Lompat ke isi utama
Sambut HDI, difabel merayakan dengan ragam kegiatan dan kreatifitas unik

Niat Baik Tak Selalu Benar: Kekeliruan dalam Mengonsep Bantuan di Perayaan HDI

Solider.co.id, Cimahi. Memberikan bantuan serta dukungan bagi kaum difabel di perayaan Hari Disabilitas Internasional (HDI) bisa dibilang niat baik. Tapi berhati-hatilah, niat baik tidak selalu benar jika cara dalam pengaplikasiannya justru membawa pemahaman negatif bagi cara pandang masyarakat terhadap difabel.

Hal ini yang masih sering dilakukan, baik itu dari difabelnya sendiri ataupun lembaga-lembaga pemberi bantuan. Salah satunya ditemukan dalam pamflet-pamflet bantuan yang cenderung bersifat charity, belas kasih, ataupun menonjolkan ketidakmampuan. Semisal dalam sebuah pamflet yang bertuliskan Salurkan bantuan kemusiaan sahabat untuk mewujudkan mimpi mereka (Penyandang Cacat) melalui Rekening sekian,sekian,sekian.

Kalimat-kalimat seperti itu sering digunakan pada aksi-aksi penggalangan dana, pencarian sponsor, pengajuan proposal dana bantuan yang marak tersiar untuk HDI perlu dipertanyakan kembali. Apalagi kegiatan-kegiatan yang melibatkan sosok difabel langsung di dalamnya. Walapun, setiap kegiatan memang tidak menampik kebutuhan terhadap dana atau anggaran.

Tapi, apa jadinya jika pamflet tersebut terpampang besar di saat perayaan HDI? HDI bukan sekedar acara hiburan atau pesta pora belaka. Perayaan yang jatuh di setiap 3 Desember ini selalu menyuguhkan keberagaman aktifitas, kreatifitas, model sosialisasi unik dan menarik. Menunjukkan kedigdayaan difabel sebagai bagian dari subjek pembangunan. Perayaan yang tidak hanya untuk difabel, tapi dinikmati semua masyarakat.

Ketika membaca kalimat-kalimat yang mengandung stereotipe, orang mengamini dan memahami difabel sebagai subjek yang lemah dan perlu dibantu. Alih-alih mensosialisasikan perjuangan-perjuangan inklusi, kesetaraan, justru menyebarkan kekeliruan dalam memahami difabel kepada masyarakat.

Jenis promosi untuk melancarkan agenda atau acaranya, masih banyak yang mengukur rasa empati masyarakat umum khususnya donatur yang disambangi. Terkadang tanpa mengingat resiko atau efek dari kegiatan yang dianggendakan khususnya kepada cara pandang difabilisme.

Memang bukan sebuah pemikiran yang keliru. Akan tetapi, yang perlu kita ketahui dan pahami dengan baik adalah tentang bagaimana caranya membungkus bantuan menjadi sesuatu yang tetap memberikan daya tawar. Semisal, mengubah kalimat-kalimat negatif dengan sesuatu yang lebih produktif.

Seperti Dukung mereka untuk mewujudkan masyarakat inklusif. kalimat tersebut akan memiliki kesan berbeda di dalam pemahaman masyarakat daripada kalimat Salurkan bantuan kemanusiaan untuk mereka yang tidak mampu.

Fenomena tersebut tentu tidak terlepas dari kekeliruan dalam memandang bantuan untuk difabel. Terlebih jika itu masih ada di komunitas yang menaungi difabel. Hal itu hanya akan menambah citra difabel menjadi buruk dan rendah. Seperti apa pun niat baik yang ingin ditunjukkan tidak selalu menjadi benar ketika belum tahu caranya.

Masih banyak cara yang jauh lebih terhormat untuk menggandeng sponsor atau menggalang dana. Cara-cara yang mudah namun, banyak yang dilupakan atau sekedar ingin mendapatkan bantuan data dengan instan.

Contoh lain dengan pemberdayaan difabel dengan membuat barang yang dapat dijual. Seperti barang pernak-pernik untuk cendra mata misalnya. Cukup dengan membuat satu atau dua jenis modelnya saja, agar terlihat bentuk secara fisiknya ketika hendak menawarkan produk yang akan diproduksi kepada calon pembeli.

Buat perjanjian jual beli dengan sistem down payment (DP) atau uang muka. Gunakan sebagai modal dengan hitungan semua biaya produksi pesanan dapat terpenuhi. Efisiensi bahan mentah dan tenaga kerja diluar hitungan uang muka tadi. Lakukan cara tersebut pada setiap pelanggan. Atau dengan kata lain, golangkan semua hasil pendapatan untuk mempersingkat durasi waktu yang diperlukan. Seperti halnya melakukan sistem dagang dalam bisnis.

Cara seperti ini akan jauh lebih terhormat daripada harus menjual kedifabelan. Memberikan daya tawar konkrit dari hasi kerja sendiri. cara pandang masyarakat akan berubah, sebagai subjek yang kompetitif. Menempatkan posisi manusia sebagai mahkluk yang paling tinggi derajatnya yang setara di mata Tuhan.

HDI merupaka ajang sosialisasi strategis untuk meyebarkan pemahaman difabilisme. Selain sebagai momentum untuk saling menghargai dan memahami. Lahirnya HDI, menjadi tanda kedigdayaan perjuangan kaum difabel.

Membangun sebuah masyarakat inklusif tanpa “kelas”. Jadikan momentum HDI sebagai sebuah kesempatan untuk saling mendobrak sekat-sekat antara mereka yang menyebut diri difabel dengan non-difabel. [Srikandi Syamsi]

The subscriber's email address.