Lompat ke isi utama
Pejabat Meninjau pelatihan wirausaha Difabel

Pelatihan Kewirausahaan Difabel Kedepankan Kemandirian

Solider.or.id-Bandung,  Pelatihan Pembekalan Wirausaha bagi Tenaga Kerja Difabel yang diselenggarakan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (DISNAKERTRANS) Provinsi Jawa barat merupakan hasil  advokasi dari Aliansi Perempuan Disabilitas & Lansia (APDL) Provinsi Jawa Barat. Pelatihan dilaksanakan pada 8 s/d 10 November 2017 di Hotel Asmila,  Jalan Dr. Setiabudhi No. 54 , Bandung.

Peserta Difabel datang dari 14 Kabupaten Kota se-Jawa Barat diantaranya Kota Cimahi,  Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Garut, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Karawang, Kabupaten Sukabumi, Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Pelatihan diikuti 40 peserta dengan ragam difabel (daksa, ntra, intelektual, tuli)  yang terbagi  menjadi 2 kelas , Tataboga dikhususkan untuk perempuan tetapi ada peserta laki-laki memilih kelas Tataboga dan Cukur Rambut Laki-Laki khusus peserta laki-laki.

Disampaikan Sri Agustini, hambatan gerak Polio, ditemui solider saat pelatihan berlangsung hari ke-2  di hotel Asmila, Bandung (9/11/17).  Para peserta cenderung diarahkan kewirausahaanya untuk bisa mandiri. Penyelenggara memfasilitasi, setelah penutupan kegiatan peserta dibekali peralatan lengkap sesuai dengan bidang yang di pilihnya sebagai awal modal berdirinya usaha di wilayah peserta masing-masing.

“Peralatan cukur rambut dan tata boga langkah awal membuka usaha kecil di rumah. Nantinya Kue bisa dijual ketetangga dan keluarga, sama juga buka jasa cukur rambut dimulai dari tetangga dan keluarga , semua berawal dari lingkup terkecil. Dasar pembekalan sudah diberikan selebihnya pengembaangan serta jam terbang masing-masing kedepannya. Yakin temen-temen disabilitas mampu mandiri dan berkembang”, ucap Sri Agustini Ketua APDL Jawa Barat.

Kepala Bidang Penempatan, Perluasan Tenaga Kerja dan Transmigrasi , DISNAKERTRANS Provinsi Jawa Barat, Johny Darma meninjau langsung saat peserta praktik membuat bolu di kelas Tataboga dan Cukur rambut di hari ke-2 pelatihan tersebut. “Melihat langsung, harapannya semangat untuk mandiri  dari teman-teman difabel bisa jadi contoh untuk orang lain itu kan bagus. Difabel berusaha bisa mandiri, yang “sehat” yang malu kalau tidak mau berusaha”, jelasnya .

 Asep hidayat, hambatan gerak polio di kedua kakinya. Keikutsertaannya  dalam  pelatihan ini memberikan keuntungan untuk difabel yakni menambah ilmu dan kemampuan di bidang cukur rambut. Menurutnya usaha jasa cukur rambut merupakan bisnis kepercayaan. “Membangun kepercayaan, menunjukkan kepada pelanggan , kita (difabel) punya kemampuan, bagaimana menerapkan ke pelanggan dengan cara kita, pelanggan yang sudah percaya dengan fasilitas dan kemampuan, insyaallah usaha kedepannya lancar”.

Membangun kepercayaan dimulai dari lingkungan terdekat. “Saya punya keluarga, buat ke dua anaknya nantinya potong rambut bisa dengan saya lansung, minimal mengurangi biaya rumah tangga. Kalau sudah terbiasa, respon orang terdekat baik saya siap untuk melanjutkan dengan buka untuk umum”, terangnya. (Zulhamka Julianto Kadir)

The subscriber's email address.