Lompat ke isi utama
Puserbumi Perkusi sedang tampil di Thaiand

Puser Bumi, dari Macam Genre Musik ke Tradisional

Solider.or.id, Yogyakarta. Pada mulanya, Abdullah Fikri tidak mengira jika ia akan berlatih menggunakan alat musik tradisional macam bonang ataupun siter. Ia merasa kaku dan gugup karena sebelumnya hanya terbiasa memetik senar gitar, memegang stik dan menginjak pedal drum. Rasa kaku dan gugup yang juga sama dialami oleh hampir semua dari enam personil Puser Bumi ketika pertamakali berlatih.

Puser Bumi merupakan sebuah grup band perkusi yang terbentuk dari para personelnya yang memiliki ragam genre musik yang berbeda-beda. Mulai dari dangdut, pop, rock, pop rock, sampai jazz. Latar belakang genre musik yang berbeda, dipertemukan dalam sebuah band yang lahir dan dibentuk mendadak itu, untuk memenuhi sebuah undangan kompetisi acara akbar yang diadakan di Thailand bulan Juni 2017 lalu.

Acara yang diselenggarakan The Asia-Pacific Development Center on Disability (APCD) itu bertema Disability Drum Performance in ASEAN and Japan in Commemoration of 50th Anniversary of ASEAN, tepatnya di Bangkok, pada 2-3 Juni 2017.

Enam personel Puser Bumi, yaitu Tri Umaryadi di bagian alat musik jimbe dan rebana. Robi Agus Widodo yang ditugaskan untuk menabuh gendang jaipong, Ridwan memegang jimbe dan rebana, Ristanto yang bertugas memainkan alat musik rebana dan tradisional, Arif di bagian drum dan bonang, dan Abdullah Fikri memegang bonang dan siter.

Tri sapaan akrab Tri Umaryadi, merasa wajar jika membutuhkan waktu selama tiga bulan latihan, sebelum akhirnya tampil memuaskan di hadapan para penonton di negeri Gajah Putih itu. Meski demikian, ia hampir tidak percaya.

Dua kali tampil membawakan musik instrumen bergenre tradisional hasil gubahan mbah Kubro, sang pelatih, telah berhasil memeriahkan panggung. Tri menjelakan Pusar Bumi memiliki arti pusat bumi, “atau alam” jelasnya. Dua kata yang diusulkan mbah Kubro tersebut diambil dengan menyesuaikan genre musik yang dibawakan.

Ia mendengar terikakan, tepuk tangan meriah dari para penonton, yang dilanjut suara-suara jepretan kamera menggema sampai kepanggung usai tampil. “Sangat membanggakan,” kenang Tri ketika ditemui Solider di SLB Yaketunis.

Selain hobi dalam bermusik, Tri juga menjadi seorang guru di SLB yaketunis sekaligus merangkap pembina osis. Ia merasa sangat senang dalam bermusik. Ia terbiasa mendengarkan lagu-lagu jazz yang diputar usai bel istirahat sekolah, atupun sepulang mengajar. Lagu-lagu jazz ia dapat dari seorang kawan yang juga menyukai genre musik jazz, selain hasil dari mengunduh di internet ataupun di warnet.

Bagi Tri, memainkan alat musik tradisional memiliki tantangan tersendiri. Ketika di rumah usai sepulang dari berlatih, ia menyempatkan waktu untuk membiasakan diri mendengarkan musik-musik instrumen gamelan, dan musik tradisional. Ia juga menghafal notasi yang mulanya dirasa asing. “Semisal seperti nadanya. Nadanya itu bukan do re mi fal sol la si do, tapi do re mi pa so la si bes,” ejanya.

Tri juga tidak menyangka sepulang tampil di Bangkok, Pusar Bumi mendapat tawaran manggung di beberapa acara. Selain itu, kedatangan dua orang perwakilan dari APCD untuk memfasilitasi dengan mengadakan alat-alat musik tradisional usai penampilan mereka di Thailand. Sebuah penghargaan yang membuat para personel Puser Bumi bertambah semangat.

“Bahkan acara di Thailand itu berlanjut sampai tahun depan, kita diundang lagi di Singapura sekitar maret tahun depan,” tuturnya sumringah.

Seperti Fikri, Tri merasa kikuk di hadapan alat musik yang baginya berbeda dari alat musik yang biasa ia mainkan. Ia bilang, hal itulah yang membuat proses latihan membutuhkan waktu panjang, untuk beradaptasi dengan genre baru di luar pengalamannya dalam bermusik.

Bahkan, seringkali terjadi not yang tidak sesuai atau melenceng karena salah pukul ketika latihan. Mereka mengulangnya dari awal, secara terus-menerus, yang diakhiri gelak tawa para personel sendiri di akhir latihan.

Lain dari Tri dan personel lainnya, Fikri pengagum musik-musik bergenre Pop dan Rock. Sederet gitaris terkenal menjadi inspirasinya dalam bermusik. Macam Dewa Bujana, Andra, dan Slash gitaris Guns n Roses sebelum digantikan Ron ”Bumblefoot” Thal di era 2006an.

Meski beberapa dari mereka sudah ada yang terbiasa dengan alat musik gamelan, Robi Agus Widodo salah satunya. Namun menurut Fikri, tidak dipungkiri jika saat latihan masih terjadi kesalahan dan ketidaksuaian notasi nada. Karena selain dari alat musik yang berbeda, juga memadukan instrumen lagu dan not yang lumayan rumit daripada musik yang biasa ia dengar. Tantangan lain, para personel harus memiliki kemistri yang kuat, dan kecermatan dalam mendengarkan alat musik ketika dimainkan.

Fikri mengaku mempelajari musik-musik tradisional tidak semudah memahami musik-musik pop ataupun rock. Meski demikian kehadiran Agus sebagai bagian dari personil, pengalamannya sangat membantu untuk mengarahkan personel lainnya dalam memahami alat musik tradisional. “Dia mengusasi banyak instrumen gamelan, macam gendang, suling, siter dan lainnya,” tukasnya (3/11).

Kedepan, Puser Bumi tidak hanya menyuguhkan musik-musik instrumen tradisional. Menurut Fikri, lagu-lagu tradisional perlu dipadukan dengan musik modern dari genre-genre yang berbeda. “Itu dilakukan karena biar lebih dipahami masyarakat. Selain untuk mengasah kreatifitas para personel,” jelasnya.

Bagi Fikri, memukul bonang, meniup seruling, memetik senar siter, meraba butiran kacang hijau di atas nampan untuk menimbulkan suara natural, dan lainnya adalah pengalaman baru dalam bermain alat musik tradisional. Jika sebelumnya jari-jarinya terbiasa memetik enam senar gitar atapun memegang stik drum yang memiliki ukuran kecil dan panjang dari pemukul bonang.

Namun Fikri beruntung, ia dan personel Puser Bumi lainnya berhasil menguasai alat musik tersebut. Hal lain yang lebih membanggakan bahwa, ia membawa harum nama Indonesia dan kebudayaannya di kancah internasional. “Patut dihargai,” pungkasnya.

Musik-musik yang disuguhkan Puser Bumi terilhami dari keragaman budaya di Indonesia. Keragaman budaya kemudian, dikonversi baik secara simbolik melalui alat-alat yang dipakai, juga dalam alunan musik etnisitas itu sendiri. Hal itulah yang menjadi ikon Puser Bumi. “Tentu juga untuk melestarikan kebudayaan kita. Disamping menjadi sebuah ruang untuk menyebarkan isu-isu difabilitas,” pungkasnya.

Banyak Potensi tapi Minim Ruang

Lebih lanjut, Fikri mengatakan ruang untuk mengeksplorasi bermusik dalam seni dan kebudayaan itu sendiri, khususnya bagi difabel masih minim. Hal tersebut tidak sebanding dengan jumlah difabel pegiat yang memiliki potensi di kesenian. “Kita ambil format kesenian yang di Thailand kemarin, di Indonesia belum ada,” katanya.

Minimnya ruang, berdampak pada kemubaziran potensi difabel dalam berkesenian. Banyak dari mereka terabaikan dan berakhir menjadi musisi jalanan. Fikri mengambil contoh, sebagian dari kawan-kawan difabel netra lebih mengeksplor potensinya di jalanan sebagai mata pencaharian. Sehingga, wajar jika sebuah pandangan mengatakan difabel netra identik dengan “pengamen jalanan” atau dalam bidang lain, pemijat, dan lain sebagainya.

Fikri melanjutkan, pengarusutamaan isu difabilitas hanya berjibaku di wilayah pendidikan, gerakan politik, dan pemberdayaan. Sedangkan seni dan kebudayaan sering terabaikan. Padahal sumber daya manusia, khususnya difabel banyak yang memiliki potensi di bidang tersebut.

Menurut sepengetahuan Fikri, di Indonesia belum ada semacam NGO yang fokus di bidang tersebut. Meski ada beberapa komunitas yang berjuang melalui kesenian, misalkan musik dancer, atau yang sifatnya individual. Namun tak ayal,  jika dorongan terhadap pemerintah juga masih lesu maka potensi akan redup di tengah jalan, karena tidak dikawal sampai tataran kebijakan.

Fenomena yang terjadi selama ini, banyak dari difabel yang eksprolari di dalam sebuah kompetisi, baik di televisi ataupun tingkat kedaerahan akhirnya berhenti.

Menurut fikri, akan lebih baik jika ditinjak lanjuti. Potensi tersebut bisa dikembangkan lebih jauh untuk menghasilkan produktifitas yang terus-menerus.

“Semisal dalam seni bermusik, pemerintah Kemendikbud bisa memfasilitasi hal itu dengan adanya ruang untuk membuat sebuah lagu, sampai  dapat dinikmati di masyarakat,” harapnya.

Fikri juga berharap lahirnya Puser Bumi yang notabene di Yogyakarta sebagai kota budaya, menjadi pemantik bagi difabel pegiat kesenian untuk lebih berani mengeksplorasi dirinya lebih jauh. Turut berkontribusi dalam kesenian dan melestarikan kebudayaannya masing-masing. [Robandi]

The subscriber's email address.