Lompat ke isi utama
 Implementasi uji luas IDBC System

IDBC Inovasi Sistem Komunikasi Antara Difabel Netra dan Tuli

Solider.or.id, Bandung - Dini Handayani, mahasiswi Magister Pendidikan Khusus Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (SPs UPI) Bandung, menciptakan IDBC (Indonesia Deaf and Blind Communication) System. Sebuah inovasi dalam sistem komunikasi alternatif dan augmentatif antara difabel netra dan Tuli.

Sistem komunikasi ini bermula dari keprihatinan Dini ketika melihat dua orang siswa difabel netra dan Tuli di SLBN Cinta Asih, Kab. Bandung yang mengalami hambatan untuk berkomunikasi satu sama lain.

Dini menjelaskan bahwa IDBC System ini menggabungkan kaidah sandi morse, braille, dan SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) dalam implementasinya. Sistem komunikasi ini ditujukan bagi siswa kelas 4 SD (Sekolah Dasar) ke atas. Alasannya, siswa dengan jenjang tersebut telah memahami penggunaan kaidah sandi morse yang biasa dilakukan dalam kegiatan pramuka setiap minggunya di sekolah.

“Misalnya contoh  kaidah braille yang dipake tanda angka itu titik 3,4,5,6. Jadi, pake tanda dulu baru angka, untuk membedakan antara huruf. Kan huruf a teh titik 1, nah dia bisa jadi angka kalau pake tanda angka kan? tulis titik 3,4,5,6 dulu baru tulis titik 1, maka dia akan menjadi angka bukan huruf lagi. Kaidah itu yang dipake” paparnya yang juga merupakan seorang guru di SLBN Cinta Asih tersebut.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dalam IDBC System ini, untuk membedakan tanda huruf dan angka menggunakan tanda jari. Misalnya, untuk penulisan kata "apa" menggunakan kode titik (.) dan strip (-), sedangkan bila penulisan tersebut diawali oleh tanda jari melintang (|) maka berubah menjadi huruf “a” saja.

IDBC System saat ini memiliki 26 kata yang dipilih berdasarkan penelitian kata fungsional yang digunakan dalam percakapan antara difabel netra dan Tuli dalam uji terbatas. Jumlah kata tersebut mungkin akan bertambah di kemudian hari tergantung pada pengembangan sistem komunikasi tersebut.

Satu-satunya kendala dalam implementasi uji terbatas IDBC System ini adalah ketika difabel netra dan Tuli tidak hafal sandi morse. Namun, hal tersebut dapat diatasi melalui pembiasaan dalam berkomunikasi dengan sistem ini. Keunggulan sistem komunikasi ini adalah dapat digunakan kapanpun dan dimanapun karena hanya menggunakan kedua belah tangan, sedangkan alat bantu komunikasi yang sudah ada, merupakan alat bantu konversi dari teks ke suara, pun sebaliknya yang harus bergantung kepada daya baterai alat tersebut.

Diseminasi dan uji luas IDBC System ini dilakukan di SLBN Cinta Asih Kab. Bandung dengan melibatkan 9 orang siswa difabel netra, 1 orang difabel netra dewasa, 13 orang Tuli, serta 30 orang guru pendamping yang berasal dari beberapa SLB dan sekolah inklusi gugus 37 binaan RC (Resource Center) Cinta Asih.

“Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah IDBC System ini dapat digunakan oleh semua difabel netra dan Tuli. Harapannya kelak sistem ini bisa diakui layaknya SIBI” ujar Dr. H. Sunardi, M.Pd, Ketua Program Studi Pendidikan Khusus SPs UPI, Bandung.

Senada dengan Sunardi, Dr. H. Zaenal Alimin, M.Ed, pakar komunikasi alternatif dan augmentatif di SPs UPI, mengatakan bahwa level dari penemuan ini diharapkan bisa diaplikasikan untuk kepentingan masyarakat luas. Menurutnya, tidak ada komunikasi yang bersifat universal, yang ada adalah komunikasi yang bersifat individual sesuai dengan kebutuhan.

“Komunikasi merupakan hak semua orang, dengan adanya inovasi ini tentunya sangat membantu siswa difabel netra dan Tuli disini untuk dapat berkomunikasi serta mengembangkan keterampilan sosialnya” tutur Amid Juwardi, S.Pd., M.M.Pd, Kepala SLBN Cinta Asih, usai memberikan sambutan dalam acara tersebut.

Inovasi ini mendapatkan sambutan baik dari berbagai pihak, diantaranya Titis Inggriani, M.Pd, guru pendamping dari SLB Al Fithri yang tergabung dalam gugus 37 Kab. Bandung. Menurutnya, sistem komunikasi ini sangat membantu sekali, sehingga mampu menjadi komunikasi alternatif bagi difabel netra dan rungu.

Kebahagiaan pun dirasakan oleh Adham, siswa difabel netra yang selama ini tidak pernah berinteraksi dengan teman Tuli, untuk pertama kalinya ia dapat berkomunikasi dengan mereka melalui IDBC System.

“Saya sudah tanya jawab dengan teman Tuli karena pake IDBC” ujar difabel netra berperawakan tinggi tersebut.

Menutup acara yang diselenggarakan pada hari Selasa 24 Oktober 2017 tersebut, Dr. Permanarian Somad, M.Pd, selaku dosen SPs UPI dan pakar sistem komunikasi anak  Tuli mengatakan bahwa ini bukan sistem yang baku maupun terbaik. Ia berharap sistem ini dapat dikembangkan lagi di masa mendatang melalui masukan-masukan yang diperoleh dari difabel pengguna sistem ini. (Maya)

The subscriber's email address.