Lompat ke isi utama
Peserta sedang mendengarkan kisah yang sedang diceirtakan Andy F Noya di acara Seminar.

Andy F Noya: Siapa bilang difabel tidak bisa produktif?

Solider.or.id, Jakarta. Produktivitas difabel tergantung dari terpenuhinya hak-hak dan seberapa besar dukungan terhadapnya. Pola pikir yang memandang bahwa difabel tidak memiliki daya produktivitas harus diubah karena tidak sesuai kenyataan. Hal tersebut dituturkan seorang publik figur, Andi F Noya pada acara Seminar Inklusi di Cafe FingerTalk, Pamulang Timur, Jakarta (4/12).

Andy, memahami bahwa teman-teman difabel juga bisa produktif, jika teman-teman difabel mendapat hak yang semestinya, adanya kesempatan dan dukungan dari teman-teman, pemerintah dan lingkungannya. Namun menurutnya, pola pikir masyarakat yang masih tidak percaya akan hal itu, berdampak pada psikologis teman-teman difabel, minder, tidak percaya diri, dan lain sebagainya.

Ia menceritakan pengalamannya sebelum menjadi host acara kenamaan, Kick Andy. Sewaktu masih kanak-kanak ia sering diolok-olok teman-temannya, di kampungnya. Olok-olok itu merujuk pada penampilannya yang berpostur tinggi seperti orang-orang Belanda. Karena olok-olok tersebut, ia dijauhi teman-temannya, karena menganggap Belanda merupakan musuh yang menjajah Indonesia.

“Sebenarnya salah satu dari mereka ikut membully, ternyata anak itu juga difabel yang membuat dia sempat kesal juga sama teman-teman yang membully saya,” kisah Andy.

Pengalaman lain, saat Andy bertemu seorang difabel daksa bernama Sugeng, yang bekerja sebagai loper koran. Ia sempat tidak percaya, dibalik profesi Sugeng, ternyata ada perjuangan yang tidak diketahui orang. “Ketulusan Sugeng membuat kaki palsu gratis untuk teman-teman difabel daksa, yang disalurkan lebih dari 50.000 ribu kaki palsu ke daerah-daerah tertinggal,” terangnya.

Andy berkata untuk menjamin keberlangsungan implementasi hidup layak bagi teman-teman difabel di daerah terpencil, diperlukan partisipasi masyarakat dari berbagai pihak. Terutama orangtua, organisasi, pemerintah dan para ahli, “sehingga beban penyelenggaraan dapat dijangkau dengan mudah,” tambahnya.

Ia juga bercerita tentang Irma Suriyati, seorang ibu difabel daksa karena polio yang pernah diundang di acaranya. Irma ditolak oleh beberapa perusahaan. Dari sana Irma tidak mudah putus asa untuk berkarya. Irma mulai bangkit dengan langkah pertamanya belajar menjahit dan mempelajari kain perca. Usaha Irma membuahkan hasil. Irma membuka beberapa cabang di Kebumen.

“Irma menggandeng teman-teman Irma yang juga difabel yang sekarang pegawainya mencapai seribuan,” tutur Andy, menjelaskan sosok Irma di dalam video presentasi yang ia putar di acara tersebut.

Erwin, mahasiswa UNJ juga salah satu peserta seminar, mengaku banyak belajar bagaimana menjadi orang yang lebih produktif dalam berkontribusi bersama di Indonesia. Ia merasa difabel dan non difabel tidak ada beda. Semua bisa menghasilkan sesuatu yang sama jika ada kesempatan yang sama.

“Saya juga sempat mengajar di salah satu sekolah SLB khusus Tuli, di Jakarta. Berarti sama kayak yang lain,” tandas Erwin, seorang Tuli yang sedang menggeluti dunia ilustrator. [Dina Amalia Fahima]

The subscriber's email address.