Lompat ke isi utama
 Para siswa difabel sedang melakukan olah raga.

Olah Raga Tak Cukup Menjadi Alternatif Dari Mahalnya Biaya Terapi Bagi Difabel

Solider.or.id, Bandung - Salah satu hak difabel yang mendapatkan jaminan dan tercantum dalam Undang-undang No 8 Tahun 2016 adalah tentang hak kesehatan. Hal tersebut diatur pada pasal 12 (c), ‘Memperoleh kesamaan dan kesempatan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau.”

 

Bila mengacu kepada isi kandungan pasal tersebut, pelayanan kesehatan bagi  difabel tentunya harus aman, harus memiliki mutu yang berkualitas layaknya pelayanan yang diberikan kepada masyarakat umum. Selain dua hal tadi, biaya kesehatannya pun dipastikan dapat dijangkau oleh difabel atau keluarga yang membiayainya.

Namun, benarkah layanan kesehatan bagi para difabel sudah dapat diakses dengan baik?

Mari kita coba menengok ke lapangan serta meninjau bagaimana pelayanan kesehatan yang sudah diberikan kepada para difabel.

Di lingkungan masyarakat, masih banyak difabel yang merasakan kurang terfasilitasi dalam mengakses kesehatan. Salah satu kendala yang dihadapi difabel ketika membutuhkan layanan kesehatan adalah mahalnya biaya yang mesti dikeluarkan.

Contoh sederhana, saat difabel membutuhkan layanan terapi yang akan sangat membantu pada kondisi kesehatan tubuhnya. Terapi yang dibutuhkan tentu akan berbeda bagi setiap individu difabel. Untuk itu, tahapan awal ketika hendak melakukan terapi akan ada sebuah observasi. Hasil dari observasi inilah yang kemudian dapat membantu menganalisis jenis terapi yang dapat diberikan sesuai dengan kebutuhan.

Terapi pun tidak dapat diberikan hanya satu kali saja. Pada umumnya setiap terapi yang diikuti oleh para difabel dianjurkan untuk terus dan berkelanjutan. Artinya, akan ada proses dan tahapan terapi yang harus dilalui oleh difabel sesuai dengan yang dibutuhkannya.

Sebuah terapi yang diberikan, dianggap berhasil ketika kondisi difabel mampu melakukan atau memiliki perubahan menuju yang lebih baik dari sebelumnya.

Dari sebuah sumber yang mengangkat tema tentang terapi dan biaya, menyebutkan angka nominal yang harus disiapkan difabel untuk melakukan terapi di sebuah klinik berkisar 1,6 juta hingga 2 juta rupiah. Terapi dilakukan secara bertahap dalam 8 sesi pertemuan dengan durasi terapi sekitar 1,5 jam/sesinya.

Harga yang fantastis bukan?

Untuk satu kali terapi, difabel atau keluarga yang membiayainya mesti mengantongi sekitar 200 ribu atau 250 ribu untuk melakukan satu kali terapi saja. Belum lagi ditambah biaya transportasi dan lain sebagainya. Juga waktu yang harus dialokasikan untuk menjalani proses terapi tersebut hingga tuntas.

Lalu, apakah kisaran biaya terapi tersebut mampu dijangkau oleh setiap individu difabel atau keluarganya?

Tentu saja jawabannya tidak semua difabel atau keluarganya mampu untuk menanggung biaya tersebut. Mungkin banyak difabel yang merasa tidak mampu membiayai, sehingga terapi yang sangat penting dan dibutuhkan difabel pun sengaja diabaikan. Walaupun, pada umumnya baik individu difabel maupun keluarganya sangat menyadari dan mengetahui pentingnya manfaat dari layanan kesehatan berupa terapi akan tetapi, mereka sulit untuk mengaksesnya.

Kendala lain yang dihadapi difabel dalam layanan kesehatan adalah, belum semua rumah sakit atau tempat pengobatan memiliki layanan khusus untuk kesehatan difabel secara detail. Bentuk pelayanan yang baru dapat diberikan hanya sebatas pengobatan layaknya nondifabel mengalami sakit.

Padahal, individu difabel memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda dengan nondifabel ataupun dengan jenis difabel lainnya. Oleh karena itu, salah satu hak difabel yang diamanatkan dalam Undang-undang No 8 Tahun 2016 yaitu tentang akses kesehatan.

Kendala mahalnya biaya terapi  dirasakan oleh orang tua Merry. Difabel Cerebral Palsy (CP) pengguna kursi roda, Merry (22) pernah mengikuti serangkaian terapi untuk menjaga kondisi tubuhnya agar tetap lentur dan dapat bergerak.

Dari penuturan sang ibu, putrinya pernah berhenti untuk mengikuti terapi sekitar satu bulan. Alasannya terdengar cukup logis, selain mahal biayanya juga ada kesibukan yang tidak dapat ditinggalkan hingga jadwal terapi pun selalu digeser. Lalu, kondisi Merry semakin bertambah buruk. Beberapa bagian tubuh menjadi sangat kaku dan beban tubuhnya pun semakin berat tanpa adanya penambahan angka pada berat badannya.

Tentu saja, perubahan tersebut sangat mengejutkan.

Sebagai orang tua tentu ingin memberikan dan melakukan yang terbaik untuk putra-putrinya, meski seorang difabel. Begitu pula yang diharapkan kedua orang tua Merry. Dibutuhkan solusi yang mampu mengatasi semua permasalahan yang dialaminya. Mungkin juga hal seperti ini teralami oleh orang tua lainnya yang memiliki kesamaan kondisi dan situasinya.

Langkah terapi mesti tetap dilakukan. Bahkan setelah mengetahui efek perubahan yang negatif, sebuah langkah terapi menjadi sesuatu yang sifatnya wajib dilakukan oleh difabel Cerebral Palsy (CP) yang serupa.

Dari buah pemikirannya sebagai orang tua, alternatif lain pun dicoba demi kestabilan kondisi kesehatan putrinya. Langkah yang diambil adalah dengan berolah raga secara rutin. Jenis olah raga ringan yang memang dapat diikuti Merry, dapat dilakukan juga di rumah dan tanpa ikatan waktu.

Ya, olah raga sering kali menjadi alternatif pilihan yang banyak dilakukan oleh para difabel untuk menggatikan terapi yang dibutuhkan.

Olah raga pada dasarnya merupakan proses aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dari kualitas seseorang. Cakupan perubahannya meliputi kualitas fisik, mental dan emosional.

Dengan olah raga kita menjadi sehat secara jiwa maupun raga. Selain beragam jenis dan sebutannya, olah raga juga dapat dikatakan jenis kegiatan yang banyak menghasilkan manfaat serta mudah dan murah. Mudah dilakukan kapan saja, bahkan bisa di rumah atau di luar rumah. Biaya pun yang dapat ditentukan sendiri hingga yang tanpa harus mengeluarkan biaya sedikit pun.

Begitu pula olah raga untuk difabel. Jenis olah raga khusus untuk difabel sering disebut juga sebagai olah raga adaptif.

Menurut pakarnya, Syarifuddin dan Muhadi dalam Sriwidati dan Murtadlo (2007:4) menjelaskan, ‘Olah raga adaptif merupakan proses mendidik melalui gerak untuk laju pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun spikis guna mengoptimalkan seluruh potensi kemampuan, keterampilan jasmani sesuai dengan kemampuan anak, kecerdasan, kesegaran jasmani, sosial, kultural, emosional dan rasa keindahan demi tercapainya sebuah pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya.’

Walaupun kita bisa mendapatkan banyak manfaat dari olah raga, bahkan ada jenis olah raga khusus bagi difabel, seorang difabel yang membutuhkan penanganan secara terapi tetap tidak dapat dihindari 100%.

Kebutuhan terapi yang tergolong ke dalam salah satu hak kesehatan bagi difabel, tidak boleh terlepaskan atau secara sengaja diabaikan hanya karena tingginya biaya yang dibutuhkan.

Rumah sakit yang tunjuk pemerintah, dan atau rumah sakit umum daerah yang kepemilikannya di bawah naungan pemerintahan, hendaknya menyediakan layanan khusus terapi bagi difabel. Mulai dari sarana ruang kesehatan untuk terapi, alat yang diperlukan, tenaga medis hingga tangguan biaya yang tidak dibebankan secara mutlak kepada individu difabel atau keluarganya.

Dengan demikian, proses terapi dapat lebih mudah dilakukan dan biaya pun menjadi lebih ringan bagi difabel. Selain sebagai tahapan mengaplikasikan amanat dari Undang-undang No 8 Tahun 2016 tadi. (Srikandi syamsi)

The subscriber's email address.