasih di bidang Komputer. Ia membuktikan mampu sekolah tinggi hingga lulus. Demikian pula Rahmat yang kini menjadi pustakawan. Sementara bagi Alfi, bekal kemandirian yang ia dapat dari hasil didikan ibunya telah membawanya meraih gelar cumlaude dari Universitas Indonesia.

Pembentukan organisasi bagi orangtua anak dengan cerebral palsy memberikan pengalaman tersendiri bagi Aris. Sebagai salah satu orangtua yang hadir dalam kegiatan ini ia merasa terbantu dengan terbentuknya wadah pengembangan bagi orangtua seperti dirinya.

“Anak saya masih tujuh tahun. Saya belum tahu bagaimana terapi terbaik yang harus saya lakukan untuk anak saya. Lewat organisasi yang baru ini saya berharap bisa memberi yang terbaik untuk anak saya,” harap Aris. [Yanti]

The subscriber's email address.