Lompat ke isi utama
para ketua tuli bersama anak-anak siswa tari topeng

Tuli Malang Ingin Bebaskan Stigma dengan Kreatifitas Seni

Solider.or.id, Malang - Setidaknya ada dua kelompok tuli di Kabupaten Malang yang hidup rukun berdampingan yaitu Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu (Gerkatin) dan Komunitas Tuli Kabupaten Malang. Kedua organisasi ini bekerja sama membina anak-anak tuli dan menoreh berbagai prestasi tingkat provinsi utamanya di bidang seni.

"Kami melatih anak-anak tuli membuat seni kerajinan tangan dari bahan dasar sampah untuk pakaian karnaval," tutur Ketua Komunitas Tuli, Dewi Ratna Sari didampingi Ketua Gerkatin Kabupaten Malang, Sudarmaji di Kepanjen, Minggu (28/10).

 Dewi yang sehari-hari mengajar SLB Kepanjen ini mengatakan bahwa ia juga mengajarkan mereka berbagai ragam tari. Ada tari topeng, tari burung serta tari lainnya dari daerah lain, misal tari saman.

Pada kesempatan itu, Dewi menunjukkan piala-piala diantaranya penghargaan dari DPP Gerkatin  Juara I Pentas Seni dan Budaya untuk Hari Tuli Sedunia dan Harapan I Lomba Make Up Charakter dari Malang Olympic Garden, beberapa sertifikat penghargaan tingkat provinsi dan koleksi karya seni.

"Inilah karya dari hasil kegiatan kami," ungkap Dewi dengan  bangga.

Tapi ini belum selesai, anak-anak tuli juga harus bebas dari stigma dan diskriminasi. Dewi yang diketahui tuli sejak anak-anak ini mengungkap sudah biasa ketika ada event tertentu seperti karnaval atau pentas seni timnya ditolak dengan alasan: tuli bisa apa, bicara saja nggak bisa.

Tapi ketika ditunjukkan contoh karya dan didesak atas nama hak sebagai anak bangsa mereka yang menolak berkebalikan yang tak bisa bicara, ungkap Dewi.

Menurutnya tak mudah mengajarkan anak-anak tuli untuk menari. Bagaimana bisa menari sementara tak bisa mendengar musik pengiring? Kami menggunakan kode gerakan dari instruktur, juga yang terpenting masing-masing harus menghitung durasi gerakan, papar Dewi.

Sementara Ketua Gerkatin Kabupaten Malang, Sudarmaji menuturkan kerjasama baik diantara kedua organisasi tuli tersebut.

"Gerkatin beranggotakan orang-orang tuli dewasa dan orang tua, sedangkan komunitas tuli untuk anak-anak usia sekolah," terang Aji panggilan akrabnya.

Untuk acara-acara besar yang berkaitan dengan hubungan pemerintah, lintas organisasi, event nasional, pengadaan alat bantu dengar (ABD) dan lain-lain adalah tugas Gerkatin, paparnya.

"Belum lama Gerkatin mengkoordinir tuli untuk memperoleh alat bantu dengar yang dibagikan oleh yayasan di Kota Malang," Aji mencontohkan.  Semua  anak tuli yang sekolah dalam pendataan kami sudah menggunakan ABD. Kami juga bergabung dalam Forum Malang Inklusi untuk bersama lintas organisasi dan masyarakat mewujudkan Malang Raya inklusif.

Ketika ditanya mengenai pendanaan kegiatan, Aji menjawab semua dilakukan secara swadaya.

Bukan dana dari pemerintah, ini swadaya dari iuran anggota dan sumbangan masyarakat," ungkap pria yang sudah dua tahun menjabat ketua organisasi tuli ini. Menurut Aji jika ada dukungan dana dari Pemerintah akan digunakan untuk modal usaha bersama, mengatasi persoalan orang tuli yang masih banyak menganggur.

Masih kata Aji, hal penting yang menjadi PR semua pihak adalah kesadaran bahwa setiap orang tak terkecuali difabel memiliki hak yang sama sebagai warga negara. Khususnya tuli memiliki hak komunikasi yang setara. Pemerintah harus memperhatikan aksesibilitas tuli di bidang komunikasi, tegas Aji.

Di akhir wawancara Aji dan Dewi sepakat bahwa semua kegiatan yang dilakukan oleh dan anak-anak tuli adalah wujud pengabdian masyarakat. "Khususnya melalui kreativitas seni, selain memajukan anak tuli juga membebaskan mereka dari stigma yang selama ini melekat. Masyarakat perlu tahu bahwa tuli juga mampu berkarya, " pungkas mereka. (Kertaning Tyas)

The subscriber's email address.