Lompat ke isi utama
Cak Fu, sosok aktivis gerakan kesetaraan hak bagi difabel di Insonesia.

Cak Fu, Memaknai Kegagalan

Solider.or.id.Yogyakarta. Hampir semua jiwa pasti pernah berjumpa dengan yang namanya gagal. Ada sisi menyakitkan pada tiap-tiap kegagalan. Namun, dalam setiap kegagalan selalu ada kisah yang harus dimaknai. Mengantar pembelajar menjadi lebih pintar. Gagal atau jatuh, hanyalah sebuah sesi instropeksi, harus menyiasati diri agar bisa bangkit lagi. Bahkan ada yang berkeyakinan bahwa sesungguhnya kegagalan itu bagian dari modal menuju sukses (cost of success).

Bahrul Fuad, atau yang biasa disapa dengan nama panggilan Cak Fu, salah seorang yang berkeyakinan itu. Dia pernah berjumpa dan sanggup berdamai dengan kegagalan. Beberapa waktu lalu, pejuang gerakan kesetaraan hak difabel di Indonesia itu gagal mencalonkan diri sebagai Komisioner Komnas HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia) periode 2017-2022. Ya, Cak Fu, pria ramah asal Jombang itu, tetap dengan senyum segar yang menghias wajah pada berbagai kesempatan.

Keramah tamahaan dan senyum menjadi ciri khas, style seorang Bahrul Fuad. Tak tersirat kecewa di wajah pria yang bermobilitas dengan kursi roda itu. Kursi roda telah menjadi pengganti kakinya, yang membawanya menjadi seorang Cak Fu hingga saat ini. Pada satu tahun usianya dia terserang demam tinggi, kejang, dan dokter memvonisnya  Cerebral Palsy. Sejak saat itu, dengan dukungan dan kasih sayang penuh kedua orangtua, khususnya sang ibu,  perjuangan demi perjuangan keras mulai diakrabinya. Ia tumbuh menjadi seorang pria yang penuh percaya diri dan bersemangat tinggi. Jiwa pejuang telah menjadi urat nadi seorang Cak Fu. Dalam merah darahnya, jiwa dan semangat pejuang telah menyatu, tak terpisahkan.

Dibalik style ramahnya, Cak Fu menyimpan sejarah, terkait kegagalan yang pernah menghampirinya. Juga moment-moment bahagia, haru dan lucu bersama orang-orang yang dicintai dan mencintainya, bersama keluarga kecilnya.

Pengalaman tidak bisa dipelajari

Dijumpai pada saat memfasilitatori kegiatan Penyusunan Draft RPP (Rancangan Peraturan Pemerintah) sebagai turunan UU Penyandang Disabilitas, di Hotel Jogja Plaza, Selasa (31/10/2017) Cak Fu berbagi cerita. Di jeda waktu istirahat, dibagikannya beberapa penggal kisah. Terkait kegagalan pencalonan dirinya sebagai Anggota Komnas HAM, mendominasi kisahnya sore itu, ditambah kisah seru, haru, lucu yang mewarnai hari-hari Cak Fu.

“Kecewa atas kegagalan itu Cak?” tanyaku membuka bincang-bincang santai saat Cak Fu bebas tugas sore itu. Secara pribadi tegas dikatakannya tidak! Tapi secara organisasi dia mengatakan kecewa, atas kinerja Panitia Seleksi (Pansel) yang tidak memiliki perspektif kelompok rentan.

Dia menyayangkan Tim Pansel yang tidak melihat dirinya sebagai satu-satunya representasi korban. “Bagaimana mungkin Pansel menggunakan standar test yang sama dengan peserta lain?” ujarnya menggambarkan kegundahan hatinya. Kami berempatbelas orang yang lolos pada babak akhir, tentu memiliki spesifikasi masing-masing, pengalaman masing-masing, lanjut dia.“Sehingga babak akhir  tentunya bukan untuk menguji kemampuan lagi, melainkan uji representatif seharusnya!” ungkap Cak Fu.

”Saya gagal pada test terakhir,” ujarnya. Terlihat getir di sudut bibir. “Padahal jika saja Pansel jeli, mestinya saya salah satu kandidat yang berpeluang terpilih,” lanjutnya. “Kenapa Cak?” ingin tahuku.“Karena saya memiliki nilai positif untuk mengangkat Korban Pelanggaran HAM,” Cak Fu menyuguhkan argumen.

Menurut Cak Fu, kasus pelanggaran HAM, diskriminasi terhadap hak kelompok minoritas seperti LGBT, Syiah, Ahmadiyah, demikian pula dengan kelompok masyarakat difabel, seluruhnya tidak bisa disepelekan.“Saya punya pengalaman itu, terdiskriminasi. Terdiskriminasi pada masa belum ada gerakan kesetaraan hak. Terbayang bagaimana saya dan kaum marjinal harus berjuang sendiri?” kisah Cak Fu. 

“Pengetahuan dan kemampuan (skill) bisa ditransferi, tetapi pengalaman menjadi korban pelanggaran HAM, tidak! Pansel mengabaikan itu. Sangat disayangkan kinerja Pansel,” tandas Cak Fu.

Sesaat merefresh perjalanan Cak Fu menuju Komnas HAM. Pada last minutes (menit terakhir) waktu pendaftaran, tekad melamar baru dibulatkan. Bukan karena ragu, katanya. Mempertimbangkan perasaan, pendapat dan support dari orang-orang yang dicintainya memintanya berpikir lebih jernih. Setelah dukungan penuh iklhas didapatkan, barulah Cak Fu memantapkan diri memasukkan berkas lamaran. Bagi Cak Fu, doa restu ibu, Istri, dan anak, menjadi alasan utamanya menjatuhkan keputusan.

Cak Fu melanjutkan ceritanya. Dia satu di antara 199 orang yang lolos seleksi administrasi. Seleksi kedua yakni tes pengetahuan, menulis paper, makalah. Cak Fu lolos, dan bergabung dengan 60 calon anggota Komnas HAM, yang selanjutnya akan mengikuti seleksi terbuka uji publik, untuk mengisi komisioner periode 2017-2022.

Selain uji publik terhadap 60 orang terpiih, seleksi penelusuran latar belakang terkait keterlibatan terhadap organisasi masyarakat dan Lembaga Sosial Masyarakat pun dilakukan olen Pansel. Dan lagi-lagi Cak Fu melenggang terpilih dalam 28 orang terseleksi menuju tahapan selanjutnya. Di mana tahapan seleksi selanjutnya ialah uji psikotest dan wawancara akhir menuju 14 calon terpilih. Dari 14 calon terpilih, selanjutnya diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk diseleksi lagi menjadi tujuh orang terpilih, yang akan disyahkan sebagai Komisioner Komnas HAM periode 2017-2022.

Langkah itu tertahan

Di sanalah langkah Cak Fu menuju kursi Anggota Komisioner Komnas HAM 2017-2022 tertahan. Namun bagi Cak Fu, kegagalan bukanlah akhir tetapi suatu kesempatan untuk belajar sesuatu yang baru, dan kesempatan untuk mencoba cara lain untuk memecahkan masalah yang sama.“Artinya, mau mencoba lagi Cak?” secepat kilat kuajukan pertanyaan. “Belum tahu?” jawab Cak Fu ragu.

Tokoh gerakan kesetaraan hak kaum marjinal itu masih tak yakin untuk mencobanya lagi. Berbagai pertimbangan menjadi alasannya untuk ragu. Biar hanya Cak Fu yang tahu alasan itu.

Masih mengenang langkahnya yang tertahan, Cak Fu berujar: “Di tengah hiruk-pikuk isu minoritas-mayoritas, ujian kebhinekaan, saya yang merupakan representasi dari korban tidak dilihat. Perjuangan saya hingga sampai pada titik 14 orang terseleksi, tidak juga menjadi sebuah catatan bagi Pansel,” catatnya.

Tidak hanya perjuangan dalam beradu kemampuan, penulisan, dan serangkain tes lainnya. Cak Fu juga harus merangkak naik dan turun tangga demi tangga dari lantai satu ke lantai tiga, kembali turun ke lantai satu Gedung Komnas HAM yang tanpa lift itu.

“Bukan sedang mengeluh loh ini mbak, tapi saya sedang membuat catatan,” kilahnya.

“Keluar dari zona nyaman itu harus. Setiap kali ada kesempatan harus dioptimalkan. Ketika gagal, dan mampu mengatasi rasa kekecewaan, saat itu kita sedang menggali lebih dalam kekuatan di dalam diri yang bisa jadi tidak kita ketahui. Kita telah berhasil tumbuh menjadi lebih kuat. Kegagalan itu akan membantu siapapun menemukan kekuatan dalam diri untuk melanjutkan pekerjaan.”Bagian catatan kecil Cak Fu memaknai kegagalan.

“Kita tidak bisa memaksakan pikiran kita kepada orang lain, tapi kita bisa memaksa diri kita menerima pikiran orang lain,” bagian lain catatan Cak Fu.

“Kegagalan ialah sebuah momen, bukan sebuah akhir,” kembali saya diberikan catatan.

“Pembelajaran penting lain ialah, tidak mudah keluar dari stigma. Terutama stigma yang diciptakan lingkungan, bahwa difabel itu tidak mampu, berpotensi rendah. Stigma itu terbukti menjadi hambatan, tapi kita tidak boleh lelah dan menyerah,” ujar pria mungil itu.(harta nining wijaya).

The subscriber's email address.