Lompat ke isi utama
salah satu sudut area pedestrian di Denpasar

Area Pedestrian di Denpasar Belum Ramah Difabel

Solider.or.id, Denpasar - kurang lebih sebulan terakhir, saya menetap di Bali, tepatnya di selatan kota Denpasar. Dalam rentang waktu tersebut, saya berusaha mengamati kehidupan warga sekitar, utamanya warga difabel. Cukup banyak difabel yang saya temui dalam keseharian saya, daerah ini didominasi oleh difabel netra.

Hari pertama saya menetap di kota wisata ini, saya lantas tertarik menyaksikan garis kuning timbul (guiding block) yang saya temui di area pedestrian di beberapa jalan protokol kota Denpasar. Sayangnya, belakangan banyak ulah masyarakat setempat yang membuat garis kuning timbul tersebut menjadi tidak dapat digunakan oleh pejalan kaki difabel. Saya lantas menemui beberapa dari mereka, yang secara kebetulan saya temui saat melintas di sepanjang jalan raya Sesetan, area yang sepanjang jalannya dilengkapi guiding block.

               Pertama, saya menemui  Anton, seorang pedagang bakso keliling yang siang itu gerobaknya saya dapati tepat berada diatas guiding block, menghalangi pejalan kaki untuk melintas. Sambil menikmati semangkok bakso, saya pun berbincang dengannya. Menurutnya, ia sama sekali tidak mengetahui jika garis kuning yang sehari-hari ia tempati berjualan tersebut merupakan area khusus yang disediakan untuk difabel.

               “Selama ini, saya sudah lima tahun berjualan di sini, dan sama sekali belum ada komplen dari difabel pada saya.” jelasnya.

               Hal yang sama juga dikatakan  Tati, penjual nasi Jinggo yang juga menggelar lapak tepat diatas guiding block. Menurutnya, tak ada pemberitahuan padanya jika garis kuning timbul tersebut merupakan area khusus bagi difabel. “Saya setiap hari melihat difabel netra melintas disini, tapi mereka tidak pernah menggunakan garis tersebut. Lagi pula, difabel netra yang melintas tersebut ada penuntunnya.”

               Selain pedagang kaki lima, banyak pula saya dapati kendaraan roda dua maupun roda empat yang terparkir di area pedestrian. Bahkan tak jarang pula saya temukan sampah, gulungan kabel dan sesajen, yang tanpa sengaja saya injak saat mencoba menggunakan guiding block tersebut untuk melintas.

 

               TANGGAPAN DIFABEL

 

               Seperti yang saya katakan sebelumnya, cukup banyak difabel yang sebenarnya beraktifitas di area jalan raya Sesetan, yang secara langsung seharusnya mengetahui keberadaan guiding block tersebut. Ada enam difabel netra yang berhasil saya temui, empat diantaranya merupakan penerima beasiswa dari pemerintah Australia, yang saat ini sedang mengikuti kursus di IALF (Indonesia Australia Language Foundation), yang juga terletak di jalan raya Sesetan. Dua lagi merupakan warga lokal Denpasar, yang berprofesi sebagai pemijat.

               Dua warga lokal yang sayangnya tak mau disebutkan namanya ini mengaku bahwa mereka sama sekali tidak mengetahui apa itu guiding block. Saat saya mencoba menjelaskan pada mereka, barulah mereka sedikit ada gambaran bagaimana dan apa fungsi dari guiding block tersebut. Mereka mengaku tidak pernah mendapat pemberitahuan ataupun sosialisasi sehingga mereka tidak faham soal fungsi guiding block itu.

               Selanjutnya saya berbincang dengan dua difabel netra total asal Semarang (Ari Triono dan Eka Pratiwi Taufanty). Keduanya mengetahui keberadaan guiding block tersebut, namun kesulitan menggunakannya.

               “sebenarnya kondisi trottoar Denpasar sangat jauh dari kata aksesibel. Sulit bagi difabel untuk bisa mandiri menggunakannya. Kondisinya tidak rata, dan cenderung berundak-undak. Belum lagi kadang tiba-tiba ada tiang dan pohon di tengah-tengah guiding block tersebut” jelas Eka.

               Ari menambahkan, “kadang saya merasa khawatir saat berjalan sendiri, karena seperti kita ketahui, mayoritas penduduk Bali beragama Hindu, dan sehari-hari ada sesajen yang mereka letakkan diatas guiding block tersebut. “Saya khawatir saat saya melintas sendiri, saya akan menginjak sesajen itu, yang mungkin membuat warga lokal tidak senang.”

               Hal berbeda saya temukan saat berbincang dengan dua difabel lowvision lainnya asal Makassar, Fandi Dawenan dan Angga. Fandi mengetahui keberadaan guiding block tersebut, tetapi kondisi penglihatannya masih memungkinkannya  untuk melintas secara mandiri, tanpa harus dituntun, dan menggunakan guiding block tersebut. Hal sama juga dikatakan Angga, akan tetapi, Angga baru mengetahui jika garis kuning timbul tersebut merupakan guiding block.

               “sebenarnya, saya sering menemukan hal seperti ini di beberapa jalan besar di Makassar, akan tetapi saya baru tahu kalau itu ternyata guiding block.” Tutupnya.

               Sayangnya, menjelang perpisahan saya dengan kota Denpasar, tak ada satu orang pun baik itu dari pihak pemerintah maupun organisasi setempat yang bisa saya ajak diskusi, agar Denpasar kedepannya bisa lebih ramah bagi difabel. Tentunya, kita sangat mengapresiasi keberadaan guiding block tersebut. Namun butuh kerja  untuk menata kota  ini agar semua pihak tanpa terkecuali difabel, bisa lebih nyaman baik ketika akan menetap ataupun sekedar berlibur.

Selain itu, masih banyak difabel yang tidak tahu apa itu guiding block. Ini tentu saja menjadi tugas kita semua, untuk mengedukasi teman-teman difabel lainnya yang tidak dijangkau oleh organisasi difabel. Hal ini agar mereka juga bisa menggunakan fasilitas yang telah disediakan negara pada mereka. (Ramadhan Sharro)

The subscriber's email address.