Lompat ke isi utama
Dua pemateri sedang mendengarkan pertanyaan dari salah satu audien peserta diskusi publik menuju perguruan tinggi inklusi

7 Poin Tuntutan Deklarasi Koalisi Garda Inklusi menuju Pendidikan Inklusi di Perguruan Tinggi

Solider.or.id, Yogyakarta- Koalisi Garda Inklusi menggelar diskusi publik yang bertemakan Peran Mahasiswa Difabel dalam Mewujudkan Pendidikan Inklusi. Acara yang dihelat di gedung perpustakaan Sekolah Vokasi UGM, disambung dengan pembacaan teks deklarasi realisasi pendidikan tinggi inklusi (22/12).

Poin-poin yang disusun dalam deklarasi meliputi:

  1. Menjamin partisipasi dan kesamaan akses bagi difabel dalam mengakses pendidikan di perguruan tinggi
  2. Menjamin terlaksananya penyelenggaraan pendidikan tinggi inklusi yang ditunjang kerjasama yang sinergis dan produktif di antara para stakeholders, terutama pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat dan institusi terkait
  3. menciptakan lingkunggan perguruan tinggi yang mendukung bagi pemenuhan hak civitas akademika difabel, sehingga civitas akademika difabel dapat mengembangkan minat dan bakatnya sesuai dengan potensinya
  4. Menumbuhkan kultur yang inklusif dalam kehidupan dilingkungan  perguruan tinggi, sehingga dapat tercipta suasana yang saling menghormati, saling menghargai dan menjunjung tinggi toleransi
  5. Memastikan adanya aksesibilitas fisik dan kebijakan yang bertujuan untuk meminimalisasi atau menghilangkan hambatan kelompok difabel dalam mengakses pendidikan di perguruan tinggi
  6. Mempromosikan dan mensosialisasikan pendidikan tinggi inklusi melalui forum-forum ilmiah dan kegiatan-kegiatan yang bersifat akademik mau pun non akademik secara berkesinambungan
  7. Mendorong dan memastikan keterlibatan mahasiswa non difabel dalam mewujudkan lingkungan pendidikan tinggi yang inklusif.

Tujuh poin tersebut merupakan tuntutan kepada berbagai pihak di dalam perguruan tinggi untuk mengimplementasikan pendidikan inklusi. Abdullah Fikri menyampaikan bahwa deklarasi yang dibacakan bagian dari wujud komitmen bersama dari empat institusi. “Yakni PLD UIN SuKa, KAHAM UII, UKM Peduli UGM dan Sahabat Disabilitas UNY,” tutur ketua panitia pelaksana kegiatan ini.

Nur Ridwan salah satu pemateri sekaligus mantan relawan Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga. Tidak hanya mahasiswa yang turut serta menjadi relawan di PLD, tetapi semua pihak harus terlibat dalam merealisasikan pendidikan inklusi di perguruan tinggi. “Kita tidak hanya mengandalkan konsep kerelawanan saja. Tapi isu pendidikan inklusi ini harus menjadi isu bersama,” tambahnya.

Selain diskusi dan pembacaan deklarasi, acara tersebut juga menjadi momentum dibentuknya Koalisi Garda Inklusi. Fikri mengatakan, terbentuknya Koalisi Garda Inklusi ini didasari adanya keinginan agar para pegiat isu pendidikan inklusi di empat universitas yang tergabung, dapat berkolaborasi dalam memperjuangkan terwujudnya pendidikan inklusi.

“Sebetulnya ini ide spontan saja dari saya, yang kemudian direspon cukup baik oleh teman-teman dari universitas yang lain,” ungkap Fikri usai acara.

Fikri menambahkan, selain Garda Inklusi yang mencakup gerakan mahasiswa, di kalangan dosen juga sudah membuat kolaborasi antara lima universitas yang tergabung di dalam program INDOEDU4CALL dengan universitas Alicante, Spanyol. Program tersebut dalam rangka mengawal implementasi pendidikan inklusi. [Tio Tegar Wicaksono]

The subscriber's email address.