Lompat ke isi utama
Salah satu pesawat milik maskapai Etihad Airways sedang melayang di langit. (Kredit gambar/Tribun News, Banjarmasin)

Diskriminasi Maskapai Etihad Airways Terhadap Dwi Aryani

Solider.or.id, Yogyakarta. Kasus diskriminasi yang dilakukan maskapai Etihad Airways karena menurunkan paksa salah satu penumpangnya, Dwi Aryani seorang aktivis difabel.

Kasus tersebut berawal ketika Dwi-sapaan akrabnya-mendapat undangan International Disability Alliance untuk turut serta dalam pelatihan pendalaman implementasi dan pemantauan konvensi tentang hak-hak difabel. Acara tersebut berlangsung pada 4-11 April 2016 di kantor PBB, Swiss.

Namun rencana Dwi mengikuti konferensi itu terpaksa harus batal karena, ia mendapat perilaku diskriminasi dari pihak Etihad Airways yang mengantar perjalanannya menuju Swiss, pada 3 April 2016. Ia dipaksa untuk turun oleh kru maskapai saat telah berada di atas pesawat karena dianggap sakit.

Selain itu, pihak maskapai meminta Dwi agar membawa pendamping di dalam pesawat, agar mudah mengevakuasinya saat dalam keadaan darurat. Meski demikian menurutnya, alasan tersebut tidak masuk akal karena ia terbiasa mandiri dalam melakukan kegiatannya sehari-hari.

Atas tindakan diskriminasi tersebut, pengadilan memvonis pihak Etihad Airways terbukti melawan hukum atas gugatan yang diajukan Dwi. Pihak Etihad diwajibkan membayar ganti rugi materiil sebesar Rp. 37 juta dan imateriil Rp. 500 juta, sehingga total Rp. 537 juta.

Ferry Agustina Budi Utama selaku Hakim Ketua dalam pengadilan menilai, pihak Etihad tidak melaksanakan kewajibannya dengan memberikan fasilitas kepada Dwi. Menurutnya, perbuatan maskapai Etihad termasuk bentuk diskriminasi karena telah menurunkan Dwi.

“Etihad Airways telah melakukan perbuatan yang masuk dalam kategori melawan hukum. Sebagaimana tertera di dalam UU Nomor 1 tahun 2009 tentang penerbangan. Dimana seharusnya pihak Etihad memberikan pelayanan yang setara kepada Dwi,” tegas Ferry, sebagaimana dikutip Tempo.co (4/12).

Selain itu, Ferry juga menghukum Etihad untuk menyampaikan permintaan maaf dan berjanji tidak mengulangi tindakan diskriminasi yang sama terhadap difabel lainnya.

Sedangkan dari pihak Etihad Airways melalui kuasa hukumnya, Gerald Saratoga Salayar sebagaimana dalam pemberitaan Tempo.co mengatakan, “kami sebagai kuasa hukum tidak bisa kasih komentar apa-apa. Apa pun langkah kedepan ke depan, nanti keputusan Etihad sendiri, kami harus komunikasi dulu”. [Harta Nining Wijaya]

The subscriber's email address.