Lompat ke isi utama
penampakan gudingblock yang tidak aksesibel

Advokasi Aksesibilitas Melalui Media Sosial

Solider.or.id, Malang - Viral foto trotoar di Mojokerto yang bisa membahayakan difabel menjadi trending topik di media sosial dan pemberitaan di media online. Betapa tidak, ujung dari guiding block yang ada pada trotoar tersebut berakhir di sungai. Empat hal penting dalam kasus ini: bahaya bagi difabel netra maupun masyarakat lain, melanggar Permen PU Nomor 30 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan, pemborosan anggaran pembangunan dan indikasi korupsi serta teknis advokasi aksesibilitas.

Pengunggah foto pertama kali, melalui akun facebook milik ‘’’’Valen Tino saat dihubungi (7/1) mengatakan foto ia ambil 5 Januari pkl. 15:02 di lokasi Jalan Gajah Mada, Gedongan, Magersari, Mojokerto.

Tujuan mengunggah foto di media sosial untuk memberitahukan agar pengguna jalan khususnya difabel netra berhati-hati melewati jalan tersebut.

"Bukan hanya bahaya bagi difabel netra, bagi nondifabel yang jalan sambil mainan HP bisa masuk sungai," ucap Tino panggilan akrabnya.

Ia juga berharap agar trotoar segera diperbaiki dan diberi pagar. Sudah seharusnya, kata Tino masyarakat ikut mengawasi fasilitas umum yang dibuat pemerintah, bila ada kekurangan wajib saling mengingatkan.

Pembangunan fasilitas umum sudah seharusnya berpedoman pada peraturan menteri pekerjaan umum. Standarnya terdapat ubin jalan atau tanda difabel netra berjalan terus dan ada ubin peringatan pada belokan, simpang maupun pemberhentian. Guiding block juga harus berwarna menyolok kuning atau orange. Namun yang ada jalur pendestrian tersebut tidak sesuai dengan standar aksesibilitas.

Berikutnya adalah pemborosan anggaran karena pembangunan tidak tepat fungsi. Anggaran yang dialokasikan sia-sia sehingga merugikan negara. Catatan lainnya jika benar trotoar didesain untuk ramah difabel namun prakteknya sangat tidak aksesibel yang tidak diharapkan adalah adanya indikasi korupsi.

Waspadai trend pencitraan ramah difabel

Forum Malang Inklusi (FOMI) mendata sejumlah fasilitas umum di Malang menunjukkan belum ada satupun fasilitas umum yang sesuai dengan standar aksesibilitas. Namun ketika googling akan ditemui beberapa fasilitas yang disebutkan ramah difabel. Realitas ini bisa disebut bagian dari pencitraan.

Politik pencitraan merupakan upaya untuk menggambarkan seseorang, tokoh, pejabat, pemerintahan, organisasi, parpol dan lainnya sebagai hal yang baik atau buruk. Politik pencitraan positif diupayakan untuk mengangkat elektibilitas diri dan golongannya, sedangkan pencitraan negatif untuk menjatuhkan musuh/lawannya.

Politik pencitraan biasa digunakan/dimanfaatkan untuk memunculkan tokoh yang diinginkan suatu golongan ataupun untuk mengangkat derajat dan kepangkatan dalam ranah sosial, profesi, militer maupun dalam jabatan sipil juga citra suatu tempat.

Seperti jalan Ijen Malang yang dikampanyekan ramah difabel dalam prakteknya masih banyak yang harus diperbaiki. Belum ada ubin peringatan, guiding block belum dicat, serta jalur pemandu yang terputus oleh pohon dan tiang listrik tanpa ubin peringatan sehingga difabel netra riskan untuk menabrak.

"Kami masih kesulitan melintasi jalur ini," ungkap pengguna jalan, Sisca Budiyanti, beberapa bulan lalu di Jalan Ijen saat peringatan hari tuli sedunia. Lantai trotoar banyak yang pecah, juga ramp terlalu curam. Kalau ke Ijen sendiri tanpa pendamping pasti tidak mampu melewati ramp, imbuh perempuan pengguna kursi roda ini bersama rekannya. Keluhan serupa juga disampaikan guru privat Braille, difabel netra Adi Gunawan yang pernah menabrak tiang listrik sehingga ditertawakan pengguna jalan lainnya.

Khususnya di Kota Malang hal serupa terdapat pula di pendestrian Jalan Kawi, trotoar di sekitar kantor Walikota dan DPRD Kota Malang. Sementara di Kota Batu dapat ditemukan di Jalan Panglima Sudirman dan Jalan Brantas. Trotoar didesain mirip jalur pemandu namun tidak sesuai dengan standart aksesibilitas. Secara umum, pendestrian di Malang Raya belum mendukung keamanan, kenyamanan dan kemandirian difabel, tiga faktor penting agar suatu fasilitas layak disebut ramah difabel.

Kasus jalur pendestrian dengan kesan ramah difabel namun pada kenyataannya jauh dari aksesibilitas tak hanya terjadi di Mojokerto dan Malang saja, melainkan di banyak tempat pada kota-kota lainnya di Indonesia. Masyarakat bisa mengecek melalui internet tempat- tempat tertentu yang dikampanyekan ramah difabel untuk kemudian melakukan pencocokan dengan standar aksesibilitas yang berlaku. Audit sosial semacam ini penting dilakukan sebagai warga negara yang baik dalam perannya sebagai fungsi kontrol.

Manfaatkan media sosial untuk mendukung advokasi aksesibilitas

Setidaknya terdapat tiga alternatif yang bisa dilakukan masyarakat ketika menemukan layanan publik yang tidak sesuai standar sehingga menimbulkan bahaya dan kerugian pada masyarakat. Yaitu melakukan koordinasi langsung dengan pihak terkait atau melapor secara online melalui pesan singkat ke nomer 1708.

Pertama, koordinasi langsung dengan pihak terkait, misal Dinas Pekerjaan Umum untuk soal trotoar, Dinas Pendidikan untuk urusan sekolah dan lainnya. Pola ini biasanya agak rumit dan berbelit karena urusan birokrasi.

Kedua, melapor secara online yaitu melalui pesan singkat berisi aduan ke nomor 1708. Adalah sebuah sistem pengaduan berskala nasional "LAPOR" (Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat) diluncurkan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta sejak Maret 2016 lalu. Masyarakat boleh melaporkan apapun.

Sistem ini dikelola oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN RB) bekerjasama dengan Staf Kepresidenan dan Ombudsman Republik Indonesia. Proses aduan, admin di Kemen PAN RB yang bertugas memantau akan meneruskan ke lembaga/ kementerian/ birokrasi yang diadukan sesuai standar pengawasan. Namun seperti halnya birokrasi offline penanganan kasus ini juga perlu antri mengingat banyaknya pelapor hingga 500 per hari. Proses penanganan aduan bisa diakses melalui https://lapor.go.id/

Alternatif ketiga adalah berbagi ke media sosial. Jika trend pencitraan biasa dilakukan di media sosial maka masyarakat bisa kembali menanggapinya dengan media yang sama. Dengan catatan publikasi menggunakan bahasa yang baik disertai data-data akurat, tidak menfitnah, bukan ujaran kebencian, pelecehan dan lainnya.

Belajar dari pengalaman, ketika tujuh tahun yang lalu saya membantu anak-anak, orang sakit dan difabel terlantar di sebuah dusun tertinggal di Sumatera Selatan. Tidak mudah bagi rakyat jelata untuk menemui pejabat selevel kepala dinas, maka solusinya menginformasikan ke publik situasi dan kondisi yang terjadi melalui saluran komunikasi yang sah, diantaranya media sosial.

Hasilnya tidak menunggu hitungan bulan postingan di medsos tersebut menginspirasi pergerakan relawan mahasiswa dan lintas organisasi untuk membantu serta membuat dinas kesehatan mengadakan kunjungan pengobatan gratis untuk warga setiap bulannya.

Kasus lainnya belum lama, Juni 2016 menanggapi laporan masyarakat ke Lingkar Sosial tentang ketidaktersediaan obat kusta dari beberapa daerah, setelah menghubungi pihak terkait tanpa hasil solusinya adalah media sosial.

Kita juga perlu belajar dari kisah-kisah keberhasilan perjuangan melalui media sosial. Seperti perjuangan Prita Mulyasari tahun 2012 yang akhirnya memperoleh keadilan atas mal praktek rumah sakit yang ia alami. Kasus bullying mahasiswa ABK Universitas Gunadharma pada bulan Juli 2017 serta yang paling anyar kemenangan gugatan difabel Dwi Aryani terhadap maskapai Etihad Airways, Desember 2017. Dwi seorang penyandang disabilitas, diturunkan maskapai itu karena terbang tanpa pendamping dan dianggap tidak bisa menyelamatkan diri bila terjadi kecelakaan. Kasus ini juga sangat viral sehingga menjadi tekanan tersendiri bagi para penegak hukum.

Kembali pada kasus trotoar yang berbahaya bagi difabel di Mojokerto, di Malang dan kota-kota lainnya. Harapannya segera direnovasi oleh pemerintah dan pada pembangunan selanjutnya benar-benar sesuai dengan standar aksesibilitas yang berlaku. (Ken)

The subscriber's email address.