Lompat ke isi utama
Cover film Wonder, Auggie sedang mengenakan helm astronot didampingi kedua orang tuanya. (Kredit gambar: Google)

Film Wonder: Berhentilah Menstigma Odalangka

Solider.or.id, Solo. “Kamu tidak buruk, dan siapa pun yang peduli untuk mengenalmu akan mengetahui itu” (Film Wonder).

Kutipan di atas merupakan nukilan dari dialog di film Wonder. Tepatnya, kalimat tersebut dikatakan Isabel, seorang ibu yang menyadari bahwa tidak semestinya orang dengan mudah menstigma orang lain dengan kecacatan.

Kalimat itu, adalah jawaban untuk Auggie, anaknya, ketika melemparkan pertanyaan mengapa dia memiliki wajah yang buruk, cacat? Isabel menjawab dengan bijaksana bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak memiliki cacat di wajahnya. Isabel sadar itu, ketika ia mengetahui, cermin di hadapannya menunjukkan kerut-kerut wajahnya yang setiap tahun terus bertambah.

Tentu, itu adalah kombinasi satire yang pas dari Isabel untuk orang-orang yang dengan mudahnya menstigma Auggie, anaknya yang memiliki kondisi berbeda dari bentuk fisik orang pada umumnya. Kita menyebut mereka Orang dengan Kondisi Langka (Odalangka), sebutan lain bagi orang dengan Rare Disorders. August Pullman atau dipanggil Auggie, anak kedua dari pasangan Nate Pullman dan Isabel Pullman yang diperankan dengan sangat apik oleh Julia Robert di film yang diadaptasi dari novel karya R. J. Palacio. Sebuah drama keluarga yang berusaha keluar dari stigma negatif lingkungan sosialnya.

Menonton film Wonder dalam beberapa menit berjalan, akan dihadapkan pada sederet pemahaman-pemahaman negatif yang dilekatkan kepada odalangka. Dimulai dari dialog-dialog yang dihadirkan Auggie ketika berkomunikasi dengan keluarga, sampai di lingkungan sekolah yang baru dimasukinya.

Ia harus mulai melepas helm astronot yang biasa ia gunakan untuk menutup wajahnya itu ketika dilepaskan oleh ayahnya di hari pertama masuk sekolah. Hari-hari yang mendebarkan baginya. Adegan yang memberikan pesan bahwa begitulah semestinya orang tua berperan. Orang-orang di luar memang harus terbiasa menghargai dan menghormati suatu perbedaan.

Di umurnya yang baru menginjak 10 tahun, ia sudah harus melakukan 27 operasi bedah. Bisa dilihat dari gelang penanda identitas rumah sakit yang ia koleksi.

Auggie, paham akan hal yang dilakukan ayahnya. Orang-orang harus terbiasa dengan wajah bekas operasi, wajah tanpa tulang pipi, deretan gigi kelinci dan dua daun telinga yang tertelangkup ke depan (Dikenal dengan Treacher Collins Syndrome atau TCS), bukanlah sesuatu hal yang buruk atau bahkan cacat.

Beberapa adegan satire lain, ketika Auggie mengikuti proses belajar di kelas. Seperti, Auggie yang selalu bisa menjawab pertanyaan guru saat di kelas. Ia juga menjadi murid pintar di kelas science, yang semakin tidak disukai oleh Julian dan kawan-kawannya. Ia yang memberikan contekan ujian. Itu semua adalah akumulasi yang menunjukkan bahwa memang ada sesuatu hal yang berbeda yang ingin ditunjukkan, bahwa Auggie ternyata lebih pintar dari teman-temannya.

Meski begitu, Auggie tetap tidak kuat mendapat godaman perundungan dari teman-temannya. Stigma negatif yang dilabelkan kepada orang-orang seperti Auggie nampaknya benra-benar mengakar di dalam kehidupan sosial. Bahkan, Auggie dianggap membawa wabah penyakit.

Ada sebuah adegan di mana sang penulis novel nampaknya ingin menekankan pemahaman dari mana sesungguhnya kecacatan itu berasal. Hal itu dilakukan pada sebuah dialog tanya jawab.

Jack Will, teman Auggie bertanya, “Kenapa tidak berpikir untuk melakukan bedah plastik?”.

"Ini adalah hasil bedah plastik," jawab Auggie.

Di satu sisi, Auggie beruntung memiliki orang tua yang dapat memahami kondisinya. Memberikan kasih sayang sebagai mana orang tua kepada anaknya. Selain itu, ia juga mendapat dukungan dari Mr. Thusman, kepala sekolah Beecher Prep yang sejak awal memberi apresiasi baik.

“Kita tidak bisa mengubah mindsett Auggie, tetapi kitalah yang harus mengubah,” kata Mr. Thusman, suatu kali di sekolah.

Dukungan dari lingkungan merupakan poin pokok untuk mengubah stigma negatif. Sebagaimana diterangkan Yola Tsagia, Ketua Indonesia Rare Disorders (IRD) di sebuah acara talkshow pada 4 Desember lalu, satu hari setelah Hari Difabel Internasional (HDI). Yola-sapaan akrabnya berbagi pengalaman dan pengetahuan bagaimana peran orang tua serta lingkungan memperlakukan odalangka.

Pengalaman dan pengetahuan yang ia dapatkan selama mendampingi Odilia, anaknya yang baru berusia 9 tahun. Odilia, sebagaimana Auggie, mengalami Treacher Collins Syndrome (TCS).

Menurut Yola, ada beberapa peran yang harus dilakukan orang tua, seperti menunjukkan rasa kasih sayang, memupuk rasa percaya diri pada pada anak, menggali potensi yang dimiliki, memberi kesempatan pada anak melalui kegiatan yang bermanfaat dan tidak pernah membedakan perlakuan dengan saudara lain.

Sebagaimana ditunjukkan pula oleh kedua orang tua Auggie dalam film yang disutradarai Stephen Chbosky ini. Wonder memberikan gambaran bahwa stigma yang masih melekat menjadi bukti bahwa masih dibutuhkan peran masyarakat.

Khususnya di dalam dunia pendidikan, guru dan kepala sekolah untuk terus memberi edukasi dan sosialisasi tentang keberagaman, perbedaan yang ada di antara mereka. Butuh perjuangan panjang, untuk anak-anak difabel, odalangka, agar bisa mengenyam bangku sekolah dan diterima di tengah-tengah mereka.

 

Judul film: Wonder | Pemain: Jacob Tremblay, Julia Roberts, Owen Wilson, Bryce Gheisar, Izabel Vidovic | Tahun rilis : 7 Desember 2017 (Indonesia), 17 November 2017 (USA) | Sutradara : Stephen Chbosky | Durasi : 1 Jam 53 menit | Negara Asal : USA | Peresensi: Puji Astuti.

The subscriber's email address.