Lompat ke isi utama
Para peserta kelas IT memperlihatkan sertifikat lisensinya dalam bidang IT

Raih Sertifikat Lisensi ICT, Difabel Harapkan Kesempatan Kerja Inklusif

Solider.or.id, Cimahi – Peringati Hari Sumpah Pemuda ke-89, difabel mampu raih prestasi gemilang bidang IT (Information and Technology) dengan sertifikat lisensi.

Hal ini merupakan salah satu prestasi gemilang para difabel kota Cimahi dan Bandung. Dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda ke-89, Sabtu (28/10) lalu, sebanyak empat puluh peserta difabel lintas usia yang mengikuti kelas IT dinyatakan lulus.

YPAC Nasional sebagai pihak yang mengusung proses pembelajaran informasi dan teknologi atau yang lebih dikenal dengan IT, memberikan serifikat kelulusan kepada para difabel yang terlah berhasil mengikuti kelas komputer.

Proses pembelajaran yang telah dimulai sejak Mei lalu tersebut mampu mendulang prestasi gemilang. Jauh dari yang diperkirakan, ternyata sebagian dari mereka mampu meraih sertifikat lisesnsi dalam bidang yang sama. Sebuah uji kompetensi untuk mendapatkan satu pengakuan dari negara ini sungguh merupakan sebuah prestrasi yang sangat luar biasa.

Difabel yang menjadi peserta kelas IT ini dari berbagai jenis. Mereka antara lain, difabel Daksa pengguna kursi roda, Cerebral Palsy (CP), difabel Tuli, Netra, Autis serta Down Syindrome.  

Mereka yang mampu meraih lisensi, tentunya memiliki kebanggaan yang berlipat ganda. Sebuah sertifikat pengakuan dari negara yang menandakan tingkat keprofesionalan seseorang di dalam bidangnya.

Untuk meraih sertifikat lisensi tersebut, para difabel melakukan tes uji kemampuan dari sebuah badan pengelola yang ditunjuk. Artinya, tes yang diberikan bukanlah berasal dari pihak pengusung proses pembelajaran tersebut. Semua soal tes yang ujikan kepada para difabel merupakan soal yang sama pula untuk masyarakat umum dalam bidang IT secara profesional.

Dengan demikian, semakin dapat terlihat jelas kapasitas kemampuan  difabel dalam bidang  ilmu komputer. Hal yang mencengangkan lainnya, ketika mendengarkan perolehan point tertinggi yang mampu diraih dalam hasil tes uji lisesnsi ini.

Dari angka minimal kelulusan sebesar 720 point, dan angka maksimal 1.000 point dari jumlah 43 soal yang diberikan dalam durasi waktu 43 menit, salah satu peserta difabel Daksa mampu mendapatkan nilai 991 point. Sebuah pencapaian yang nyaris sempurna. Disusul urutan point berikutnya sebesar 791 dan diraih oleh tiga peserta sekaligus.

ICT atau information and communication technologies mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Dari perolehan sertifikasi lisensi, menandakan para difabel pun memiliki kemampuan dalam kedua aspek tersebut.

Dari penuturan Agus Hartanto, sebagai peraih point tertinggi, dirinya memang mengaku sangat senang bahkan nilai yang berhasil ia dapatkan jauh lebih tinggi dari yang ditargetkan dirinya. Agus berharap, sertifikat lisensi yang dimilikinya dapat memberikan manfaat dalam proses pencarian kesempatan untuk bekerja nantinya.

Agus mengungkapkan sebuah cita-cita dan harapan yang sederhana. Setiap prestasi yang diraih difabel memang masih terbenturkan oleh sekat kesempatan mencari pekerjaan yang layak. Padahal, kemampuan atau skill yang dimiliki para difabel tidak kalah dengan mereka nondifabel.

Pola penempatan kerja yang masih kurang pas masih banyak ditemui. Mungkin, untuk mendapatkan peluang bekerja dalam bidang yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki difabel masih berebut dengan nondifabel.

Namun, apabila dikaitkan dengan kemampuan yang dimiliki difabel dan kemudian digabungkan dengan adanya pemberian kesempatan kerja pada sektor lapangan pekerjaan yang diminati, hasil kinerja para difabel pun tidak akan terkalahkan oleh nondifabel.

Bukti nyata prestasi difabel dalam berbagai bidang sudah mulai terlihat. Mereka tinggal diberi peluang dan kesempatan yang sama untuk memperoleh ruang atau lahan guna mengaplikasikan segenap kemampuan yang dimilikinya.

Tidak jarang, sosok difabel yang mendapatkan peluang kerja, mereka bisa lebih baik, lebih rajin, lebih loyal dan lebih setia pada perusahaan atau pada pemilik tempat bekerja mereka.    

Alangkah membahagiakannya, saat terjadi peluang dan kesempatan yang sama dalam memperoleh pekerjaan antara difabel dan nondifabel. Bukan hanya sebatas pemenuhan aturan perundangan yang mengatur hak-hak bagi difabel yang salah satunya tentang kesempatan bekerja. Seperti yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016. Akan tetapi, menempatkan individu difabel dalam perolehan kesempatan kerja sesuai dengan kapasitas kemampuan yang dimilikinya.

Semoga keberadaan sertifikat lisensi dalam bidang apa pun yang ada di tangan para difabel tidak menjadi sesuatu yang sia-sia belaka. (Srikandi Syamsi).

The subscriber's email address.