Lompat ke isi utama
sesi sosialisasi difabel mental intelektual oleh sehati

Mengenal yang Kerap Terlupakan : Difabel Mental Intelektual

Solider.or.id, Yogyakarta - Unit Kegiatan Mahasiswa Peduli Difabel Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan kajian terkait isu-isu yang berkaitan dengan difabel. tema yang diangkat dalam kajian yang diselenggarakan pada Jumad 10 November 2017 adalah “mengenal yang terlupakan : difabel mental intelektual.

kegiatan kajian yang diselenggarakan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada ini di pandu oleh komunitas Sehati yaitu sebuah startup non provit yang bergerak di isu mengenai kesehatan mental.

Komunitas Sehati dalam pemaparan-nya menyampaikan kepada peserta kajian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan difabel mental intelektual.

Sehati juga memaparkan bahwa difabel mental intelektual adalah salah satu kelompok masyarakat yang sampai hari ini masih kerap mendapatkan diskriminasi dari lingkungannya. Menurut Sehati diskriminasi terhadap difabel mental intelektual terjadi akibat adanya stereotipe negatif yang dilekatkan kepada individu yang mengalami difabel mental intelektual.

Yesica Nurzaman kepala departemen kajian strategis dan advokasi UKM Peduli Difabel UGM mengatakan bahwa latar belakang diangkatnya tema mengenai difabel mental intelektual adalah masih sedikitnya kajian atau diskusi yang mengangkat tema tersebut, padahal difabel mental intelektual juga hidup di lingkungan sekitar kita, namun terkadang kita tidak mengetahuinya. “jika membahas isu-isu seperti aksesibilitas,  kebijakan atau inklusivitas seringkali yang kerap muncul kepermukaan hanya difabel tertentu saja misalnya difabel daksa , difabel netra atau dan difabel Tuli” ujar Yesica pasca penyelenggaraan acara

Selanjutnya  Yesica menambahkan bahwa kajian ini dapat menjadi forum untuk mengedukasi masyarakat mengenai hal-hal yang berkaitan dengan difabel mental intelektual agar kedepannya tidak lagi terjadi kesalah pahaman dalam memandang difabel mental intelektual. Yesica mencontohkan selama ini  masih  terdapat banyak kesalahan dalam hal memandang difabel mental intelektual seperti kesalahan dalam menyikapi seorang difabel mental intelektual yang ada disekitar kita. dalam pengambilan kebijakan, selama ini pemerintah juga masih belum punya cukup pengetahuan tentang bagaimana menyikapi difabel mental intelektual.

“salah satu kesalahan dalam memandang difabel mental intelektual dapat kita lihat dalam undang-undang No. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, disana tertulis bahwa difabel mental intelektual tidak dapat memberikan hak suara dalam pemilu, padahal jika di tinjau dari perspektif ilmu psikologi, ada kategori difabel mental intelektual yang tetap bisa mengambil keputusan secara mandiri yaitu difabel mental inteleektual yang keadaan kognitif tidak terganggu“ pungkas mahasiswi Fakultas Psikologi UGM ini. (Tio Tegar)

The subscriber's email address.