Lompat ke isi utama
aktivis difabel dan gerakan sosial di Malang sedang melakukan aksi

Tantangan dan Harapan Gerakan Sosial Inklusif di Malang

Solider.orl.id, Malang - Menengok pergerakan difabel di Malang rasanya tak satupun diantara mereka yang begerak sendiri dalam organisasi yang bersifat ekslusif melainkan bergerak bersama secara inklusif. Mereka menjalin ikatan yang berdampak positif pada segenap masyarakat difabel karena terbukanya kesempatan lebih luas melalui berbagai program lintas organisasi.

Gerakan sosial inklusif organisasi difabel dalam pandangan Koordinator Forum Malang Inklusi (FOMI) Kertaning Tyas adalah wujud peningkatan kesadaran berorganisasi. Terbentuknya mindset difabel sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai hak yang sama sebagai warga negara.

"Ini yang akan mengikis secara lebih cepat stigma bahwa difabel manusia kelas dua, dengan fakta pencapaian positif lintas organisasi difabel dan kontribusi mereka dalam pembangunan," tutur Kerta.

Terlepas dari hasil, kelompok difabel di Malang telah berproses dengan baik dan akan terus berproses. Ditandai dengan beberapa pencapaian penting berkaitan dengan respon Pemerintah dan masyarakat.

"Di Kabupaten Malang saat ini proses advokasi adanya Perda Disabilitas masih terus berjalan," ungkap Kerta. Dalam hal ini DPRD Kabupaten Malang masih berupaya bersama Forum Malang Inklusi mendesak Pemkab untuk merealisasi usulan Perda Disabilitas. Juga di bidang lainnya telah terhubung secara baik dengan Polres Kabupaten Malang untuk advokasi SIM D bagi tuli.

Sementara di Kota Malang, terkait layanan kesehatan Puskesmas Kedung Kandang bersama FOMI berinisiatif membuat video sosialisasi kesehatan dengan menyertakan bahasa isyarat, visiting home untuk difabel dengan hambatan total mobilitas, pendampingan warga yang mengalami kusta dan merintis desa inklusi.

"Ini berkat kerjasama baik dengan Malang Corruption Wacth (MCW) dan Forum Masyarakat Peduli Kesehatan (FMPK) yang menfasilitasi FOMI terhubung dengan lintas pemangku layanan kesehatan di Kota Malang, " jelas pria pendiri Lingkar Sosial ini.

Sedangkan di Kota Batu, pemerintah setempat merespon baik, belum lama Pemkot menggelar upacara peringatan sumpah pemuda dengan menyertakan bahasa isyarat dalam prosesi pembacaan ikrar Sumpah Pemuda.

Forum Malang Inklusi sebagai organisasi yang mewadahi diskusi lintas organisasi difabel, sosial dan kemanusiaan di Malang Raya pun tak lahir dari satu tangan. Ada Lingkar Sosial (Linksos) organisasi dengan misi membangun persatuan dan kesatuan aktor-aktor sosial menginisiasi lahirnya FOMI melalui gerakan Satu Misi menuju Malang Raya ramah difabel. Linksos menggalang lintas organisasi dalam satu forum yang inklusif.

"Adanya Forum Malang Inklusi pun tak lepas dari arahan para senior seperti Direktur LBH Disabilitas, Hari Kurniawan serta pemerhati pendidikan inklusi, Sayekti, " ungkap Pendiri Lingkar Sosial, Kertaning Tyas.

Peran Linksos hanya menghubungkan satu organisasi dengan organisasi lainnya.

Termasuk dukungan rekan-rekan HWDI Malang, Gerkatin Kota Malang dan organisasi kemanusiaan Lawang Rescue di awal pendirian FOMI, imbuh Kerta. Serta beberapa perwakilan organisasi yang hadir dalam deklarasi FOMI diantaranya PPRBM Bakti Luhur, Komunitas Rumah Sahabat, Koperasi Satu Jiwa dan IPC Kabupaten Jombang dan wisata Petik Madu.

Jauh sebelum ada FOMI pergerakan difabel di Malang sebenarnya telah ada, hanya saja memerlukan waktu yang tepat untuk saling sinergi dan kolaborasi. Tantangannya adalah menyatukan persepsi satu organisasi dengan organisasi lainnya.

Ada Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Malang yang bergerak untuk pemberdayaan perempuan.  Didalamnya terdapat sumbangsih Difabel Motorcycle Indonesia (DMI) Malang di hampir setiap aktivitasnya.

"Bahkan sejak berdirinya HWDI Malang, DMI turut membantu. Mereka organisasi difabel yang dapat begerak lebih cepat karena memiliki sarana transportasi kendaraan khusus difabel sepeda motor roda tiga," ungkap Ketua HWDI Malang, Siswinarsih.

Sementara DMI Malang pun tak lepas dari kerjasama dengan pihak lainnya, diantaranya Federasi Otomotif Malang (FOM) terkait dengan aktivitas mereka dibidang transportasi.

"Kami bersama DMI Malang mendampingi difabel menfasilitasi teman-teman untuk pembuatan maupun perpanjangan SIM D," tutur Ketua FOM, Joni Bambang Sucahyono.

“FOMI juga memberikan pelatihan tentang lalu lintas, tentang rambu-rambu juga mekanisasi otomotif sehingga pengetahuan tentang hukum lalu lintas dan kendaraan bermotor bertambah”, ujar Ketua DMI Malang, Abdul Wachid membenarkan. Dalam hal ini mereka bekerjasama dengan pihak Kepolisian.

Kabar terkini, dua organisasi otomotif ini membantu Forum Malang Inklusi (FOMI) mendampingi difabel tuli bersama Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Kabupaten Malang untuk proses pembuatan SIM D.

Dari organisasi difabel netra, Persatuan Tunenetra Indonesia (Pertuni) Malang aktif bersama FOMI memberi masukan pada pemerintah melalui Musrenbang dan forum-forum lainnya. Lebih khusus di bidang seni, Lingkar Sosial mendampingi grup band difabel netra yang kini sudah cukup mapan dan mandiri tanpa pendampingan.

Sementara dari organisasi tuli terdapat Gerkatin Kota/ Kabupaten Malang, Aksi Arek Tuli (Akar Tuli Malang) dan Shining Tuli Kota Batu yang kompak mensosialisasikan bahasa isyarat Indonesia atau Bisindo.

"Tuli mengkampanyekan Bisindo untuk kesetaraan komunikasi, " tutur Ketua Gerkatin Kota Malang, Sumiati. Bersama Lingkar Sosial, organisasi tuli talah terhubung dengan pihak yang lebih luas terkait kampanye Bisindo.

Masih di tahun ini, mereka bersama program 1000 Sepatu untuk Anak Indonesia membuat kelas bahasa isyarat di SD Muhammadiyah 10 Sumbermanjing Kulon juga pelatihan Bisindo bersama Lawang Rescue dan komunitas anak jalanan Lawang Street Punk.

"Disinilah sebenarnya ruh semangat kemerdekaan, ruh sumpah pemuda dan ruh ke-Bhinneka Tunggal Ika-an hadir dalam jiwa pergerakan difabel, tutur Kerta kembali.

Kerta berharap kepedulian masyarakat akan terus meningkat utamanya kesadaran difabel tumbuh dari dalam diri untuk adanya perubahan.

"Dua hal penting terkait gerakan sosial inklusif. Pertama, inklusif tak membedakan difabel dan nondifabel dalam peran sosial, semua sama atau setara. Kedua, pemberdayaan menempatkan seseorang atau masyarakat sebagai subyek yang mampu mengadvokasi diri sendiri. Peran organisasi hanya mewadahi dan menciptakan ruang representasi bagi anggota/ masyarakat," pungkas Kerta. (Ken)

The subscriber's email address.