Lompat ke isi utama
Sebuah media di DIY sebagai gambaran atas pemberitaan terkait isu difabilitas yang minim.

Pengaruh Perspektif Difabilitas bagi Media terhadap Pemberitaan

Solider.or.id.Yogyakarta.Isu difabiltas masih sangat minim diberitakan media massa mainstream. Difabel sebagai manusia dengan berbagai jenis kemampuan, berbagai jenis kebutuhan, yang melakukan kegiatan sehari-hari baik bekerja, berkarya, bersekolah, tidak dianggap sebagai isu yang pantas diberitakan dengan dasar hak.

Jikalaupun diberitakan, pemberitaan lebih pada sensasional, belum dapat mengedukasi masyarakat luas. Sebagai contoh jika difabel berprestasi pada bidang tertentu seperti olahraga, bisa diterima di perguruan tinggi, dan lain sebagainya dikatakan luar biasa.Tidak ada edukasi bagaimana para difabel berproses hingga berprestasi. Demikian pula ketika difabel diterima di perguruan tinggi, pemberitaan bukan pada difabel sebagai manusia yang sama yang memiliki hak sama sebagaimana yang lainnya. Hal tersebut terkait dengan perspektif difabilitas para awak media, yang berdampak pada pemberitaan yang disajikan.

Kondisi demikian menjadi keprihatinan tersendiri bagi Singgih Purnomo, Program Manager Adfocation for Change (AfC) Handicap International. Ibeng, sapaan Singgih Purnomo mengutarakan pada Solider, Senin (23/10/2017), bahwa Handicap Internasional (HI) telah berusaha melakukan pendekatan terhadap awak media mainstream terkait perubahan pemberitaan.Namun demikian, hasilnya tidak sebagaimana yang diharapkan.

“Dua kali pada kurun waktu tahun 2016, HI mencoba melakukan diskusi dan media gathering terhadap para awak media untuk merubah cara pandang, sehingga penulisan bukan pada sensasional isu difabilitas.” Ujar Ibeng.

Melihat kondisi tersebut Ibeng berinisiatif berdiskusi dengan seorang pakar. Mengundang Agoes Widhartono, Peneliti, Konsultan Komunikasi dan Psikologi yang sudah berpengalaman puluhan tahun guna menjawab kegelisahan dan kegelisahannya.

Persepsi masyarakat tentang kaum difabel sangat beragam, dan media harus bisa menjadi agen perubahan untuk itu. Mengingat peran media yang penting, Perspektif media atau awak media tentang difabilitas harus dibongkar terlebih dahulu. Salah satu hasil diskusi diperoleh pagi itu.

“Hal tersebut mungkin saja dilakukan, meski tidak harus berharap lebih. Kuncinya ada kemauan untuk melakukan,” ujar Agoes. Selanjutnya Agoes juga memaparkan isu lain yang juga dianggap tidak seksi bagi media, meski puluhan tahun wartawan mendapatkan pelatihan terkait isu tersebut. Isu HIV AIDS, salah satu contoh kata Agoes. Namun demikian harus ada yang melakukan secara konsisten sehingga isu difabilitas tidak lagi dipandang sebelah mata bagi media mainstream.

Langkah selanjutnya HI akan melakukan aksi lanjutan guna merubah perspektif, ideologi tentang difabilitas kepada para wartawan media mainstream di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kegiatan akan bekerja sama dengan pakar jurnalistik dan tokoh difabilitas di DIY. Sebuah langkah yang harus ditunggu pelaksanaannya.(harta nining wijaya).

The subscriber's email address.