Lompat ke isi utama
Panji Surya Sahetapy berfoto bersama Martin, Tuli dari Gerkatin Sukoharjo usai seminar

Panji Surya Sahetapy : Masalah Tuli bukan Komunikasi tetapi Memahami

Solider.or.id, Surakarta-Hadir sebagai salah satu pembicara pada seminar tentang implementasi pendidikan inklusif yang diselenggarakan oleh himpunan mahasiswa PLB Universitas Sebelas Maret belum lama ini, Panji Surya Sahetapy tampil memukau dengan kesederahaan busana yang dikenakan. Dia mengenakan kaos bisindo warna hijau tosca, serta berbicara dalam bahasa isyarat, bukan di atas panggung, namun berdiri sejajar dengan para hadirin. “Saya di bawah saja ya, supaya lebih nyaman,”begitu kata Surya Sahetapy setelah mencoba naik panggung. Sementara para peserta seminar, kebanyakan mahasiswa serta guru riuh, Surya Sahetapy segera melanjutkan memulai paparannya.

Surya Sahetapy memulai dengan mengajak bersyukur dan memperkenalkan kata tuna rungu yang merupakan kata yang kasar, sedang Tuli adalah kata yang halus. Tuli adalah kelompok orang-orang yang menggunakan bahasa isyarat. Tuna Rungu adalah ketidakbisaan mendengar. Menurutnya mungkin ada yang tidak nyaman karenanya. Tiba-tiba dia mengajak audiens untuk menirukan gerakannya. “Ayo ikuti isyarat saya. Begini Kota Solo, ada patung Slamet Riyadi, kalau Jakarta seperti ini, ada Tugu Monas,” Hadirin pun kemudian sebagian beranjak dari tempat duduk untuk berdiri, lalu menirukan isyarat tangan yang diperagakan oleh Surya Sahetapy dengan riang gembira.

Mengambil tema konsep pendidikan inklusif bagi Tuli, Surya Sahetapy mengutip sebuah sumber dari World Federation of The Deaf (WFD),”Terdapat 70 juta orang Tuli di seluruh dunia tetapi hanya 2% orang Tuli bisa mengakses pendidikan melalui Bahasa Isyarat.” dan “Hanya 20% anak-anak Tuli di negara berkembang, mendapatkan akses pendidikan. Hanya 1% anak-anak Tuli bersekolah di SD reguler.”

Tuli menjadi disabilitas karena sikap masyarakat yang awam, diskriminasi secara linguistik menciptakan disabilitas (Collin Allen, Presiden WFD, 2017). Beberapa hal terkait mitos Tuli, Surya mengemukakan bahwa Tuli menggunakan Bahasa Isyarat, cenderung mengurangi kemampuan verbal dan kognitif, Tuli bisa menggunakan alat bantu dengar yang setara dengan pendengaran orang dengar, Tuli tidak bisa mengendarai motor.

Sementara itu di sektor pendidikan, SLB-SLB bagian B masih menggunakan metode oral (ajaran Belanda) dan Sistem Isyarat, kurikulum pendidikan luar biasa untuk difabel pendengaran dari TK-SMA setara dengan pendidikan dari TK-SD (permendikbud no.157 tahun 2014). Hanya dua dari 1.546 sekolah Tuli yang menggunakan pendidikan dengan sistem bilingual (The Little Hijabi Homeschooling for the Deaf di Bekasi dan Sekolah Sushrusa di Denpasar, Bali). Sementara, jumlah juru bahasa isyarat pendidikan masih terbatas.

Pendidikan dengan sistem bilingual dilakukan agar kemampuan setara dan bisa masuk sekolah reguler. Dengan juru ketik atau GPK (dengan oral), di sekolah reguler bagaimana mereka memiliki shadow teacher yang mengerti akan kebutuhan.

Surya memberi contoh, bagaimana bila seseorang bertemu dengan Tuli untuk pertama kali dan berinteraksi. Jangan bilang,”Kamu bisa ngomong atau tidak?” tetapi pakailah bahasa, “Kamu lebih nyaman komunikasi dengan apa?”. Mungkin orang-orang berpikir bahwa Tuli bisa bisindo dan verbal. “Coba lihat mimik saya, saya bilang ‘sapu’, ‘sabun’, dan ‘kamu; itu nyaris sama,”katanya.

Surya kemudian menceritakan pengalaman kawannya Tuli ketika pergi ke sebuah resto dan menyebut kata ‘es batu’, tetapi pelayan restoran mengambilkan ‘sepatu’.

Tuli dengan bisa berbicara bukan berarti dia sukses, setara, dia bisa baca tulisan. Terlahir bayi, usia dua tahun oleh orangtuanya agar diajarkan bisa isyarat dan oral. Kedua cara itu tidak termasuk perspektif orang Indonesia. Bagi orang Indonesia, orang yang tidak bisa berbicara merupakan “Masalah Berat”.

Di Inggris jika bertemu orang “Saya Tuli” lalu orang yang diajaknya bicara akan mencari kertas untuk berkomunikasi. Kalau di Indonesia, orang itu tetap berbicara bahkan dengan nada keras. Atau ganti orang. Masalah Tuli sebenarnya bukan komunikasi tetapi memahami.

Di Amerika pada tahun 1980 ada Tuli (S1) kemampuan literasinya setara dengan anak SD. Delapan tahun kemudian pendidikan diubah diganti bilingual. Kemudian kemampuan meningkat. Dengan bilingual maka kemampuan literasi pun juga meningkat.

Pendidikan inklusif bagi Tuli bagaimana?

Menyoroti pentingnya pendidikan di Indonesia, Surya Sahetapy menyatakan bahwa yang utama adalah keluarga. Menurutnya banyak kelaurga yang tidak memberi dukungan kepada Tuli. Stigma itu lahir dari masyarakat, meski sekarang banyak masyarakat yang sudah paham. Menurutnya, harus ada pertukaran siswa di SLB dan sekolah umum/reguler, supaya banyak masyarakat yang tahu dan paham sehingga tidak ada lagi diksriminasi. Ketidaktahuan mereka akan Tuli, bisa mengubah persepsi.

Menjawab pertanyaan salah satu penanya tentang kendala yang dihadapi oleh mahasiswa Tuli yang mengambil jurusan bahasa Inggris, padahal ada mata kuliah listening, Surya menanggapi dengan menceritakan pengalamannya sebagai mahasiswa pendidikan Bahasa Inggris di salah satu universitas di Jakarta. “Karena tidak mengerti dosen, saya punya teman untuk mengetik. Ketika saya berbahasa isyarat ya bisa bahasa Inggris. Seminggu sekali ada evaluasi, dosen bertanya seminggu ini bagaimana? Ketika kelas akan mulai dosen menuju ke juru bahasa lalu ada pengetikan yang cepat. Ketika tes ada listeningnya, karena ada matakuliah lain, writing dan reading, maka listening tidak usah saja. Pada tes Toefl dan Ielts pun juga berlaku juga demikian,” pungkas Surya Sahetapy yang fasih memiliki kemampuan bahasa isyarat Amerika, Inggris, Australia dan Hongkong.(Puji Astuti)

The subscriber's email address.