Lompat ke isi utama
Tema Sumpah Pemuda: "Kita Tidak Sama, Kita Kerja Sama."

Makna Inklusif dari Tema Sumpah Pemuda 2017

Solider.or.id. Yogyakarta. Tema peringatan Sumpah Pemuda tahun 2017 adalah “Kita Tidak Sama, Kita Kerja Sama.” Tema itu disampaikan oleh Presiden Joko Widodo saat merayakan peringatan Sumpah Pemuda di Istana Bogor (28/10). Dilansir dari detik.com, tema tersebut menurut Presiden Joko Widodo bermakna kerja sama antar pemuda dilakukan tanpa memandang perbedaan. Selain itu, Presiden Joko Widodo berharap agar Sumpah Pemuda menjadi semangat abadi para pemuda Indonesia, yaitu semangat kerja sama pemuda dari latar belakang yang berbeda.

Jika dicermati lebih dalam, tema peringatan Sumpah Pemuda kali ini mengandung makna inklusif di dalamnya. Kalimat “kita tidak sama, kita kerja sama” memiliki makna bahwa semua orang dengan kemampuan dan latar belakang yang berbeda harus saling bekerja sama untuk kemajuan Indonesia.

Pemuda difabel dalam pengertiannya sebagai pemuda Indonesia dengan kemampuan yang berbeda tentunya harus ikut bekerja sama membangun Indonesia jika menilik makna dari tema Sumpah Pemuda di atas.

Arief Wicaksono, pemuda tuli yang bekerja di kantor Lembaga Riset Bahasa Isyarat (LRBI) Yogyakarta berpendapat sama. Menurutnya, “kita tidak sama, kita kerja sama” bermakna bahwa pemuda Indonesia, dari latar belakang yang berbeda harus bekerja sama dalam memperjuangkan negara yang inklusif dan ramah terhadap tuli.

“Tuli sebagai komunitas masyarakat dengan bahasa isyarat adalah keanekaragaman budaya. Dan itu adalah perbedaan yang indah,” tulis Arief saat diwawancarai via Whatsaap.

Ia menambahkan bahwa belajar bahasa Isyarat adalah salah satu bentuk kerja sama pemuda Indonesia untuk mewujudkan masyarakat yang inklusif, sesuai dengan tema Sumpah Pemuda tahun ini.

Senada dengan Arief, Tio Tegar Wicaksono, difabel netra jurusan Hukum di UGM, menilai bahwa tema Sumpah Pemuda tahun ini mengandung makna inklusif di dalamnya.

“Kalau dicermati ada nilai inklusif di tema itu,” ucap Tegar, sapaan akrabnya.

Menurutnya, wujud dari nilai inklusif tercermin dari diciptakannya para pemuda dengan berbagai macam golongan, agama, kondisi sosial, budaya dan bahasa yang berbeda dengan difabel yang ada di dalamnya.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia sangat beragam. Keberagaman dan perbedaan yang ada bukan menjadi halangan untuk saling bersinergi membangun Indonesia.

“Difabel kan berbeda secara kemampuan, tapi bukan berarti kami tidak bisa bersinergi dengan nondifabel untuk membangun Indoensia,” tambahnya.

Ia juga membaca ada kalimat “kita kerja sama,” yang menurutnya difabel dengan kemampuan berbeda atau orang dengan berbeda suku dan bahasa bukan menjadi halangan untuk terwujudnya persatuan.

“Asal kesempatan dan akses yang diberikan sama,” timpalnya.

Makna tema Sumpah Pemuda ia perjelas lagi dengan cara dia merepresentasikan nilai Inklusi. Baginya, nilai inklusi tidak hanya tertuju untuk difabel saja. Lebih dari itu, nilai inklusi adalah menghargai keberagaman dan menunjukkan toleransi. Menurutnya, makna itu yang menjadi nilai dari inklusif yang sebenarnya. 

Fira Fitria, ketua Organisasi Disabilitas Tuban (ORBIT), mengartikan tema Sumpah Pemuda dengan menggunakan prinsip bahwa manusia adalah makhluk sosial sehingga manusia tidak bisa hidup sendiri. Untuk itulah, menurutnya, manusia harus bekerja sama meski berbeda-beda.

“Begitu juga dengan difabel yang memiliki kemampuan yang berbeda. Berbeda kemampuan bukan berarti tidak bisa,” ungkapnya.

Ia mengakhiri dengan menyatakan bahwa selama ada pemenuhan hak yang setara dan adanya akses untuk difabel, tujuan Indonesia sebagai bangsa yang besar pasti bisa tercapai, dengan difabel yang ikut andil secara aktif di dalamnya.

Lalu, pemerintah tinggal memastikan dengan berbagai kebijakan yang memihak ke difabel untuk bisa mewujudkan makna dari tema Sumpah Pemuda “Kita Tidak Sama, Kita Kerja Sama.” (Yuhda)

The subscriber's email address.