Lompat ke isi utama
salah satu sekolah di Jogja yang menggunakan metode montessori

Menimbang Metode Montessori Sebagai Kurikulum

Solider.or.id, Yogyakarta. Metode Montessori sebagai salah satu model mendidik anak bergaya modern tidak hanya diperuntukkan bagi Anak Bekebutuhan Khusus (ABK). Metode tersebut juga berlaku bagi siswa non-ABK yang efektif untuk mendeteksi kemampuan anak, juga melatih aktifitas dasar bagi anak.

Di beberapa lembaga pendidikan dasar sejenis Play Group (PG), Taman Kanak-kanak (TK), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Penitipan Anak (TPA), Kelompok Bermain (KB) telah menggunakan metode Montessori sebagai cara mendidik siswa-siswinya.

Dalam sejarahnya kemunculan metode Montessori diperkenalkan oleh seorang dokter perempuan asal Italia, yakni Maria Montessori pada awal abad 20an, atau satu abad yang lalu. Nama model pendidikan tersebut diambil dari nama belakangnya sendiri. Maria merupakan lulusan dari sekolah kedokteran pada 1869 dan menjadi dokter perempuan pertama di Italia.

Profesinya sebagai dokter telah memberinya kesempatan untuk mengenal lebih dekat dunia pendidikan bagi anak-anak. Metode Montessori merupakan hasil pengembangan dari karya penelitiannya yang mengkaji tentang pola didik pada anak yang memiliki hambatan fisik dan mental. Namun, selang beberapa waktu setelah pengujian di beberapa sekolah di Italia, dibantu oleh dokter lainnya, Jean Marc Gaspard Itard dan Edouard Seguin. Montessori berguna bagi siswa-siswi non-ABK.

Sampai kemudian Montessori juga dikembangkan tidak hanya di fase pra-sekolah, namun juga di setingkat Sekolah Dasar (SD). Di penghujung usia, hasil dari pengembangan metode Montessori kemudian, ia rangkum melalui sebuah buku berjudul Dari Masa Kanak-kanak Sampai Masa Remaja (From Childhood To Adolescence).

Hingga Montessori juga berkembang di berbegai negara, salah satunya Indonesia. Jumlah data TK di provinsi DIY semisal. Menurut catatan Depdikbud pada tahun 2013-2014 sebanyak 2.002 sekolah, yang dibagi kedalam dua kategori, yakni negeri 45, dan 1.957 swasta.

Sedangkan jumlah siswa 94.022, yang bersekolah di negeri 3.242 siswa, yang sangat berbeda dengan jumlah siswa di swasta 90.602, dengan jumlah guru sebanyak 7.633 guru. Lembaga PAUD 1.662, dengan jumlah siswa 54.278. TPA berjumlah 219, dengan jumlah peserta didik mencapai 5.558. Adapaun lembaga pendidikan seperti Kelompok Bermain (KB) berjumlah 1.537, dengan jumlah peserta didik mencapai 47.139 siswa. Meski begitu, belum ada berapa jumlah siswa ABK dalam pendidikan sejenis tersebut.

Dari beberapa sekolah Montessori di Yogyakarta sendiri, selain yang bisa ditemukan seperti TK Bambini Montessori, Kalyca Montessori School, Jogja International School, juga ada Budi Mulia Dua, tepatnya di daerah Seturan.

Ada tujuh ABK yang masing-masing dimentori para guru. Dalam lima kelas terdapat tiga atau empat guru. “Anak Top” adalah istilah panggilan bagi ABK oleh guru dan dikenalkan kepada siswa-siswi lainnya yang non-ABK. “Di sini Anak Top tidak dipisahkan dengan siswa-siswi lainnya,” tutur Nico Dandayesi, kepala sekolah Budi Mulia II.

Menurut Nico penyatuan siswa-siswi ABK dengan siswa lainnya merupakan bagian dari metode Montessori. Meski dalam proses pengajarannya membutuhkan perlakuan khusus dari guru yang bertugas sebagai mentornya. Mentor mengawasi serta memberikan pengarahan pembelajaran sesuai dengan yang ada dalam metode Montessori.

Lebih lanjut, Nico menyebutkan beberapa ciri pengaplikasian Montessori dalam proses belajar. Beberapa diantaranya, Montessori sangat menekankan pada kemandirian dan menghargai perkambangan anak, dilihat sebagai individu yang memiliki potensi. Mencampur anak usia dua setengah tahun sampai enam tahun dalam satu kelas, karena siswa-siswi secara tidak langsung dapat belajar dari mereka yang sudah di atasnya.

Montessori juga memberikan kebebasan murid untuk memilih kegiatannya sendiri, sedangkan guru hanya akan menjelaskan sesuatu pertanyaan yang diajukan murid. Selain itu, hal yang penting lainnya adalah, tersedianya fasilitas di sekolah yang mendorong kemandirian anak.

Ulfatul Fikriyah, salah satu mentor ABK down sindrom di Budi Muia II menjelaskan contoh pembelajaran yang diterapkan. Dalam tulis-menulis semisal, anak tidak harus dipaksa menulis sebuah huruf. Namun, guru akan lebih memperhatikan bagaimana metode bagi anak agar lebih dulu terbiasa memegang pensil.

“Jadi memang yang dikedepankan adalah kebiasaan-kebiasaan paling kecil, yang paling detail. Ini yang membedakan dengan kurikulum di sekolah umum,” katanya.

Montessori sebagai kurikulum di dalam konsep sekolah inklusi

Titi Nuryani, wakil kepala sekolah mengatakan, sekolah dengan metode Montessori memang terbilang mahal. Pasalnya pelatihan tentang konsep montessouri yang relatif mahal karena harus mendatangkan pelatih dari luar negeri. Rasio antara pendamping dan murid yang masih sedikit, dan harga alat yang juga relatif mahal karena sebagian besar produsen berasal dari luar negeri, yang harus diimpor.

Titi berpendapat, hal ini lah yang semestinya ada di dalam konsep sekolah inklusi. Sekolah inklusi tidak hanya sekedar konsep tanpa elemn-elemen yang mendukung berjalannya konsep tersebut, salah satunya kurikulum. Baginya Montessori memunngkinkan dijadikan sebagai kurikulum karena memiliki prinsip-prinsip yang mengakomodir kebutuhan ABK.

“Ya tentu dengan catatan, pemerintah mau menanggung semua itu,” terang Titi.

Dalam UU No.8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, khususnya dalam pembahasan hak pendidikan secara gamabaran umum. Sarana-prasana dalam UU memang tidak secara spesifik menjelaskan langkah praktis dalam implementasinya. Dimana kurikulum merupakan bagian dari sarana-prasarana yang juga harus diesuaikan dengan kebutuhan ABK.

Titi melanjutkan, hal tersebut mengingat Montessori mayoritas diaplikasikan di sekolah-sekolah swasta. Maka akan lebih baik jika pemerintah menerapkan dan mensosialisasikan metode Montessori di sekolah-sekolah sejenis TK, PG, dan lain sejenisnya.

Hal tersebut bisa menjadi alternatif bagi ABK. Jika selama ini SLB menjadi patokan utama bagi ABK dalam mengenyam pendidikan, sebelum meniti ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, seperti Sekolah Dasar (SD).[Robandi]

The subscriber's email address.