Lompat ke isi utama
mahasiswa difabel netra sedang dibacakan oleh temannya

Cerita Fajar, Mahasiswa Difabel Netra Sastra Inggris UIN Sunan Kalijaga

Solider.or.id, Yogyaarta -Pengaturan dan kebijakan bagi difabel saat ini semakin membuka peluang  untuk mengakses layanan pendidikan tak terkecuali pendidikan tinggi. Hal ini membuat para difabel dapat berkuliah di berbagai universitas dan berbagai jurusan yang ada di dalamnya. Namun hal itu tidak serta merta dapat mengikis pandangan miring terhadap difabel.  Paradigma yang menganggap difabel hanya cocok dengan beberapa pekerjaan tertentu mempengaruhi pilihan seorang difabel dalam menentukan program studi yang akan ia tempuh di perguruan tinggi. Hal ini berakibat, difabel hanya menjadikan jurusan-jurusan tertentu sebagai pilihan untuk mendaftarkan diri mereka ke perguruan tinggi yang akhirnya berimplikasi banyaknya output sarjana difabel dibidang-bidang tertentu.

Dalam realita seperti ini, seorang difabel yang memilih berkuliah di jurusan yang anti mainstream (menurut teman-teman difabel) dan memiliki cita-cita yang berbeda dengan para difabel yang lain tentu menjadi fenomena menarik.

Fajar Baskoro Ajie adalah satu-satunya mahasiswa difabel netra sekaligus mahasiswa difabel pertama yang berkuliah di program studi sastra Inggris pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menjadi seorang mahasiswa difabel netra pertama sekaligus satu-satunya tentu memiliki konsekuensi bagi Fajar. Pada masa awal perkuliahan, dosen dan teman-temannya sempat merasa kaget dengan kehadiran Fajar yang merupakan seorang difabel netra. Bahkan saat itu ada dosen yang bertanya kepadanya “bagaimana saya bisa mengajar kamu?”. Pertanyaan itu disambut oleh Fajar dengan jawaban bahwa dosen cukup mengajar seperti biasa saja karena Fajar sama seperti teman-temannya yang lain. Hal yang sama juga ia katakan kepada teman-temannya yang sesama mahasiswa bahwa difabel sama seperti manusia yang lain, dapat melakukan suatu hal secara mandiri, dapat berkuliah dan berhak mengakses lapangan pekerjaan sesuai dengan keahliannya.

Fajar menuturkan pilihan untuk berkuliah di jurusan sastra Inggris muncul dari dirinya sendiri. Ia sadar pilihan yang ia jatuhkan tersebut pasti memiliki konsekuensi. Selain harus membangun paradigma yang inklusif di lingkungan sekitarnya, ia juga harus mengambil pilihan yang berbeda dengan keluarganya. Lingkungan keluarganya yang memiliki latar belakang profesi sebagai pendidik, membuatt keluarganya  menganjurkan Fajar untuk kuliah di jurusan yang berkaitan dengan pendidikan. Namun Fajar tetap memilih jurusan yang ia kehendaki.

Fajar beralasan bahwa pilihan yang ia tentukan adalah tanggungjawab pribadinya. Selain itu menurutnya sudah banyak difabel yang berkuliah di program studi yang berkaitan dengan pendidikan. Hal ini menyebabkan banyaknya output difabel yang berkecimpung di dunia pendidikan. Menurut Fajar, hal seperti itu dapat memperkuat pandangan masyarakat bahwa difabel hanya dapat bekerja di sektor-sektor tertentu.

Fajar melanjutkan bahwa ketika banyak difabel yang tersebar ke berbagai program studi maka hal itu sesuai dengan nilai-nilai inklusi, karena dengan seperti itu orang-orang akan memahami bahwa difabel dapat berkuliah di berbagai jurusan dan dapat mengakses berbagai pekerjaan.

Mahasiswa Sastra Inggris ini mengatakan setelah menyelesaikan studinya, ia ingin bekerja sebagai seorang penerjemah. Menurutnya belum banyak difabel yang berprofesi sebagai seorang penerjemah. Padahal terbuka lebar bagi seorang difabel untuk bekerja di sektor penerjemahan.

Fajar melanjutkan bahwa pekerjaan menjadi penerjemah saat ini semakin mudah diakses oleh difabel netra karena hadirnya kemajuan teknologi yang mempermudah aktivitas difabel netra. “ketika seorang difabel netra memiliki kemampuan berbahasa inggris yang baik disertai dengan kemampuan penggunaan perangkat teknologi, maka modal awal menjadi seorang penerjemah sudah terpenuhi” tuturnya saat ditemui solider ditempat tinggalnya 20 Oktober 2017 lalu.

Yuhda Wahyu Pradana, seorang pegiat isu difabel yang juga berprofesi sebagai seorang penerjemah mengatakan hal yang senada dengan Fajar. Menurut Yuhda profesi penerjemah adalah profesi yang bisa diakses oleh para difabel. ditambah lagi saat ini adanya kecanggihan teknologi sangat mempermudah difabel dalam mengakses pekerjaan menjadi translator. Menurutnya ia cukup berada di rumah dan tak perlu beperggian untuk menyelesaikan pekerjaan sebagai seorang translator. Cukup menghubungkan laptop dengan internet maka ia dapat menyelesaikan pekerjaannya, karrena saat ini berbagai kamus yang menjadi acuan para penerjemah untuk melakukan pekerjaannya dapat diakses secara online.

“menurut saya profesi penerjemah sangat terbuka bagi para difabel netra, apalagi saat ini di tengah kecanggihan teknologi yang dapat diakses oleh teman-teman difabel netra” ujar Yuhda melalui pesan Whatsapp kepada jurnalis Solider 22 Oktober 2017.

Fajar merupakan salah satu contoh difabel netra yang berani mengambil bidang studi sesuai dengan keinginannya. Keputusannya untuk belajar sastra Inggris merupakan keputusan yang patut diapresiasi dan merupakan bukti bahwa difabel berhak dan dapat menempuh pendidikan di bidang apapun dan dimanapun. (Tio Tegar).

The subscriber's email address.