Lompat ke isi utama
Suasana foto bersama usai acara Peringatan Hari HAM di Auditorium UNS

Perguruan Tinggi di Solo Harus Ramah bagi Difabel

Solider.or.id, Surakarta. Kota Solo diharapkan menjadi kota yang ramah terhadap difabel, terutama dalam hal akses pendidikannya. Hal tersebut dikatakan Paulina Pannen, Staf Ahli Bidang Akademik di Kementerian Riset, Tekhnologi dan Pendidikan Tinggi saat membuka seminar memperingati Hari Hak Asasi Manusia Sedunia ke-69 di Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS), Kamis (7/12).

Ia menghimbau kepada seluruh lembaga pendidikan di Solo untuk berbenah diri dalam menyediakan akses pendidikan. Hal demikian berdasarkan belum ada sekolah atau perguruan tinggi yang fasilitasnya akses berstandar. Ia berharap segenap masyarakat perguruan tinggi, menjunjung nilai-nilai Hak Asasi Manusia (HAM).

"Berperspektif HAM, menjadi rumah belajar bagi semua, bagaimana berpendapat, berperilaku dalam mencapai keberagaman, tanpa diskriminasi dan berpedoman toleransi yang harus terus dikembangkan,” harap Paulina.

Menurut Paulina dibutuhkan biaya khusus bagi sekolah maupun perguruan tinggi untuk menyiapkan sarana dan prasarana bagi difabel. Selain itu perencanaan harus detail serta masalah pendanaan yang harus didukung. “Partisipasi masyarakat sangat diharapkan ada untuk bisa mengakses itu semua”.

Sementara itu di tempat terpisah, Muhammad Yulianto Ketua Forum Komunikasi Tuna Netra (FKTN) Surakarta mengatakan, Perguruan Tinggi masih melakukan diskriminasi terhadap difabel dengan adanya standar nilai tinggi yang disamakan antara difabel dan non-difabel. Selain itu SMA swasta, contohnya SMA Muhammadiyah 6 Surakarta, siswa difabelnya merasa kesulitan mengakses beasiswa Bidik-Misi.

“Satu lagi, selama ini difabel mental jarang bisa mengakses kuliah di perguruan tinggi,”tambahnya. [Puji Astuti]

The subscriber's email address.