Lompat ke isi utama
ilustrasi gambar: Papan Petunjuk Panti Pijat Difabel Netra

Difabel Netra dan Profesi Pemijat: Identik atau Pengidentikkan?

Solider.or.id -  Dalam kehidupan difabel di Indonesia, eksklusifitas lingkungan menggiring difabel dalam keadaan-keadaan yang membatasi. Tak terkecuali pada bidang mata pencaharian. Mungkin, sudah sering terdengar bahwa ada keidentikkan antara difabel dengan profesi tertentu. Misal, difabel daksa sering identik dengan profesi tukang servis barang elektronik, tuli identik dengan profesi penjahit, difabel netra identik dengan profesi pemijat dan keidentikkan lainnya. Sadar atau tidak, pemasangan yang masih banyak dilakukan oleh lembaga baik pemerintah maupun swasta ini alih-alih memberikan manfaat justru melenggangkan ketidaksetaraan untuk difabel.

Tanggal 12 Oktober kemarin diperingati sebagai The World Sight Day atau Hari Penglihatan Dunia, hari yang juga dekat dengan realitas difabel netra. Di Indonesia, difabel netra saat ini memiliki berbagai entitas kebudayaan seperti braille, tongkat putih dan lain-lain. Ada hal lain yang selama ini juga cukup tersemat terhadap difabel netra, seperti yang sudah disebut di atas, yakni profesi pemijat, sebuah profesi yang justru mendiskriminasi difabel netra sendiri.

Ardi Nugroho, seorang difabel netra yang berprofesi sebagai pemijat di Jalan Cantel Baru Yogyakarta mengaku mengambil profesi tersebut karena pilihan sendiri. Namun, pilihan profesi tersebut juga merupakan dorongan dari salah seorang guru saat ia masih bersekolah dulu di SLB.

“Guru saya yang mengarahkan saya untuk mengambil profesi pemijat. Beliau bilang bahwa saya cocok dengan profesi ini,” ceritanya.

Ia mengaku bahwa sang guru juga sempat berujar bahwa meski ia bisa bersekolah tinggi, ia lebih cocok untuk berprofesi sebagai seorang pemijat. Alhasil, dorongan itu yang akhirnya membuat Ardi mengambil kursus pijat setelah lulus SDLB. Ia menambahkan bahwa beberapa  temannya juga banyak yang mengalami hal serupa.

“Banyak teman saya yang tersalurkan ke dinas sosial, makanya kecenderungannya pun akhirnya mendapat pelatihan pijat dan menjadi profesi sampai sekarang,” terangnya.

Ardi mengakui bahwa kesempatan difabel netra untuk memiliki profesi selain pemijat di era sekarang jauh lebih terbuka daripada jamannya dulu. Ia bercerita bahwa setelah ia lulus SDLB tahun 2001, fasilitas seperti komputer masih belum selengkap sekarang. Jadi, menurutnya, saat itu masih banyak difabel netra yang memang cenderung langsung berprofesi sebagai pemijat setelah lulus sekolah, terutama yang bersekolah di SLB.

Bagi Ardi, difabel netra yang identik dengan profesi pemijat memang buah dari persepsi yang terbentuk di masyarakat.

“Selain itu, menurut saya, banyak juga pegawai dinas sosial yang turun ke lapangan, bahkan ke orang tua langsung, mencari difabel netra untuk diberi pelatihan memijat,” terangnya.

Para pegawai tersebut, menurutnya, juga meyakinkan para difabel netra bahwa profesi yang paling cocok untuk mereka adalah profesi pemijat. Hal itu menjadi salah satu penyebab persepsi masyarakat bahwa difabel netra dekat dengan profesi satu ini.

Berbeda dengan Ardi Nugroho, Firman Salsabila, seorang difabel netra pemijat di daerah Pleret, Bantul, mengaku bahwa keputusan menekuni profesi pemijat bukan keinginannya dari awal.

“Saya sebenarnya tak ingin jadi pemijat. Tapi karena kesempatan kerja yang sangat terbatas bagi difabel netra seperti saya, akhirnya saya harus memilih profesi ini sebagai sumber mata pencaharian, ujar Firman.

Firman sebelumnya mengecap pendidikan sampai bangku kuliah di jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, sebuah jurusan yang lulusannya sebetulnya bisa berprofesi sebagai guru.

“Dari awal, saya sebenarnya ingin menjadi seorang guru. Itulah mengapa saya mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam ketika kuliah,” ia bercerita.

Namun, kesempatan menjadi guru tak kunjung ia dapatkan meski sudah mendaftar ke beberapa institusi pendidikan luar biasa.

“Jadi saya kira difabel netra masih dianggap sebelah mata. Setelah lulus, saya mendaftar ke beberapa sekolah untuk menjadi guru, tapi selalu ditolak. Justru, beberapa teman yang awas malah yang diterima,” kenangnya sambil tertawa.

Ia meyakini bahwa stigma masyarakat terhadap difabel masih tinggi termasuk di insitusi pendidikan luar biasa sekalipun. Sempitnya peluang dan pandangan masyarakat yang masih sebelah mata yang akhirnya membuat Firman menjadi pemijat, profesi yang sebenarnya tak diinginkannya.

Menurutnya, ada banyak difabel netra yang mengalami realitas serupa seperti dirinya. Bisa mengecap pendidikan tinggi kadang belum tentu dipercaya oleh masyarakat untuk bisa berprofesi sesuai latar belakang pendidikannya. Pandangan masyarakat masih belum adil, menganggap difabel netra sebagai pihak yang belum dianggap layak untuk menduduki pekerjaan strategis.

“Padahal kalau mau dibandingkan, difabel netra dan orang awas cuman berbeda dalam indera penglihatan saja. Untuk membaca, semuanya bisa membaca. Instrumennya saja yang berbeda,” ungkapnya.  

Sementara itu, Direktur Dria Manunggal, Setya Adi Purwanta, menegaskan bahwa kedekatan antara difabel netra dengan profesi pemijat bukan merupakah hubungan yang bersifat identik.

“Difabel netra itu tak identik dengan profesi pemijat. Tapi diidentikkan. Oleh siapa? Oleh konstruksi sosial yang sudah terbangun sejak lama,” buka Setya.

Menurutnya, konstruksi sosial ini bahkan sudah dibangun sejak zaman Belanda. Pada zaman itu, mulai ada pergeseran dari diskursus model tradisional yang melihat difabel dari sisi magis ke model medis yang melihat difabel dari aspek kesehatan.

“Di saat era model medis itu, muncul ilmu kedokteran. Difabel yang tak bisa disembuhkan lalu diberi pelatihan. Karena difabel netra biasanya meraba, makanya pelatihan yang diberikan adalah kemampuan memijat,” cerita Setya.

Keadaan itu berubah menjadi stigma bahwa profesi difabel netra adalah pemijat. Padahal, menurut Setya, stigma itu yang memberi sekat bagi difabel netra dari profesi yang lain. Sayangnya, pemerintah juga melanggengkan stigma itu sampai sekarang.

“Padahal gara-gara stigma itu, setiap difabel netra diberi pelatihan memijat. Lalu, ada overproduksi pemijat. Hasilnya, pendapatan difabel netra pemijat ini jadi menurun juga,” tambahnya.

Ketika ditanya apa yang harus dilakukan untuk mengubah stigma ini, Setya menegaskan bahwa, konstruksi sosial seperti ini harus dilawan. Selain itu, stigma juga harus dihilangkan. Ia yakin salah satu yang bisa dimulai adalah dari ranah pendidikan.

“Tiadakan saja pendidikan segregatif yang bermasalah itu. Hadirkan pendidikan yang bisa diakses siapa saja. Inklusi itu hanya metodologinya. Ajarkan anak-anak itu nasionalisme yang tanpa sekat, tak perlu membeda-bedakan, agar stigma difabel lambat laun bisa terhapus.

Ia menutup dengan himbauan agar setiap pihak harus kritis dengan realitas sosial difabel yang terjadi. Karena menurutnya, kontruksi sosial yang membentuk persepsi terhadap difabel saat ini membuat orang-orang tidak bisa bepikir kritis terhadap tantang yang dihadapi difabel. (Yuhda)

The subscriber's email address.