Lompat ke isi utama
Petugas TGA Shelter Bandara, Agus Budi Prasetyo, SH, dalam penjelasannya terkait penolakan penumpang difabel

Penjelasan Petugas Shelter Trans Jogja atas Penolakan Penumpang Difabel

Solider.or.id, Yogyakarta. Kabar penumpang difabel berseragam sekolah yang ditolak petugas shelter Trans Jogja pada Rabu (3/1), ramai menjadi perbincangan publik (viral). Kabar tersebut bermula ketika  pemilik akun twitter @prasnug, Prasetyo Nugroho mengunggah sebuah foto anak difabel yang sedang duduk di kursi roda, mengenakan kemeja putih, celana panjang hijau tua.

Di dalam konten, anak tersebut sambil membawa sebuah boneka, di belakangnya duduk seorang perempuan dengan mengenakan baju merah muda di sebuah shleter bus Trans Jogja (TJ). Akun twitter Prasetyo menjelaskan bahwa shelter yang dimaksud ialah sebuah shelter bus Trans Jogja yang berada di areal Bandar Udara (Bandara) Adi Sucipto, Yogyakarta.

Pada jumat (5/1) Solider mendatangi shelter Trans Jogja yang berada di area bandara tersebut. Seorang petugas Trans Jogja Gate Access (TGA) bernama Agus Budi Prasetyo, SH, berhasil ditemui Solider. Agus merupakan petugas shelter bandara yang bertugas pada saat terjadinya kasus penolakan, sebagaimana dalam konten yang diunggah akun milik Prasetyo Nugroho.

Agus menjelaskan, ia tidak menolak penumpang tersebut. Melainkan menyarankan agar menunggu bus berikutnya yang akan tiba dua belas menit kemudian. Hal tersebut mengingat bus Trans Jogja dengan nomor 116 telah dipenuhi penumpang dan barang sejak dari shelter Prambanan.

“Saya tidak menolak. Kami tidak mungkin menolak siapapun mereka. Tetapi, karena kondisi bus yang penuh saya menyarankan untuk menunggu bus berikutnya,” ungkap Agus.

Dia juga menjelaskan bahwa yang bersangkutan pada akhirnya naik dengan jalur bus berikutnya, yaitu dengan bus TJ nomor 117. “Sebelum bus ketiga mereka sudah terangkut. Jadi tidak ada penolakan dari kami para petugas shelter bandara,” tandasnya.

Agus menjelaskan bahwa perempuan yang bersama difabel itu adalah neneknya. Ia sudah sering melihat mereka, perempuan itu sering momong cucunya di sekitaran bandara. Ia menceritakan mereka biasa turun dari Trans Jogja dari jalur satu ke jalur lainnya. Neneknya akan mengikuti kemauan sang cucu jalan-jalan di areal parkir, melihat pesawat, kadang-kadang hanya duduk-duduk di bangku areal luar atau dalam shelter. Setelah berjam-jam, bisa sampai tiga jam, lantas akan naik TJ lagi.

Menurut Agus, nenek dan cucunya itu sudah tiga tahunan sering mengakses bus TJ. Sayangnya, ia tidak mengetahui identitas lengkap mereka. “Maaf, saya tidak pernah bertanya siapa namanya, dan dari mana asalnya, meski mereka seringkali berada di shelter ini.”

Fungsi ruangan bagi Difabel di dalam Trans Jogja

Terkait pernyataan bus yang sudah penuh, sementara setiap bus sudah ada ruang bagi difabel dan tidak boleh diisi oleh non difabel, Agus menanggapi bahwa, toleransi penumpang Trans Jogja sangat kurang. Meski sosialisasi terkait ruang bagi difabel sudah dilakukan, penumpang non difabel seringkali tidak peduli. Sikap tidak peduli tersebut yang seringkali merepotkan bagi petugas. Terlebih para penumpang kerap kali meletakkan barang bawaan di ruang bagi difabel.

Agus mengaku sudah mendapatkan penyuluhan terkait bagaimana ketika bertugas, bersikap terhadap penumpang, baik itu kelompok rentan maupun penumpang pada umumnya. Terkait teguran dari petugas kepada penumpang yang menggunakan ruang bagi difabel, ia mengaku sudah sering melakukannya. “Tetapi karakter penumpang TJ, lagi-lagi banyak yang tidak peduli,” urainya.

Agus melanjutkan, sebagai petugas memang harus bertindak tegas menegur dan mengingatkan para penumpang yang tidak berhak atas ruang yang dikhususkan bagi penumpang difabel. Saat ini ruang bagi difabel hanya ditandai dengan gambar kursi roda sebagai simbol difabel. Ia berharap kedepan ada penambahan informasi berupa tulisan “Khusus Penumpang Difabel” pada ruang tersebut.

Selain itu tindakan tegas berupa pemberlakukan denda bagi penumpang yang menyerobot ruang difabel, mungkin diberlakukan untuk mempertegas hal tersebut. Jika akan diberlakukan, dibutuhkan ketentuan berupa kebijakan yang dikeluarkan oleh Kantor Dinas Perhubungan, khusus pihak UPT Trans Jogja.

Pada kesempatan tersebut sebagai seorang petugas GTA TJ yang sudah sembilan tahun bertugas, Agus menghimbau kepada seluruh pengguna TJ untuk saling menyadari kepentingan bersama, secara sadar.

“Mari dahulukan kepentingan penumpang yang lebih berhak, saling menghormati. Terlebih bagi mereka para penumpang lansia, difabel, ibu hamil, serta anak-anak,” demikian harapan dan imbauannya. [Harta Nining Wijaya]

The subscriber's email address.