Lompat ke isi utama
Konferensi Pers daam rangka memaparkan hasil pantauan terhadap aksesibilitas halte dan armada bus Trans Jogja oleh Komte Hak DIfabel DIY, Kamis (9/11/2017), di Angkringan KOBAR, Jalan Atmosukarto, Kotabaru, Yogyakarta.

Paparan Hasil Pantauan Aksesibilitas Shelter dan Armada Bus Trans Jogja

Solider.or.id.Yogyakarta. Komite Perlindungan dan Pemenuhan Hak-hak Difabel Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menyelenggarakan konferensi pers dalam bentuk diskusi terbuka, guna memaparkan hasil pemantauan aksesibilitas pada shelter dan armada Bus Trans Jogja.

Dihadiri beberapa pejabat terkait, di antaranya Kepala UPT Trans Jogja Maryoto, Unit Dikyasa Ditlantas Polda DIY Suryati, Perwakilan Dinas Perhubungan Kabupaten Sleman Sultoni, beberapa personil Polda, Polres, dan Polsek Gondokusuman, anggota Komite Difabel DIY, organisasi difabel serta wartawan, kegiatan berlangsung pada Kamis (9/11/2017), di Angkringan KOBAR, Jalan Atmosukarto, Kotabaru Yogyakarta.

Pemantauan terhadap 11 shelter dan armada Bus Trans Jogja, dilakukan oleh Aditia, Asisten Perlindungan dan Pemenuhan Hak-hak Diafbel DIY. Dengan tujuan mengetahui ketersediaan dan keberfungsian aksesibilitas bagi difabel pada shelter dan armada bus.

Ketersediaan dan keberfungsian guiding block menuju Shelter, kesesuaian ukuran ramp, handrail, tangga, pintu halte, informasi dalam bentuk audio maupun visual terkait halte, pemberhentian dan jalur bus, menjadi fokus pemantauan yang dilakukan selama dua hari, 11 dan 26 Oktober 2017.

Adapun pantauan terkait aksesibilitas Bus Trans Jogja meliputi pintu masuk bus, ketersediaan ruang khusus kursi roda, tempat duduk prioritas, Informasi audio dan visual jalur bus, halte pemberhentian dan tujuan,demikian pula layanan pramugara dan pengemudi, serta keberadaan informasi nomor aduan.

Dengan kesimpulan hasil pantauan, aksesibilitas sarana prasarana dan sumber daya manusia pada Bus Trans Jogja masih jauh dari standar layanan aksesibel. Untuk itu diperlukan perbaikan terhadap sarana prasarana pada shelter maupun armada Bus Trans Jogja, sehingga aksesibilitas yang tersedia dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Awak bus  dalam hal ini pramugara dan pengemudi, perlu diberikan pelatihan terkait tata cara berinteraksi dengan penumpang difabel.

Pada kesempatan itu disampaikan pula rekomendasi terhadap pengelola Bus Trans Jogja. Tiga poin rekomendasi yang disampaikan yaitu: (1) perlunya koordinasi dan komunikasi antar OPD terkait, agar penyediaan asesibilitas pada moda transportasi Bus Trans Jogja maksimal; (2) pelibatan difabel pada pembangunan sarana prasarana shelter dan armada bus; serta (3) diperlukanya pelatihan bagi awak atau petugas Bus Trans Jogja terkait tata cara berinteraksi dengan difabel.

Catatan khusus juga diberikan oleh Aditia, bahwa dari 11 shelter atau halte bus Trans Jogja, hanya 10 shelter saja yang dapat dipantau secara komprehensif. Ada pun satu halte, yaitu halte di Bandara, tidak dapat dipantau oleh sebab petugas halte  melarang dilakukannya pemantauan terhadap halte tersebut.

Catatan terkait pelarangan, akan ditindaklanjuti kepada pihak petugas shelter atau halte di Bandara Adi Soetjipto Yogyakarta, oleh Komite Disabilitas DIY. (harta nining wijaya)

 

The subscriber's email address.