Lompat ke isi utama

Talkshow HDI PLB UNS Usung Tema Pendidikan Inklusif

Solider.or.id, Surakarta-Pendidikan inklusif memberikan kesempatan kepada anak difabel untuk mendaftar lalu didata pada sekolah reguler. Proses pembelajaran akan berlangsung dengan kurikulum yang berlaku namun akan berbeda ketika kurikulum itu diakses oleh anak difabel, akan disesuaikan dengan kebutuhan. Dengan perkembangan di tingkat kesadaran masyarakat diharapkan sekolah dapat memberikan pendampingan kepada siswa difabel yang bersekolah di sekolah reguler. Demikian dikatakan oleh Muhammad Anwar, Dosen FKIP Jurusan PLB Universitas Sebelas Maret pada acara Talkshow peringatan HDI yang dihelat oleh himpunan mahasiswa PLB Universitas Sebelas Maret di Solo Grand Mall, Minggu (26/11).

Menurut Muhammad Anwar, saat ini lebih dari 100 sekolah di Kabupaten Boyolali menerima anak difabel, dan di Kabupaten Wonogiri demikian pula. “Di Solo sendiri ada lebih dari 50 sekolah mengantongi SK sekolah inklusi. Sekarang tidak ada alasan anak tidak bersekolah. Jika anak berkebutuhan khusus, penekanannya pada aspek sosialnya. Bukan pada kognitif, kalau memang ada hambatan pada mental dan perilaku. Untuk mengembangkan diri tidak harus melalui aspek akademis, mereka lebih memerlukan vokasi,”ujar Muhammad Anwar.

Kepada Solider yang mewawancarai usai talkshow, Muhammad Anwar mengemukakan bahwa memang pendidikan inklusif saat ini sedang terus-menerus dalam proses yang diharapkan pelaksanaannya akan lebih baik. “Kita pasti butuh waktu. Terkait yang lain, kalau sekolah dapat SK terbenturnya soal administratif sih iya. Jadi inklusi itu gini, ke depan setiap sekolah reguler mau menerima ABK tanpa ada SK itu adalah sebuah kebijakan. Tentu yang kita pikirkan adalah soal pendampingannya,”jelas Muhammad Anwar.

Seperti yang pernah ditulis oleh Solider beberapa waktu lalu, Praptono, Kasubdit Bina Program dan Evaluasi Direktorat PKLK Kemendikbud pada seminar yang diselenggarakan oleh UNS menyatakan bahwa anak difabel yang tidak memiliki hambatan kecerdasan dan perilaku harus mengakses kurikulum reguler dan sekolah yang menerima anak tersebut tidak menunggu ijin atau SK turun karena sistemnya mudah, siswa difabel hanya didata lalu dilaporkan ke dinas setempat.

Talkshow yang dibanjiri mahasiswa, orangtua dan anak difabel serta pengunjung mall, ditandai dengan berjubelnya peserta baik yang duduk maupun berdiri juga menghadirkan Mahardika, salah seorang dosen matakuliah autis yang menyampaikan materi tentang deteksi dini dan penanganan dini pada anak difabel dari pre natal, saat lahir dan pascakelahiran dan tumbuh kembangnya. (Puji Astuti)

The subscriber's email address.