Lompat ke isi utama
10 atlet sedang menggenggam piagam penghargaan karena berhasil mendaki gunung Sesean

10 Atlet Difabel Mendapat Penghargaan Setelah Berhasil Mendaki Gunung Sesean

Solider.or.id, Makassar. Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sulawesi Selatan turut memberikan penghargaan kepada 10 atlet difabel usai berhasil mendaki gunung Sesean, Toraja Utara pada 2-3 Desember 2017 kemarin.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Kepala Dispora Sulsel Sri Endang kepada 10 difabel dalam acara diskusi publik bertema Refleksi Akhir Tahun Difabel Berhadapan dengan Hukum di Aula Panti Sosial Bina Daksa (PSBD) Wirajaya, Makassar, Rabu (20/12).

Penghargaan atas prestasi ini merupakan yang kedua. Sebelumnya Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulawesi Selatan Inspektur Jenderal Polisi Umar Septono pada 5 Desember, dua hari usai pendakian juga memberikan penghargaan kepada para pendaki.

Adapun 10 difabel yang mendapat penghargaan itu yakni tiga di antaranya difabel netra bernama Adil R, Abdul Rahman dan Arifin Amir. Enam difabel kinetik bernama Eko Peruge, Agus Salim, Faluphy Muhmud, Sukirman, Ariandy, Syawal dan satu difabel intelektual  atau down syndrom, bernama Jasri.

Kadispora Sulsel, Sri Endang mengatakan piagam diberikan sebagai wujud penghargaan atas kemampuan para pendaki dalam menunjukan kemampuan seorang difabel yang juga bisa melakukan kegiatan yang dilakukan pada umumnya. "Ini tak seberapa. Tapi sebagai motivasi dan pemicu bagi difabel lainnya untuk mengekspresikan diri," ujarnya.

Pada 3 Desember 2017 bertepatan dengan HDI, Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PERDIK) SulSel menginisiasi ekspedisi difabel untuk kedua kalinya. Ekspedisi tersebut melibatkan 10 difabel yang akan turut serta dalam pendakian gunung Sesean, Toraja Utara. Rangkaian perjalanan mereka merupakan wujud untuk untuk merayakan HDI.

Sementara itu, Ishaq Salim ketua PERDIK mengatakan, ekspedisi pendakian ini tidak bermaksud sesederhana hanya untuk membuktikan bahwa difabel juga bisa mendaki gunung. Namun lebih dari itu, PERDIK ingin menunjukkan kebersamaan dalam proses selama mendaki, tanpa ada sekat pandangan terkait perbedaan kondisi tubuh.

“Hal itu sangat mungkin dilakukan dan PERDIK membuktikannya. Sudah seharusnya menjadi kekuatan kita, atau modal sosial untuk bersama-sama mengatasi upaya pelabelan negatif atau pemisahan atau diskriminasi hanya karena berdasarkan perbedaan tubuh,” tuturnya. [Nur Syarif Ramadhan]

The subscriber's email address.