Lompat ke isi utama
Penampilan Budi Tongkat "Butong" pada Monolog, di Tembi Rumah Budaya pada Program Acara Sastra Bulan Purnama, Jumat (3/11/2017).

Budi Tongkat “Butong”: Bermonolog, Mengeksplor Kemampuan Seni

“Perempuan-perempuan... Susah benar mengerti tentang perempuan. Apalagi perempuan pintar kayak begini. Orang pinter itu kadang keblinger, sudah jelas kok dibikin rumit. Apa-apa di teorikan, entah biar dibilang pintar, atau gimana?Ngomongnya saja sok-sokan Bahasa Inggris.. “I dont understain... I know... I see...sikilmu... haha...generasi now..generasi now gitoooh...hehe.”

Solider.od.id.Yogyakarta. Di atas merupakan petikan paragraf pementasan monolog yang dilakonkan oleh seniman bernama Sukri Budi Dharma atau yang akrab disapa Butong (Budi Tongkat). Nama panggilan Butong, sengaja dilekatkan oleh sahabat dan kerabatnya, sebagai sapaan apresiatif, penghargaan atas fakta keberbedaan, dan keberagaman. Nama panggilan yang mengidentikkan kondisi pria yang sehari-harinya menggunakan tongkat penyangga tubuh dalam beraktivitas dan bermobilitas itu.

Jumat (3/11/2017), Butong mendapatkan kesempatan mengeksplor kemampuan seni teaternya melalui monolog berjudul “Hati” karya Resmiyati, salah seorang penyair yang juga tampil malam itu.Pementasan digelar di Tembi Rumah Budaya, dalam acara rutin rumah budaya tersebut yang dibingkai dalam program “Sastra Bulan Purnama”. Selain Butong, tampil pula empat penyair perempuan yakni Resmiyati (Klaten), Umi Kulsum (Yogyakarta), Ristia Herdiana (Jakarta), dan Yuliani Kumudaswari (Sidoarjo). Serta musikalisasi puisi kelompok musik “Boleh Masuk” Ana Ratri dan Nyoto Yoyok.

Butong, boleh dibilang sebagai seniman serba bisa. Selain menekuni dunia seni rupa yakni lukis dan cukil, dia juga menekuni seni panggung, seni peran yakni teater. Dengan tongkat modifikasinya, Butong mengeksplor kemampuan berkeseniannya pada setiap kesempatan yang ditawarkan. Ya, tongkat penyangga tubuhnya memang dimodifikasi.  Terdapat tambahan “pancatan” guna meletakkan kaki kanannya yang lebih pendek dan berbeda fungsi dengan kaki kirinya.

Jumat malam itu, apresiasi penonton pada tiap babak aksi panggung sang monolog menghidupkan suasana, menghangatkan malam yang sesungguhnya sudah hangat karena mendung. Kepuasan penonton tergambar melalui tepuk tangan di akhir aksi panggung pentas monolog. Kali itu memang bukan pementasan pertama bagi Butong. Beberapa kali peran panggung sudah dilakoninya bersama komunitasnya, Difabel and Friends Community (Diffcom). Bahkan juara pertama pernah diperolehnya beberapa waktu lalu pada ajang lomba festival teater inklusi nasional 2017, di Bandung bersama kelompok teaternya “Rasa Ungu”. Sebagaimana diberitanya dan diunggah Solider pada link: https://www.solider.or.id/rasa-ungu-menjuarai-festival-teater-inklusi-nasional-2017.

Rendah hati, pembelajar

Namun demikian, pentas monolog merupakan yang pertama kali diperankannya. “Tidak mudah, tapi Butong berhasil menghipnotis para penontonnya.”Ungkapan tersebut mengemuka dari salah seorang pekerja seni bernama Ana Ratri yang malam itu juga tampil dengan musikalisasi puisinya.

Menurut Ana, bermain tunggal atau monolog itu bebannya sangat berbeda dengan main teater bersama. Ber-monolog, harus benar-benar menguasai alurnya, sendirian tanpa pancingan atau ping pong dengan lawan main. “Soal butong, menantang... tapi dengan kerendahan hatinya dia bisa belajar dengan cepat. Inilah nilai lebih dari butong,” ungkapnya pada Solider pada Sabtu (4/11/2017)

“Soal hasil, semua aman,” ujar  Ana.

“Penonton menerima maksud yang disampaikan. Itu sebuah ukuran keberhasilan. Pada masa mendatang, jika Butong ingin serius di teater ataupun monolog, dia harus lebih tekun berproses. Karena proses tidak akan pernah mengingkari hasil.” Catatan penjelasan Ana Ratri, yang sekaligus merupakan pesan motivasi bagi Butong.

Menyoal sikap inklusif

Bagi Butong, mendapatkan kesempatan pentas bersama para penyair dan pekerja seni profesional merupakan moment berharga. Setiap apresiasi penonton, disikapinnya dengan rendah hati. “Seneng mbak, apapun apresiasi dari penonton saya mengucapkan terima kasih. Dan saya akan terus belajar untuk mengoptimalkan kemampuan saya,” ungkapnya tanpa jumawa (sombong).

Dia juga mengapresiasi Tembi Tumah Budaya yang dipimpin oleh Ons Oentoro. Menurut Butong, Ons Oentoro dengan Tembi Rumah Budayanya sudah menanamkan nilai inklusivitas. Inklusivitas dilihatnya melalui keterbukaan rumah budaya tersebut memberikan kesempatan bagi dirinya secara pribadi dan Komunitas Diffcom untuk pentas di sana.“Pak Ons tidak melihat keberbedaan fisik kami, tetapi lebih pada apa yang bisa kami tampilkan,” jelas Butong.

Inklusif bagi Butong tidak sekedar menyediakan sarana atau aksesibilitas fisik, melainkan juga bersikap terbuka tanpa melihat perbedaan. “Pada diri pak Ons Oentoro memiliki pemikiran dan sikap tersebut. Itulah nilai inklusivitas sudah terbangun pada pribadi pak Ons dengan rumah budayanya,” ungkap Butong mengakhiri perbincangan dengan Solider.(harta nining wijaya).

The subscriber's email address.