Lompat ke isi utama
menulis untuk advokaksi difabel

Tiga Aspek Penting Menulis untuk Perubahan Sosial Difabel

Solider.or.id, Menulis adalah menuangkan ide dan pemikiran kedalam bentuk tulisan. Melalui kegiatan ini segala sesuatu dapat terdokumentasi sebagai catatan pribadi maupun pengetahuan bagi orang lain. Menulis itu penting terlebih bagi difabel, ketika ruang untuk menyampaikan aspirasi masih minim, kesempatan komunikasi yang terhambat aksesibilitas, juga fokus perhatian masyarakat pada persoalan lainnya. Menulis dapat dijadikan alat untuk mengadakan perubahan sosial.

"Kami menulis untuk menginformasikan kegiatan dan mengkampanyekan isu-isu difabilitas melalui media sosial, " kata Koordinator Kelompok Kerja Lingkar Sosial, Widi Sugiarti di Malang. Melakukan kegiatan jurnalisme secara sederhana, melalui upload foto dan tulisan singkat akan memudahkan orang memahami yang kita maksud.

"Sangat disayangkan jika penggunaan media sosial hanya untuk hiburan semata, membuang-buang waktu dan berdampak negatif, " ungkapnya.

Widi juga berharap suatu saat nanti bisa mengadakan pelatihan menulis untuk penggunaan media sosial, misal facebook, secara positif  agar mampu memberikan dampak yang baik pada peningkatan kualitas hidup difabel khususnya dan pergerakan organisasi difabel pada umumnya.

"Adanya Forum Malang Inklusi yaitu forum yang mengkoordinir lintas organisasi difabel, sosial dan kemanusiaan untuk satu misi Malang inklusif, diinisiasi oleh kampanye-kampanye di blog Lingkar Sosial dan media sosial facebook yang kemudian memantik para penggiat difabel di Malang untuk berkumpul, " ungkap Widi.

Menulis secara efektif dapat menjadi alat perubahan sosial bagi difabel, tandas perempuan Anggota Dewan Pendiri FOMI ini.

Merangkum dari beberapa narasumber artikel ini menulis untuk perubahan atau gerakan sosial penting berpegang pada tiga aspek penting yaitu informasi berbasis pemahaman inklusif, advokasi  serta verifikasi untuk akurasi informasi.

1. Informasi Berbasis Inklusif

"Kewajiban kita bukan hanya sekedar menyampaikan informasi melainkan yang memiliki basis ruh untuk membawa pada satu perubahan menuju masyarakat yang inklusif," kata Direktur SIGAB, Joni Yulianto. Statmen serupa pernah disampaikannya dalam Pelatihan Advokasi dan Jurnalistik Dasar untuk calon kontributor media online Solider, September lalu di Yogyakarta.

“Itu yang selalu kita tanyakan dalam liputan-liputan kita”, kata Joni. Menguatkan analisa sesuatu di balik fakta dan menyelipkan pesan-pesan dalam imformasi yang diberitakan untuk mengarahkan perubaham pemikiran orang lain setelah membaca tulisan kita.

Lebih lanjut Joni memaparkan, tulisan bagi Sigab dilihat sebagai salah satu upaya untuk melakukan perubahan sosial atau pergerakan sosial. Namun di sisi lain hal-hal yang terkait isu difabel masih sangat sedikit bersifat dokumentatif yang dapat menjadi basis mengatakan bahwa perlu adanya perubahan. Maka dibangunlah Solider atau basis-basis pengetahuan untuk melatih jurnalis berspektif difabel dan mampu berkontribusi untuk perubahan menuju masyarakat inklusif.

Jurnalis baik difabel dan nondifabel ketika berkomitmen mewartakan sesuatu pada masyarakat maka sebenarnya dia telah berkontribusi pada komitmen untuk menjadi bagian yang turut mewujudkan keadilan informasi. Bahwa masyarakat siapapun berhak memperoleh akses dan hak atas informasinya yang setara.

Keberpihakan jurnalistik terkait isu difabel dalam hal ini sama ketika para pegiat perempuan merintis media alternatif jurnal perempuan. Pada saat itu kajian, jurnal dan bahasan ilmiah tentang perempuan sangat minim atau kurang. Nah, disitu kita ingin mengajak semua berproses untuk menuju kesana, membangun lebih banyak informasi dan pengetahuan kemudian mengajak lebih banyak orang untuk bergerak sesuai dengan kapasitasnya masing masing, pungkas Joni.

2. Advokasi dan Meninggalkan Skema Bantuan

Redaktur Solider, Ajiwan Arief Hendradi memcermati tulisan yang baik dalam konteks advokasi difabilitas selain wajib memenuhi standar jurnalistik 5W 1H (what, who, why, when, where and how).

"Tulisan yang baik mengandung advokasi dan meninggalkan skema bantuan serta tidak mengedepankan bantuan," kata Ajiwan.  Tulisan yang ada di solider harus meenghadirkan citra positif pada difabel. Difabel harus dihadirkan sebagai kalangan masyarakat yang sama seperti masyaraat lain, bebas dari stigma dan diskriminasi.

Acara-acara pemberi bantuan atau charity, liputan- liputan charity menganggap difabel sebagai obyek dan sebagainya tidak bisa ditayangkan di Solider. Tidak direkomendasikan menulis acara-acara seremonial seperti peringatan hari tertentu yang menempatkan difabel sebagai pelengkap. “terkadang memang penyelenggara acara sudah mengundang difabel, tapi difabel disitu berperan sebaga apa, apakah hanya diundang dan duduk saja, atau ada hal lain yang berpengaruh yang dilakukan?”

"Liputan advokasi memberikan nilai positif pada difabel," tegas Ajiwan.

3. Verifikasi untuk Akurasi Informasi

Pemateri Pelatihan Advokasi dan Jurnalistik Dasar untuk Calon Kontributor Solider 2017, Bambang Muryanto menekankan pentingnya jurnalis melakukan verifikasi untuk menghasilkan berita akurat dan kredibel.

"Bagi jurnalis baik difabel maupun nondifabel verifikasi perlu untuk memastikan bahwa informasi dan fakta yang akan kita tulis benar dan sesuai fakta," terang alumni UGM tersebut. Terlebih liputan investigasi dan berita penting lainnya yang memuat advokasi, kritik sosial dan sebagainya.

Berita adalah semua temuan fakta-fakta di lapangan yang setelah melalui proses verifikasi kemudian diolah, mengandung informasi baru dan dimuat di media massa. Proses tersebut sangat penting guna memastikan bahwa berita yang dimuat semaksimal mungkin mendekati kebenaran, papar Bambang.

"Sesuai dengan kode etik jurnalistik bahwa jurnalis selalu menguji informasi dan hanya melaporkan fakta dan pendapat yang jelas sumbernya," pungkasnya. (Kertaning Tyas)

The subscriber's email address.