Lompat ke isi utama
Anak-anak di dalam mobil bersama para orang tuanya

Generalisasi Jiemi Ardian tentang PAUD bagi Anak di Usia Dini

Solider.or.id, Surakarta- Jiemi Ardian, seorang dokter residen piskiatri di RSJ Dr. Arif Zainudin, Surakarta, berhasil membuat melongo warganet degan pernyataan kontroversialnya. Ia bilang seorang anak tidak butuh bisa menggambar, membaca dan menulis serta berhitung di usia dini.

Buat apa punya anak bisa baca tulis dan menggambar di usia dini tapi jiwanya terganggu? Buat kasih makan ego orangtua untuk bangga sama anak dengan cara yang salah?,” kritik Jiemi.

Tak hanya kritik, Jiemi Ardian bahkan juga mencantumkan tabel tentang perkembangan pola pikir anak menurut pemikiran atau teori seorang tokoh psikologik kognitif bernama Piaget. Piaget memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan pemikiran para pakar kognitif. Pada tabel secara jelas diperlihatkan perkembangan anak yang baru bisa berpikir konkret di usia tujuh tahun.

Menurut Piaget, perkembangan kognitif adalah suatu proses genetik yang didasarkan mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Dengan bertambah usia, maka bertambah kompleks susunan sel syarafnya, lalu meningkatlah kemampuannya.

Individu akan mengalami perkembangan secara kualitatif karena adaptasi biologis dan lingkungannya. Piaget tidak melihat perkembangan kognitif sebagai suatu yang bisa didefinisikan secara kuantitatif. Daya pikir dan kekuatan mental anak akan berbeda pula secara kualitatif.

Sebenarnya Jiemi Ardian menekankan untuk para orangtua berhenti mengikuti tren bisnis dengan menyekolahkan anak sedini mungkin. “Anak butuh orangtua mereka, bukan PAUD yang memaksa anak bisa baca tulis dan hitung (calistung),” lanjutnya. Sebetulnya, maksud Jiemi sangat mulia, memprotes PAUD yang dijadikan ladang bisnis berkedok pendidikan.

Banyak tanggapan dari warganet, termasuk salah seorang pendidik, yang mengatakan bahwa dirinya hanya menerima honor 50 ribu per bulan dan sesungguhnya PAUD tempat dia mengajar bukan sebagai lembaga bisnis yang menguntungkan.

Seorang warganet lain berkomentar, “Saya rasa menyekolahkan anak ke PAUD juga perlu, supaya anak bisa berinteraksi dengan teman-teman sebaya mereka (selain teman-teman tetangganya) dan yang paling penting orangtua harus bisa memilih PAUD yang tepat. PAUD yang mengajak anak belajar sambil bermain,” tulis akun dengan nama Danik.

Pentingnya menjaga perkembangan anak di usia emas (0-6 tahun) memiliki berbagai alasan-alasan. Mengutip Sigmund Freud seorang tokoh psikologi, penekanan pentingnya mendidik anak yang benar karena berbagai perilaku manusia ketika dewasa sesungguhnya bisa dideteksi dari apa yang terjadi pada masa kanak-kanak. Oleh karena itu, kesalahan dalam mendidik anak pada masa kecil, nantinya berdampak pada munculnya berbagai perilaku menyimpang ketika dewasa.

Penelitian terakhir yang dipublikasikan, usia 4 tahun perkembangan intelektual mencapai 50 persen, 8 tahun 80 persen dan usia 18 tahun 100 persen (baca: Puji Astuti, Bergerak ke Arah Lebih Baik dengan Pendidikan Anak Usia Dini, 2009).

Prof. Dr. Edi Sedyawati dalam keIndonesiaan dalam Budaya, (Jakarta: Wedhatama Widya Sastra, 2008), menuliskan pendidikan informal tidak diikat oleh batas-batas waktu maupun tingkatan. Tujuannya adalah secara umum memberi informasi ataupun menanamkan watak, moral, serta nilai-nilai budaya atau keagamaan. Artinya bahwa para orangtua bisa berperan memberikan pendidikan untuk anak-anak mereka sendiri di usia dini.

Lalu bagaimana dengan para orangtua yang bekerja? Hal demikian bisa diambil alih dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Dalam laporan pada 2005, investasi pendidikan sejak usia dini ternyata bisa meningkatkan pendapatan (produktifitas) 13 kali lebih besar dibanding anak-anak yang tidak mendapatkan Pendidikan Anak Usia Dini. (Saiful Anam, Wajatri 2007 dalam Taman Yang Paling Indah).

Sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa anak-anak yang mengikuti program pendidikan pra-TK memiliki peluang lebih kecil untuk putus sekolah, tinggal kelas atau melahirkan di luar nikah. Pada usia 21 tahun, jumlah anak-anak peserta pra-TK yang melanjutkan ke pendidikan tinggi selama empat tahun kemungkinannya dua kali lebih besar dari pada kelompok kontrol. Lulusan Chicago’s Child-Parent Center memiliki kecenderungan lebih besar untuk menyelesaikan SMU dan lebih jarang ditahan daripada mereka yang tidak mengikuti program ini (baca: BusinessWeek 19-26 Agustus 2002).

Pendidikan Inklusi

Seiring dengan semangat inklusivitas di dunia pendidikan, kesempatan anak difabel untuk mengenyam pendidikan terbuka lebar. Tentu pendidikan yang dimaknai sebagai taman atau sanggar bermain. Pentingnya untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan para orangtua tentang difabilitas, apalagi mereka yang berada di desa, dijembatani dengan lahirnya prakarsa dari sebagian para orangtua, ditambah orang-orang yang bergerak pada kerelawanan untuk membentuk sanggar dan PAUD inklusi.

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) inklusi adalah program layanan reguler yang mengkoordinasikan dan mengintegrasikan layanan PAUD reguler dan layanan anak berkebutuhan khusus dalam program yang sama.

Mengapa PAUD inklusi sangat penting? Sebab pada tahap PAUD akan menjadi pondasi kuat untuk tahapan pendidikan selanjutnya. Di PAUD inklusi dan kebanyakan tempat mereka belajar dan bermain menjadi satu dengan sanggar inklusi, maka akan dengan mudah dilakukan deteksi dini dan intervensi dini kepada anak-anak berkebutuhan khusus yang masih membutuhkan terapi.

Biasanya PAUD inklusi bekerja sama dengan puskesmas setempat untuk pemeriksaan rutin dan pemberian terapi. Semakin awal stimulasi positif diberikan maka akan bisa tercapai hasil optimal dalam perkembangan. Dan semakin dini diberikan pendidikan karakter, mengenal keberagaman (multikultur) maka akan semakin baik karakter anak yang dihasilkan.

PAUD inklusi menjadi wadah pertama anak-anak difabel mendapatkan pengalaman hidup,dan kenyataan yang ada di masyarakat. Mereka diajarkan untuk bersosialisasi dan tidak hanya dikurung di rumah saja. PAUD menjadi tempat belajar yang menyenangkan, yang di situ para relawan biasanya bekerja.

Tak hanya anak-anak, para orangtua juga dibekali dengan ilmu dan praktik terapi sehingga mereka bisa melakukan sendiri saat di rumah. Bagi anak-anak yang tidak memiliki kebutuhan khusus, PAUD inklusi bisa mengembangkan kecerdasan emosional dan berkembangnya rasa simpati, empati serta solidaritas. Anak-anak itu sadar bahwa setiap individu itu unik. Sedangkan bagi sekolah dan guru, manfaatnya adalah dengan adanya kemampuan merespon kebutuhan pembelajaran yang berbeda.

Beberapa PAUD inklusi telah berdiri sejak empat tahun terakhir seperti PAUD dan Sanggar Inklusi Tunas Bangsa di Kecamatan Nguter. Selain itu juga ada PAUD dan Sanggar Smile di Desa Grogol Kecamatan Weru, keduanya di Sukoharjo. Setahun belakangan juga lahir Sanggar Inklusi Permata Hati di Kecamatan Polokarto dan sanggar inklusi di Kecamatan Tawangsari. Dua sanggar inklusi di Kabupaten Boyolali di antaranya adalah PAUD Tersenyum di Kecamatan Musuk dan Sanggar Inklusi Bintang Mandiri di Kecamatan Sawit.

Sebetulnya niat Jiemi Ardian sangatlah mulia. Tapi, ia lupa berbagai pertimbangan lainnya dari pentingnya pendidikan bagi anak di usia dini. Di luar peran orangtua yang sibuk bekerja, PAUD sangat dibutuhkan. Salah satunya PAUD Inklusi. [Puji Astuti]

The subscriber's email address.