Lompat ke isi utama
Lala sedang bermain di depan rumahnya

Cerita tentang Lala dari Maluku Barat Daya

Solider.or.id. Yogyakarta. Tanggal 20 November setiap tahunnya selalu diperingati sebagai Hari Anak Universal. Sejak 1954, peringatan Hari Anak Universal ini selalu rutin digelar untuk menumbuhkan kesadaran akan kepedulian terhadap anak termasuk jdifabel anak.

Membicarakan tentang Hari Anak Universal dan difabel anak, saya tiba-tiba teringat pengalaman bersama seorang difabel netra anak di sebuah pulau terluar di Kabupaten Maluku Barat Daya saat masih menjadi seorang guru SD untuk program Indonesia Mengajar.

Tepat di belakang orang tua piara saya di Maluku Barat Daya, ada seorang anak difabel netra bernama Lala. Usianya sekitar delapan tahun. Saat itu, ia seharusnya sudah mengenyam bangku SD kelas 2. Namun, kondisi sosial masyarakat pada pulau terluar membuat akses pendidikan terhadap difabel anak sepertinya menjadi tidak memungkinkan.

Lala adalah anak tunggal. Ia tinggal bersama kakek dan neneknya karena kedua orang tuanya merantau ke ibukota kabupaten untuk mencari nafkah sebagai pekerja bangunan. Sehari-hari Lala hanya bermain bersama neneknya atau duduk-duduk santai di pinggir pantai depan desa.

Sepulang sekolah saya sering bermain dengan Lala. Kadang saya putarkan rekaman dongeng dari laptop tentang kerajaan-kerajaan di Indonesia. Kadang saya bacakan buku cerita yang saya ambil dari perpustakaan SD. Lala adalah anak yang tidak malu dengan orang baru seperti saya. Saat saya tanya, neneknya mengatakan bahwa sejak kecil, ia sering bermain keluar rumah bersama saudara atau teman-teman yang lain. Neneknya tidak mengurung Lala di rumah karena hambatan penglihatan pada Lala.

“Lala memang tidak bisa melihat, tapi ia bisa kemana saja. Ia bisa saja jalan sendiri ke pantai. Tapi biasanya ia akan berjalan kemana-mana bersama teman atau saudaranya,” ujar neneknya.

Neneknya juga bilang bahwa Lala terbiasa dengan orang baru jadi ia tidak akan merasa takut jika bertemu orang baru.

“Rasa percaya dirinya cukup tinggi,” cerita neneknya.

Lingkungan sosial yang terbangun di desa tempat saya bertugas memang sudah cukup baik dibandingkan dengan desa-desa lainnya. Lala adalah difabel netra tapi ia selalu dilibatkan dalam segala kegiatan pendidikan informal seperti Sekolah Minggu di gereja atau ibadah anak yang bergilir dari satu rumah ke rumah yang lainnya.

“Meski tidak bisa sekolah secara formal, selama ini Lala belajar semuanya dari kegiatan ibadah,” ujar neneknya.

“Jika tak berhalangan, Lala selalu ikut kegiatan pendidikan gereja. Anak ini sudah hafal doa Bapak Kami. Kadang malah ia yang ditunjuk untuk memimpin doa Bapak Kami di depan teman-temannya yang bisa melihat,” tambahnya.

Nenek Lala menambahkan bahwa ia pernah mendaftarkan Lala ke SD di desa, namun kepala sekolah belum menerima karena tidak paham bagaimana cara belajar anak difabel netra. Itulah yang akhirnya membuat Lala tidak bersekolah secara formal dan menggantinya dengan kegiatan pendidikan informal di gereja.

Saya yang tinggal satu rumah dengan kepala sekolah SD sempat bertanya tanggapan tentang Lala yang tak bisa bersekolah di SD di desa itu.

“Kami sebagai guru SD di sebuah pulau terpencil tak paham bagaimana cara terbaik menghadirkan kegiatan belajar mengajar bagi anak difabel netra,” ucap Chardjius Toranus Hayer kala itu.

Pria yang kerap disapa Hayer ini mengungkapkan tantangan yang tak hanya berhubungan dengan difabel, namun juga yang berhubungan dengan pendidikan anak nondifabel pada umumnya saja masih harus ia dan rekan guru-guru di SD hadapi.

“Jumlah guru saja tak mencukupi. Kadang di sekolah hanya ada satu guru saja. Kami juga tidak paham cara Lala belajar. Bagaimana ia menulis dan membaca,” ujar Hayer.

Saya menunjukkan kepada Hayer beberapa hal yang dekat dengan difabel netra seperti huruf Braille untuk kepentingan membaca dan menulis, tongkat putih, serta beberapa tokoh difabel netra yang bisa sukses karena faktor pen

Ia cukup tertarik dan terbuka untuk bisa mencari alternatif pembelajaran kepada Lala. Tapi, setidaknya ia bersyukur karena fasilitas pendidikan gereja sementara ini bisa mengakomodasi kebutuhan belajar dan bersosialisasi Lala setidaknya sampai Lala bisa masuk sekolah.

Lala terbukti memiliki rasa percaya diri yang tinggi ketika lingkungan sosialnya tidak membentuk sekat pemisah. Tinggal bagaimana fasilitas pendukung lain seperti sekolah bisa aksesibel untuk didapatkan. (Yuhda)

The subscriber's email address.