Lompat ke isi utama
Keterangan foto Wisuda Doktor (S3) FK Unair. makasih mas

Sawitri Retno, Dokter yang Akhirnya Memilih Menjadi Pegiat Difabel

Solider.or.id, Tuban – kesadaran masyarakat bahwa difabel di negara ini masih hidup dalam diskriminasi memang masih rendah, namun begitu, beberapa orang saat ini mulai terbuka dan mulai tergerak untuk membebaskan difabel dari diskriminasi dan membuatnya semakin setara dengan kelompok masyarakat yang lain.

Salah satunya adalah Safitri Retno Hadiati. Perempuan yang lahir pada 30 April 1965 ini memang tak memiliki latarbelakang kedekatan dengan difabel. ia tak punya keluarga atau kerabat difabel, namun kini dirinya amat berkomitment untuk berkiprah memperjuangkan hak-hak difabel.

Sawitri adalah seorang dokter di salah satu puskesmas di Surabaya. Ia juga sekaligus dosen di departemen Kesehatan Masyarakat  Universitas Airlangga Surabaya  

Seperti ketika di konfirmasi melalui telepon, dia menceritakan awal mula tertarik untuk bergelut di dunia difabel, yaitu ketika sepulang dari mengikuti konferensi difabel di Amerika serikat.yang di ikuti oleh beberapa negara termasuk dia delegasi dari Indonesia.

Retno sangat terkesan dengan pengalamannya tersebut,sebab dia di beri kesempatan  untuk presentasi tentang lansia yang difabel serta perempuan yang difabel di Universitas Galaudit di Washington DC,AS yaitu Universitas khusus untuk orang dengan gangguan pendengaran tepatnya pada september 2011.

 Retno menjelaskan “disana itu semua saling bersinergi untuk dapat mensejahterakan difabel hal itulah yang menginspirasi saya untuk bergerak demi difabel. Sebab jika semua komponen saling bersinergi mengoptimalkan potensi difabel, tentu sebutan difabel tak ada lagi karena difabel telah mampu mengatasi keterbatasannya” ujar peraih gelar master dari Australia ini.

Ketika di Amerika, ia pun mempergunakan kesempatan yang ada  semaksimal mungkin, dengan mencari jejaring yang ada korelasinya dengan difabel. Sesampainya di Indonesia dia pun semakin membuktikan komitmennya dengan mengikuti semua kegiatan yang berhubungan dengan difabel.

Komintment Sawitri untuk terus berjuang mewujudkan kesetaraan bagi difabel semakin dibuktikannya dengan sebuah gebrakan. Pada tanggal 4 April 2012,  dia bersama teman-teman memutuskan untuk bergiat di dunia difabel teruma kepada difabel kurang mampu dan tersembunyi.

Komitmen tersebut juga dapat dilihat dari didirikannya sebuah yayasan itu bernama “Peduli Kasih ABK” yang berada di kota Surabaya. Yayasan ini bergerak di bidang sosial, pendidikan, dan kesehatan  bagi difabel.

Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah  melakukan identifikasi dini terhadap ABK sehingga orang tua tidak perlu bingung bila memiliki anak ABK.  Haarapannya Yayasan ini dapat memuliakan difabel melalui penguatan orang tua sekaligus bersinergi dengan berbagai pihak yang dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan. Berbagai kegiatan juga dilakukan seperti seminar parenting bagi orang tua difabel dan juga mengadakan terapi bersama serta kegiatan lainnya.

 

Keinginan untuk bisa lebih fokus di yayasan, mungkin adalah salah satu alasan  dia memutuskan pensiun dini dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebuah keputusan yang mungkin menurut mayoritas orang itu aneh tetapi sebaliknya bagi dia.

Pihaknya pun berharap agar kedepan partisipasi pemerintah kepada difabel terus meningkat “mereka  memiliki kesetaraan hak yang sama dengan yang lainnya” pungkasnya.

Melalui komitmennya, Sawitri telah berhasil menunjukkan bahwa berjuang itu harus di awali dengan niat serta usaha yang kuat. Minimnya perhatian, anggaran bahkan diskriminasi yang terjadi terhadap difabel justru menjadi motivasi tersendiri bagi Sawitri untuk tetap istiqomah terhadap komitmennya.

jika saja semua orang punya persepsi yang sama seperti Sawitri? Pasti kehidupan difabel menjadi lebih sejahtera sebab masyarakatnya lebih memprioritaskan kepentingan bersama di atas kepentingan individu. (Fira Merenda Asa)

The subscriber's email address.