Lompat ke isi utama
salah satu ubangunan masjid di kota Malang

Masjid Tidak Akses, Difabel Malang Lakukan Advokasi ke MUI

Solider.or.id, Malang - Hari santri telah berlalu beberapa hari lewat, namun nampaknya semangat santri khususnya difabel tidak akan pernah berlalu begitu saja. Ditengah kondisi belum aksesnya masjid di hampir seluruh tempat, beberapa difabel masih semangat ke tempat ibadah dan menyuarakan hak aksesibilitas.

Demikian pun di Malang, berdasarkan survey Forum Malang Inklusi (FOMI) wilayah yang bepredikat kota pendidikan ini masih minim terdapat masjid yang memenuhi standar aksesibilitas.

Sekretaris Forum Malang Inklusi (FOMI), Siswinarsih mengatakan bahwa pihaknya telah meminta kepada MUI Kota dan Kabupaten Malang untuk menghimbau seluruh pengurus rumah-rumah ibadah agar memenuhi standar aksesibilitas sebagaimana diatur dalam Permen PU Nomor 30 tahun 2006.

"Idealnya setiap tempat ibadah memiliki hand rail atau pegangan untuk rambatan dan ramp atau plengsengan untuk jalannya kursi roda. Selain itu,  masjid harus ada tempat wudhu duduk dan tempat duduk untuk sholat bagi yang sulit berdiri”. kata Siswinarsih, Jumat (27/10) di Pakisaji Malang.

"Hampir semua rumah- rumah ibadah belum akses, namun ini tidak mengurangi niat kami ibadah berjamaah," tutur Siswinarsih yang juga anggota jamaah pengajian Al Sakinah. Pada hari tertentu perempuan difabel daksa ini aktif mengikuti kegiatan jamaah di lingkungannya.

Ada banyak jalan difabel dalam menjaga semangat ibadahnya, kata Winarsih. Semisal kita sudah berwudhu dirumah untuk sholat jamaah di masjid, maka harus menjaga wudhu supaya tidak batal karena tempat wudhu sulit diakses bagi difabel.

"Jika berpergian atau dalam perjalanan kami lebih suka singgah di mushola, karena biasanya lebih akses dari masjid-masjid besar," ungkap Winarsih.

Winarsih berharap agar seluruh santri utamanya difabel aktif menyampaikan ke pengurus pesantren/pengurus rumah ibadah jika menemui sarana yang tidak akses.

"Jangan hanya diam yang hanya akan menghambat aktivitas beribadah dan jangan takut karena hak aksesibilitas dijamin oleh UU RI Nomor 8 tahun 2016," himbau aktivis yang juga Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Malang ini.

Sedangkan santri lainnya yang nondifabel, kata Winarsih harus mempunyai kepedulian dan kepekaan akan kebutuhan sarana yang akses bagi santri difabel dengan meminimalisir sarana yang tidak akses.

Serupa menceritakan pengalaman ketika berpergian, pengguna kursi roda asal Singosari Kabupaten Malang, Sulastri yang mengaku terpaksa tidak melakukan kewajiban sholat karena menggunakan diapers. "Daripada ngempet pipis nanti malah sakit, karena toilet tak akses buat kami, " ungkapnya.

Dalam kesempatan terpisah, santri pengguna kursi roda lainnya di Kecamatan Sukun Kota Malang, Luky Dhana mencermati kesadaran dan pengetahuan para takmir.

"Takmir harus peka dan mengenal tentang difabel," kata Luky. Selama ini jika sholat jamaah hanya bisa sampai teras, pada batas suci karena masjid tidak akses. Juga dari rumah harus sudah berwudhu. Jika batal ya terpaksa tayamum karena tempat wudhu sulit dijangkau.

Luky berharap ada edukasi bagi para takmir agar cepat tanggap jika ada difabel karena tidak semua pengguna kursi roda bisa dengan mudah mendorong kursinya sendiri. Atau jika ada difabel netra harus dibantu diarahkan.

Pria berumur 39 tahun ini juga bercita-cita membuat gerakan Ayo ke Masjid untuk para difabel yang melibatkan mahasiswa yang aktif di masjid kampus dan para takmir untuk mendorong terciptanya aksesibilitas tempat ibadah.

Ia juga menyarankan sebaiknya ada tempat khusus di masjid bagi pengguna kursi roda yang sholat berjamaah dan persediaan kursi roda bagi yang memerlukan.

Lain lagi penuturan Joko, pria difabel pholio asal Lawang yang enggan menggunakan kursi roda, kruk maupun alat bantu lainnya.

"Lebih cepat jalan pake tangan, jadi tangan ini yang pake sandal, termasuk jika ke masjid," tutur Joko yang sehari-hari bekerja sebagai pemijat.

“Dari sepeda motor roda tiga parkir mepet teras masjid, turun dengan sedikit melompat dan ambil tempat di saff belakang biar nggak kejauhan kalau merangkak”. kisahnya.

"Awalnya cukup sengsara karena jarak tempat parkir yang agak jauh dari teras. Belum lagi kalau nggak sengaja batal susah juga ambil wudhunya," ungkapnya.

Kini sudah cukup mudah, ada tempat parkir khusus dekat teras dan kran wudhu yang rendah serta dalam tempat yang nggak berjauhan.

"Karena saya aktif di masjid, aktif ikut jamaah dan pengajian, takmir jadi tahu apa yang saya butuhkan. Belum standar aksesibilitas sih, tapi sudah cukup baik," pungkasnya. (Kertaning Tyas)

The subscriber's email address.