Lompat ke isi utama
Bang Dzoel saat jadi narasumber di Difaphoria, UGM (Sumber : IG Bang Dzoel.

Akhmad Zulkarnain “Bang Dzoel”, Fotografer yang Pernah Terdiskriminasi dan Bangkit Kembali

Solider.or.id, Yogyakarta- Hampir selama dua tahun Akhamd Zulkarnain atau lebih akrab dipanggil Bang Dzoel tidak keluar rumah karena terdiskriminasi oleh keluarga dan saudara-saudaranya. Bahkan menurut penuturan Bang Dzoel orangtunya nyaris membuangnya karena tidak sanggup menerima kelahiran yang tanpa tangan dan kaki. Sewaktu duduk di bangku SD kalau pulang sekolah Bang Dzoel  langsung masuk rumah dan tidak keluar-keluar lagi.

Setelah besar lalu dia mengenal komunitas dan dari komunitas tersebut dia berhadapan langsung dengan teman-teman yang masih mendiskriminasi. “Komunitas itu penting untuk penyadaran, apalagi guru di sekolah. Mungkin cara berpikir saya beda, saya bilang saya justru pernah mengedepankan budaya ‘bully’ karena dengan ‘bully’ itu lebih menguatkan saya daripada orang yang ada di depan saya bilang begini, ‘Bang Dzoel maafkan saya bla bla ....’tetapi di belakang saya dia bertingkah buruk, ngrasani jelek, lebih baik ’Bang Dzoel kalau Bang Dzoel melakukan aktivitas ini seperti apa sih, bagaimana sih,” terang Bang Dzoel dalam talkshow bertajuk Difaphoria yang digelar oleh UKM Peduli Difabel UGM untuk memperingati Dies Natalis UGM ke-68 belum lama ini di Grha Sabha Pramana. 

Bang Dzoel pernah bersekolah di SLB di Banyuwangi dan juga sekolah umum. Lelaki berusia 25 tahun itu juga pernah mengenyam bangku kuliah di fakultas hukum. Bang Dzoel juga pernah difasilitasi oleh PT DATASCRIP dan saat ini telah dua bulan tinggal di Jakarta karena mendapat beasiswa untuk belajar fotografi pada Darwis Triadi. Bang Dzoel juga telah memiliki agenda akan mengadakan workshop di Hongkong bersama para BMI Hongkong. Bang Dzoel juga pernah merintis karir di dunia teater yang juga memberinya penghargaan.

Dia menyimpan obsesi yang sangat besar yakni berkeliling Indonesia dan menularkan ilmu tentang fotografi yang dimilikinya kepada difabel penyuka fotografi. “Sebab saat ini sedikit sekali kawan difabel yang terjun di bidang fotografi. Mereka harus tahu bahwa fotografi itu menyenangkan sekali,”jelas bang Dzoel.

Di depan auidens talkshow, Bang Dzoel yang merintis karir sebagai tukang foto KTP di desanya mengemukakan suka dan duka menjalani profesi seorang fotografer. “Saya pernah ketemu klien yang  bikin prewed (pre wedding), dan dia ingin foto di atas tebing. Itu kan nggak akses banget tetapi tetap saya layani dan saya pastikan berapa kru yang akan kita bawa ke sana. Yang harus ke sana nanti kru siapa saja, dan siapa yang membantu saya,” jelas Bang Dzoel. Dia lebih berpikir pada akses ke lokasi pemotretan. Apalagi dia dan kawan-kawan beberapa waktu lalu ke Kawah Ijen.

Ini pengalaman pertama baginya berjalan dari bawah kemudian sampai atas, “tetapi saya merasakan di situ sangat menarik kemudian ke depan target saya bersama kawan-kawan akan mengadakan foto modelling dan nanti di kapal.”

Pendidikan Sesungguhnya adalah Ketika Kita Kembali ke Masyarakat

Bang Dzoel mengaku selama ini belum menerima apresiasi baik dari pemerintah daerah setempat. Namun dirinya tidak berkecil hati sebab dia tengah berproses untuk menularkan ilmu kepada sesama. Bang Dzoel selalu mengunggah aktivitas kekiniannya di Instagram miliknya.Terkait pemberdayaan dengan kawan difabel Bang Dzoel pernah masuk ke beberapa sekolah di antaranya SMP LB yang di situ ada difabel daksa. Tiba-tiba Bang Dzoel mendapat pertanyaan tentang terminologi sukses itu apa. “Sukses itu bagi saya persoalan pribadi,” ungkap Bang Dzoel. Untuk menjawab itu kemudian dia mengajak kawan baru tersebut mengendarai motor miliknya, kebetulan dia memiliki motor roda tiga yang dirakitnya sendiri, dan mengajaknya berkeliling kota. “Pas di tengah-tengah keramaian, saya ajak dia jalan-jalan di situ, di tempat keramaian itu. Otomatis di situ akan banyak orang yang melihat kami. Dan kami menjadi pusat perhatian semua orang. Sebenarnya di situ pendidikan mental yang sebenarnya untuk orang-orang difabel. Sekolah hanya memberikan pengetahuan, memberitahu ini, itu apa. Tetapi Pendidikan sesungguhnya adalah ketika kita kembali ke masyarakat.”

Bang Dzoel juga berbagi cerita bagaimana selama ini dia telah berbagi rezeki kepada sesama sehingga bisa melampaui kesulitan-kesulitan yang dihadapi. “Ketika orangtua saya mengidap kanker payudara, beliau pun meninggalkan utang hampir sekitar 20-an juta, dan kemudian persoalan selesai. Dari situ saya belajar. saya motret, jika saya mendapat hasil 100 ribu, yang 20 persen saya sisihkan untuk sedekah karena saya yakin jika kita memberi sesuatu kepada seseorang, kita akan mendapatkan yang lebih, “ungkapnya.

Saat Solider berkesempatan berbincang usai acara dan bertanya kepada Bang Dzoel secara pergerakan organisasi difabel di Banyuwangi sendiri saat ini bagaimana? Bang Dzoel mengemukakan bahwa untuk masalah pendidikan kawan-kawannya dari yang SD, SMP, sampai kuliah mereka aktif. “Saya berharap pemerintah harus berpikir nih, setelah mereka lulus, kita mau dikemanain? Karena sejujurnya ini masih tanggung jawab pemerintah untuk memberikan, pertama lapangan kerja dan lain sebagainya”pungkas Bang Dzoel yang bertekad untuk aktif di organisasi difabel usai belajar fotografi di Jakarta. (Puji Astuti)

The subscriber's email address.