Lompat ke isi utama
Salah satu kegiatan Sahabat Difabel Banjarnegara yakni Pelatihan bahasa Isyarat ke orang tua yang memiliki anak Tuli

Geliat Komunitas dan Organisasi Difabel di Banjarnegara

Solider.or.id. Banjarnegara. Dalam satu dekade terakhir, penguatan arus pergerakan difabel telah jauh meningkat dari sebelumnya. Pergerakan itu dilakukan oleh komunitas atau masyarakat dalam mendesak hak dan kepentingan difabel yang telah terabaikan sejak bertahun-tahun dahulu. Setidaknya, itulah yang menjadi pengantar dari Ishak Salim dalam Jurnal Difabel Volume 2 No. 2 Tahun 2015.

Di Yogyakarta, komunitas atau masyarakat difabel yang mendesak pemenuhan hak mereka bisa ditemukan dengan mudah. Beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat difabel mulai banyak berdiri dan bergiat dalam memperjuangkan hak mereka. Nama-nama seperti SIGAB (Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel), Dria Manunggal, Ciqal (Center for Impoving Qualified Activity in Live of People with Disabilities), SAPDA (Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak) dan beberapa lembaga yang bergerak di bidang yang sama lainnya tentu sudah tidak asing lagi. Ada juga yang bergerak melalui organisasi masyarakat seperti Majelis Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah.

Pergerakan tidak hanya menyasar pada kebijakan di ranah pemerintahan. Pergerakan juga menyasar pada pengikisan stigma pada masyarakat berbagai usia. Di ranah anak muda, pergerakan mulai terlihat pada upaya komunitas seperti DAC (Deaf Art Community), Braille’iant Indonesia, Diffcom (Difabel and Friends Community) dan komunitas lainnya.

Pergerakan yang masif dari difabel di Yogyakarta sebagai kota besar tentu tidak bisa disamakan dengan pergerakan difabel  kota-kota kecil di daerah. Perbedaan Sumber Daya Manusia dengan sosiokultur yang berbeda dan arus informasi membuat adanya jarak perbedaan yang kadang menganga diantara keduanya.

Banjarnegara adalah salah satu kota kecil di Jawa Tengah yang geliat pergerakan difabel mulai bergairah dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Dalam kurun waktu itu, setidaknya ada dua komunitas dan organisasi difabel yang lumayan memberikan angin segar bagi perjuangan mewujudkan Banjarnegara sebagai kota yang berpihak pada difabel. Dua komunitas dan organisasi difabel itu adalah Sahabat Difabel Banjarnegara dan Forum Komunikasi Difabel Banjarnegara (FKDB).

Sahabat Difabel muncul terlebih dahulu pada medio 2012 dengan ide yang digulirkan oleh beberapa mahasiswa nondifabel yang banyak terpapar pergerakan komunitas difabel di Yogyakarta. Ide tersebut dibawa ke Banjarnegara dan disambut antusias oleh anak muda Banjarnegara. Mulailah Sahabat Difabel berkegiatan pertama yaitu peringatan Hari Difabel Internasional Tahun 2012 di Alun-Alun Banjarnegara.

Dari kegiatan pertama itu, anggota Sahabat Difabel yang tadinya terdiri dari nondifabel mulai diisi dengan anak muda difabel potensial yang selama ini belum berani secara terang-terangan bergerak untuk memperjuangkan hak mereka.

“Setelah pengurus juga diisi oleh teman-teman difabel, pergerakan Sahabat Difabel Banjarnegara jadi lebih terarah karena kagiatan yang dilaksanakan menjadi lebih tepat sasaran dengan usulan dari mereka yang merasakan sendiri realitas difabel,” ujar Riza Azzumarridha Azra, Pendiri Sahabat Difabel Banjarnegara.

Menurut Riza, setelah anak muda difabel Banjarnegara masuk ke dalam Sahabat Difabel, kegiatan komunitas ini mulai lebih variatif setelah sebelumnya hanya berkegiatan pada peringatan Hari Difabel Internasional saja.

“Beberapa kegiatan kami seperti pelatihan bahasa Isyarat kepada masyarakat dengar di Alun-Alun Banjarnegara setiap hari Minggu pagi,” ujar Riza, sapaan akrabnya.

Bahkan, kata Riza, Sahabat Difabel Banjarneagara pernah mengadakan pelatihan bahasa Isyarat kepada para orang tua yang memiliki anak tuli di Banjarnegara. Pelatihan tersebut mendatangkan tuli pelatih bahasa Isyarat dan seorang juru bahasa Isyarat dari Magelang Jawa Tengah.

“Dari kegiatan itu, para orang tua yang memiliki anak tuli semakin merasakan pentingnya bisa berbahasa Isyarat,” tutup Riza.

Selain Sahabat Difabel Banjarnegara, satu organisasi lain yang juga aktif dalam pergerakan difabel Banjarnegara adalah Forum Komunikasi Difabel Banjarnegara (FKDB). FKDB lahir lantaran pergerakan difabel di Banjarnegara yang masih berjalan sendiri-sendiri.

Untung, Ketua Forum Komunikasi Difabel Banjarnegara, menyatakan bahwa saat pertama kali dibentuk, tujuan FKDB adalah menjadi payung komunikasi antar organisasi difabel di Banjaregara.

“Harus ada komunikasi dalam satu forum agar pergerakan tak berjalan sendiri-sendiri,” ujar Untung.  

Menurutnya, sebelum ada FKDB, pergerakan difabel di Banjarnegara masih menghadapi ego sektoral dari masing-masing organisasi difabel.

“Mereka berjalan dengan tujuannya masing-masing dan jika tak sesuai satu sama lain, mereka tak akan saling mendukung,”cerita Untung.

Saat dibentuk, semua perwakilan dari organisasi difabel di Banjarnegara bertemu dan masuk ke dalam pengurusan sebagai bentuk keikutsertaan semua organisasi difabel di Banjarnegara dalam FKDB.

Satu kegiatan penting telah diadakan oleh FKDB pada bulan Maret 2017 adalah menyelenggarakan Sarasehan Difabel Se-Banjarnegara di Sekertariat Sahabat Difabel yang dihadiri oleh seratusan difabel se-Banjarnegara. Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk merespon DPRD Banjarnegara yang sedang menyusun Perda Perlindungan dan Pemberdayaan Difabel dengan menginventarisir usulan pada isi Perda agar sesuai dengan realitas difabel di Banjarnegara.

Selain itu, pengurus FKDB juga mengadakan pertemuan dengan Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banjarnegara pada bulan Oktober 2017 terkait dengan dukungan Dinas tersebut kepada NPC (National Paralympic Committee) Banjarnegara.

Dua komunitas dan organisasi di atas  lalu semakin menambah tren positif pergerakan difabel di Banjarnegara. Bulan Desember tinggal kurang dari sebulan lagi dan peringatan Hari Difabel Internasional tinggal di depan mata. Kolaborasi yang apik dengan dukungan dari berbagai pihak seperti Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah akan semakin memperkuat pergerakan difabel terutama dalam target jangka pendek yaitu Peraturan Daerah tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Difabel di Banjarnegara. (Yuhda)

The subscriber's email address.