Lompat ke isi utama
Seorang anak sedang tampil menmyanyi di atas panggung deklarasi Kampung pelangi

Deklarasi Kampung Mbrintik: Kampung Ramah Anak, Perempuan dan Difabel

Solider.or.id, Semarang. Deklarasi kampung ramah anak menjadi kegiatan yang berkelanjutan dengan pastisipasi penuh dari perempuan, anak dan difabel di Kampung Mbrintik atau kini disebut sebagai Kampung Pelangi. Hal tersebut dikatakan Eko Rustanto perwakilan dari Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (KJHAM) dalam acara deklarasi Kampung Pelangi, Semarang (23/12).

Eko, bersama Forkom Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Forkom Puspa) dan Jaringan Perlindungan Anak tingkat kelurahan dan kecamatan, menjadikan Kampung Pelangi sebagai percontohan bagi wilayah atau daerah lain.

Deklarasi bertujuan agar masyarakat mengetahui Kampung Pelangi sebagai kampung rintisan ramah anak yang bisa jadi percontohan di Jawa Tengah. Di mana di dalamnya terdapat akses kemudahan layanan dasar pendidikan, kesehatan, sanitasi lingkungan dan juga akan disiapkan sebagai kampung siaga bencana.

Eko menjelaskan, Kampung Pelangi juga digadang-gadang ramah terhadap difabel. Pasalnya, mengingat kondisi lingkungan yang berbukit dan sempit, Kampung Pelangi membuat jalur khusus yang bisa diakses difabel. Ia berharap kedepan, muncul generasi-generasi anak yang menghargai perbedaan, dari kampung yang semula terpinggirkan ini.

“Awalnya, Kampung Pelangi terkenal sebagai kampung yang sebagian warga perempuan dan anak-anaknya paling rentan eksploitasi,” tutur Eko, yang juga panitia penyelenggara deklarasi.

Setiap kegiatan yang diberikan untuk mengajarkan dan mengajak masyarakat di Kampung Pelangi lebih berani dan lebih ekspresif. Hal itu dilakukan melalui berbagai aktifitas seperti pelatihan jurnalis, teater, komedi, bermusik dan menjadi MC.

Kampung Pelangi terletak di lereng bukit Brintik atau lebih dikenal dengan sebutan mBrintik, sebelah barat komplek pemakaman umum Bergota, Semarang. Dengan adanya program kampung tematik dengan menyesuaikan warna sebagai ikon menjadi daya tarik tersendiri. Dari sana Kampung Brintik mempersolek diri dengan warna-warni pelangi.

Sementara bagi Harti, salah satu guru Sekolah Dasar (SD) gunung Brintik yang ikut hadir mendampingi siswa-siswinya merasa sangat bangga. Baginya, melihat kondisi anak-anak yang mayoritas siswanya terkenal dengan anak-anak jalanan, gelandangan dan anak-anak yang tinggal merupakan pengalaman yang luar biasa.

“Dengan kegiatan seperti ini mengajari mereka belajar saling menyayangi, saling memaafkan. Belajar berbagi,” tutur Harti. [Yanti]

The subscriber's email address.