Lompat ke isi utama
 Sumpah Pemuda Tahun 1928

Sumpah Pemuda bagi Pemuda-Pemudi Difabel

Solider.or.id. Yogyakarta. Empat hari sudah sejak peringatan Sumpah Pemuda digelar di seantero Indonesia. Gagap gempita peringatan salah satu tonggak penting dalam era menjelang kemerdekaan ini bahkan sampai membuat pihak istana kepresidenan menggelar acara peringatan Sumpah Pemuda yang kekinian. Banyak pemuda dan pemudi inovatif dan kreatif diajak ke Istana Bogor untuk merayakan Sumpah Pemuda bersama Presiden Joko Widodo.

Bergeser sejenak dari histeria peringatan Sumpah Pemuda beberapa hari yang lalu. Tahun 2014, Rhenald Kasali, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menulis sebuah buku yang berjudul Self Driving: Menjadi Driver atau Passenger?

Dalam buku tersebut, Rhenald Kasali mendikotomikan (membagi) manusia, dalam konteks tulisan ini adalah pemuda, untuk menentukan apakah mereka mau menjadi driver atau passanger. Driver, sesuai maknanya, adalah seorang pengendara. Dalam istilah teknis, driver bisa berarti pengendara mobil, motor atau moda transportasi lainnya. Driver dalam buku Rhenald Kasali berarti pemuda yang mengendarai perubahan. Artinya, ia dengan segala potensi dan inovasinya bisa menghadirkan perubahan positif bagi komunitas atau lingkungan sekitarnya. Beralih ke passanger, kata ini bermakna penumpang. Artinya, pemuda yang hanya menjadi penumpang perubahan. Mereka belum punya inisiatif untuk menghadirkan perubahan untuk lingkungan terdekat mereka.

Apa hubungan antara peringatan Sumpah Pemuda dengan konsep driver-passanger? Beberapa pemuda yang diundang oleh Presiden Joko Widodo tentu para driver dalam komunitas mereka masing-masing. Ada Cassandra Soraya yang berinisiatif membangkitkan minat berkebun di Jakarta dengan inisiatif bernama Kebun Kumara. Ada juga kelompok musik yang paling digandrungi anak muda saat ini, Barasuara yang memilih menulis lagu dengan lirik bahasa Indonesia di tengah arus musik mancanegara yang menggempita. Masih belum ada keterangan jelas apakah ada pemuda-pemudi difabel yang diundang ke acara peringatan Sumpah Pemuda tersebut.

Bnyak dari mereka yang memaknai Sumpah Pemuda dengan membuat inisiatif perubahan dari daerah, dari lingkup terkecil dan dari hal-hal yang paling sederhana. Mereka berasal dari beragam latar belakang keilmuan dan bidang kehidupan. Termasuk juga diantara mereka pemuda-pemudi difabel bermental driver.

Tio Tegar Wicaksono, difabel netra yang mengambil jurusan Hukum di UGM, memaknai peringatan Sumpah Pemuda sebagai pendorong untuk selalu berkontribusi kepada ibu pertiwi.

“Sumpah Pemuda adalah tonggak sejarah persatuan Indonesia. Maka dari itu sebagai pemuda kita bisa memaknainya dengan berkontribusi sebanyak-banyaknya bagi negara,” ucapnya.

Menurutnya, dalam konteks difabel di Indonesia, peringatan Sumpah Pemuda bisa menjadi momentum bagi pemuda-pemudi difabel untuk memerdekakan diri dari diskriminasi yang selama ini masih mereka temui. Semangat yang digunakan para pemuda di tahun 1928 bisa digunakan juga untuk memperjuangkan hak difabel di Indonesia.

Tegar, yang juga aktif di berbagai komunikasi baik di dalam maupun di luar kampus, menambahkan bahwa kontribusi yang dilakukan tidak harus langsung besar. Kontribusi bisa dimulai dari hal-hal yang terkecil.

“Bagi saya, mimpi memang harus besar, tapi yang kita lakukan tidak harus besar dulu. Dari yang kecil-kecil itu nanti bisa berimbas ke hal yang besar,” ungkapnya.

Ia lalu mencontohkan beberapa hal yang bisa menjadi kontribusi pemuda-pemudi difabel seperti mengampanyekan pendidikan inklusif, atau ikut terlibat dalam penentuan kebijakan dalam level yang paling kecil.

Senada dengan Tegar, Fira Fitria, difabel asal Tuban yang juga ketua dari Organisasi Disabilitas Tuban (ORBIT) juga memaknai peringatan Sumpah Pemuda tempo hari yang lalu dengan ikhtiar untuk terus berkontribusi sebagai seorang pemudi difabel.

“Semua orang wajib berkontribusi untuk Indonesia sesuai dengan kapasitasnya masing-masing,” ungkapnya.

Menurutnya, kontribusi yang bisa diberikan difabel untuk Indonesia bisa mengubah stigma yang selama ini menempel kepada difabel.

“Sebagai difabel kita juga punya hak untuk sama-sama membangun Indonesia meski masih banyak pihak yang masih menganggap difabel terbatasi padahal kami hanya berbeda secara kemampuan saja,” ucap Fira.

Salah satu hal yang bisa dilakukan oleh difabel menurutnya adalah dengan menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Menurutnya, dengan berbagai hambatan yang dialami difabel selama ini dalam mengakses pendidikan sampai level tertinggi, difabel harus mampu membuktikan bahwa kapasitas mereka juga setara dengan masyarakat Indonesia yang lain.

“Selama menempuh pendidikan, saya banyak sekali mengalami penolakan. Tapi, akhirnya saya bisa membuktikan bahwa pemudi difabel juga bisa bersekolah tinggi,” ia bercerita.

Selain itu, kontribusi yang coba ia bangun untuk komunitasnya adalah mendirikan dan menjadi ketua dari Organisasi Disabilitas Tuban (ORBIT). Ia berharap bahwa melalui ORBIT, ia bisa menghapus pandangan sebelah mata dari masyarakat terhadap difabel dan bisa melihat difabel sesuai dengan potensinya.

Tegar dan Fira adalah dua dari sekian banyak pemuda dan pemudi difabel bermental driver yang memaknai Sumpah Pemuda dengan kontribusi positif mengarusutamakan isu difabel dalam segala bidang kehidupan. Pemuda-pemudi difabel lain tentunya bisa memberikan kontribusinya masing-masing kepada Indonesia agar makna Sumpah Pemuda tidak tereksklusi dan bisa sampai di semua golongan. (Yuhda) 

The subscriber's email address.