Lompat ke isi utama

Pembangunan Infrastruktur Aksesibel, Hendaknya Libatkan Difabel Secara Langsung

Solider.co.id, Cimahi – Selasa (7/11) lalu, bertempat di kantor pemerintahan – Pemkot kota Cimahi, Wakil Walikota Cimahi, Ngatiyana menyampaikan pihaknya akan mengupayakan membangun fasilitas yang dapat menunjang kebutuhan para difabel kota  Cimahi.

Pasangan Walikota dan Wakil Walikota terpilih Kota Cimahi untuk masa jabatan 2017 – 2022, Ajay M. Priatna dan Ngatiyana telah dilantik sejak 22 Oktober lalu. Warga kota Cimahi memiliki segudang harapan baru, terkait dengan pemimpin barunya. Hal yang sangat wajar terjadi, bahkan hampir di setiap daerah yang mengalami masa pergantian kepala daerahnya. Begitu pula dengan masyarakat kota Cimahi.

Cukup menarik ketika wakil walikota, Ngatiyana  mulai memberi perhatian terhadap masyarakat kota Cimahi, khususnya pada masyarakat difabel yang berdomisili di kota Cimahi. Ngatiyana menyadari, warga difabel yang ada di kota Cimahi belum memiliki tempat untuk pembinaan. Diakuinya pula, infrastruktur yang ada di kota Cimahi masih sangat minim bagi warga difabelnya.

Dalam pertemuan tersebut, pihaknya menyampaikan akan ada kontribusi untuk memperhatikan warga difabel yang berdomisili di kota Cimahi. Melalui pemerintahan yang dipimpinnya, untuk warga difabel akan dibuatkan tempat-tempat dan fasilitas yang dapat menunjang kebutuhan serta kreasi warga difabelnya.

Kolaborasi dengan dinas sosial kota Cimahi pun siap dijalankan untuk dapat mengetahui segala kebutuhan masyarakat difabel. Harapannya agar dapat mengemas fasilitas yang menjadi solusi bagi warga difabel yang ada di kota Cimahi. Harapan lain yang diuangkapkannya, agar difabel mendapatkan kehidupan yang layak, mampu berprestasi dan dapat berkarya.

Sebuah harapan yang indah dan pengupayaan kebijakan yang adil bagi warga difabel kota Cimahi.

Bila dilihat dari berbagai sudut pandang, salah satu bentuk ketidak berhasilan dari sebuah pembangunan infrastruktur yang aksesibel adalah tidak dilibatkannya secara langsung warga difabel di dalamnya.

Masih banyak kendala hingga menjadi sulit.

Kurang tepat gunanya fasilitas publik yang dibangun untuk menunjang aksesibilitas masyarakat difabel masih banyak ditemui di lapangan. Tidak dapat menutup mata, banyak tempat yang memberikan pelayanan bagi masyarakat umum maupun infrastruktur yang sengaja dibuat untuk difabel masih kurang tepat, bahkan kurang memberi manfaat yang sesuai dengan niat pembangunannya.

Ketidak puasan  hasil  pembangunan yang diperuntukkan bagi difabel tersebut, kesalahannya bukanlah dari pihak pembuat atau penginisiasinya. Akan tetapi, terletak pada struktural tim yang tidak melibatkan individu difabel secara langsung sebagai user ketika sebuah proyek pembangunan tersebut dirancang hingga dikerjakan.

Mungkin saja, pihak-pihak pengembang atau pihak yang mendapatkan proyek untuk membuat bangunan atau infrastruktur memang sudah mengantongi informasi tentang difabel. Pemetaan konsep sebuah bangunan pun dapat dengan mudah ditinjau dari sisi perundangan yang mengunci aturan. Penyampaian beragam tentang ukuran, manfaat, alat ataupun bahan yang dapat digunakan sehingga aman dan nyaman bagi difabel sebagai penggunanya mudah dipelajari.

Namun, hingga sejauh mana kejelian atau sensitifitas pihak-pihak tersebut terhadap  kebutuhan masyarakat difabel?

Banyak hasil pembangunan infrastruktur yang pada akhirnya malah menjadi sia-sia tanpa ada guna dan manfaatnya. Bila dikoreksi lebih dalam lagi, sudah berapa banyak anggaran yang harus dikeluarkan untuk membiayai pembangunan tersebut. Diluar perhitungan tenaga kerja dan durasi waktu dalam proyek pembuatannya. Lalu, pada hasil akhirnya semua fasilitas tersebut tetap tidak aksesibel bagi difabel.

Hal-hal yang tidak sulit untuk dilakukan akan tetapi, masih terlalu sering dilupakan dalam setiap proses pembuatan fasilitas publik khususnya untuk difabel, hanyalah kurangnya melibatkan mereka sebagai user dan edukator. Bahkan seorang difabel pun, tidak dapat menjadi user untuk kebutuhan difabel jenis lainnya yang berbeda-beda. Apalagi, bila tidak dilibatkan sama sekali.

Masih sulitnya mewujudkan aksesibilitas dari setiap pembuatan proyek, baik pembangunan baru maupun merehab bangunan lama yang bertujuan untuk dapat memfasilitasi masyarakat difabel akan terus selalu ada.

Belum banyaknya pihak yang mau membuka informasi terkait perencanaan dari sebuah proyek yang akan dibangun, khususnya untuk fasilitas umum, dan minimnya informasi atau edukasi tentang kebutuhan difabel, maka setiap infrastruktur yang dibangun baru sebatas untuk menyediakan secara fisik dan estetika yang belum mampu digunakan seluruh lapisan masyarakat khususnya difabel serta lansian pengguna alat bantu.

Semoga saja, niat baik dari pemerintahan kota Cimahi yang ingin memperhatikan warga difabelnya dapat terwujud nyata.

Beberapa point penting yang dapat diambil sebagai langkah awal oleh pihak pemerintahan dalam membangun infrastruktur yang aksesibel antara lain dengan cara:

Libatkan difabel sebagai user dalam setiap rancangan fasilitas publik yang hendak dibangun. Keberadaan mereka akan sangat membantu untuk menjabarkan secara teknis terkait aturan khusus, agar nilai dan fungsi serta manfaat aksesibilitasnya dapat dihasilkan lebih maksimal.

Mengapa pada tahapan proses perencanaan saja difabel sudah harus dilibatkan?

Dalam tahap ini, segala kebijakan terkait pola bangunan, ukuran, bentuk, kelandaian, nilai manfaat serta keselamatan, pemetaan kebutuhan, hingga pemilihan alat dan bahan yang aman diperlukan dapat dikupas lebih rinci. Sehingga, sebelum pembangun dimulai kerangka atau gambaran yang didapatkan tentang pemenuhan syarat aksesibilitas mampu didapatkan langsung dari user-usernya. Yaitu difabel.

Perencanaan akan menjadi tolak ukur dari sebuah keberhasilan yang akan dicapai. Dengan demikian, keterlibatan difabel sebagai user akan sangat membantu tingkat keberhasilan dari pembangunan-pembangunan infrastruktur yang aksesibel Keuntungan lain yang diperoleh selain meminimalisir ketidak aksesan, dapat pula mempercepat rancangan.

Selain melibatkan difabel dalam perencanaan, difabel sebagai user juga dapat menjadi konsultan selama proses pembangunan berlangsung.

Artinya, ketika pembangunan di lapangan mulai berjalan pihak yang bertanggung jawab atau tim kerja lapangan menghadapi kendala, mereka bisa meminta pendapat atau solusi kepada difabel terkait pemetaan langsung dari yang telah dirumuskan dalam perencanaan.

Rumus perkiraan dalam sebuah pembangunan infrastruktur yang aksesibel hendaknya dihindari. Sebab, setiap bentuk dan ukuran standar yang termasuk akses bagi difabel akan sangat berpengaruh terhadap fungsi serta manfaat ketika fasilitas tersebut digunakan.

Lalukan tahapan uji coba terhadap hasilnya secara bertahap. Selain dilibatkan dalam perencanaan, proses pembangungan dalam artian sebagai konsultannya, libatkan juga dalam tahapan akhirnya yaitu uji coba.

Uji coba terhadap pembangunan infrastruktur yang aksesibel diperlukan sebelum benar-benar digunakan oleh masyarakat difabel maupun lansia mengguna alat bantu secara umum. Hal ini menjadi penting, selain untuk pengecekan tingkat keberhasilan dari pola pembangungan yang aksesibel, juga sebagai kajian tersendiri ketika ada temuan yang masih perlu perbaikan ataupun penambahan dari kekurangan yang ditemukan.

Fungsi uji coba tersebut, selain untuk mengukur tingkat aksesibilitas yang dihasilkan, dapat juga sebagai analisa kenyamanan dan keselamatan pada saat digunakan nanti.

Pada dasarnya pembangunan infrastruktur yang aksesibel akan lebih mudah ketika difabelnya dilibatkan secara langsung. Setiap fasilitas publik hendaknya memang dapat dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat termasuk difabel dan lansia.

Pembuatan fasilitas yang akses dan ramah difabel pun sudah semestinya diterapkan pada semua fasilitas yang tersedia. Tidak dikhususkan hanya untuk difabel. Karena, apabila seluruh konsep infrastruktur pada setiap fasilitas publik berpatokan terhadap aksesibilitas, maka siapa pun akan dapat menikmati fasilitas tersebut. Dukungan infrastruktur yang akses dapat meningkatkan kreatifitas dan mobilitas masyarakat difabel, selain membuat mereka semakin mampu untuk mandiri.

Difabel kota Cimahi siap membantu pemerintahnya untuk mewujudkan pembangunan infrastruktur yang aksesibilitas. (Srikandi Syamsi).

The subscriber's email address.