Lompat ke isi utama
suasana peringatan hari HAM di Surakarta

Bau Cat Ramp Menyengat Dikritisi, Aksesibilitas Belum Jadi Program Nasional

Solider.or.id, Surakarta- Ada cerita menarik terjadi ketika seminar nasional perayaan Hari HAM 2017 diselenggarakan di Auditorium Universitas Sebekas Maret pada 7 Desember silam. Prof. DR. Enny Nurbaningsih, SH., M.Hum Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional (KBPH) yang tengah memberikan materi seminar menyinggung implementasi Undang-Undang nomor 8 Tahun 2016, tiba-tiba dia mengatakan bahwa saat memasuki gedung audituorium, dirinya membaui cat yang masih baru dan menyengat yang ada di ramp/plengsengan. Menurutnya, hal ini pasti dadakan diadakan oleh penyelenggara.

“Ini menandakan bahwa aksesibilitas belum menjadi program nasional. Implementasi Undang-undang nomor 8 tahun 2016, terutama terkait pemenuhan aksesibilitas belum memasuki ranah kebijakan di perguruan tinggi,”jelasnya di hadapan 750 peserta terdiri dari unsur perguruan tinggi, mahasiswa dan komunitas difabel.

Enny Nurbaningsih juga mengatakan jika melihat Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 bahwa “Indonesia Mandiri, Maju, Adil, Berakhlak Mulia, Bermoral, Beretika dan Berbudaya”dan menilik tiga tahun Nawacita, Kementerian Hukum dan HAM melihat bahwa hampir sarana dan pra sarana yang aksesibel tidak tersediakan di fasilitas umum seperti stasiun, terminal dan utamanya di perguruan tinggi. Menurutnya selama ini persepsi dan mainstreaming belum terbangun dengan baik.

Percepatan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016, membutuhkan banyak Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP), karena selama ini program terkesan masih “Charity-Base” karena merujuk kepada Undang-Undang nomo 97 Tahun 1997. “RAN HAM 2015 serta Perpres no.75 tahun 2015 simultan dengan SDGis. Ini menyangkut tentang jangkauan transportasi umum dan ruang publik yang akses,” terang Enny Nurbaningsih.

Di tempat yang sama dalam sesi tanya jawab, Aprilian Bima menanyakan tentang bagaimana upaya pemerintah agar menyediakan program bilingual untuk sekolah-sekolah luar biasa maupun sekolah reguler yang didalamnya ada Tuli bersekolah. Hal ini menyangkut akses Tuli yang tidak bisa mengerjakan tes-tes yang diperlukan saat memasuki perguruan tinggi. Menurut Bima, akses untuk pemyediaan penerjemah bahasa isyarat pun diperlukan saat Tuli memasuki perguruan tinggi.

Wahyu Setiawan, mahasiswa difabel netra Universitas Sebelas Maret, dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa gedung tempat perkuliahannya tidak akses karena anak-anak tangga masih sangat curam dan itu membahayakan bagi netra ketika mengakses. (Puji Astuti)

The subscriber's email address.