Lompat ke isi utama
Seorang difabel netra sedang berjalan di dekat kampusnya

Lingkungan Pendidikan Inklusi: Pembentukan Karakter Difabel

Solider.or.id. Yogyakarta. Setahun menjadi Pengajar Muda program Indonesia Mengajar di Kabupaten Maluku Barat Daya banyak memberikan pengetahuan baru tentang korelasi antara masa tumbuh kembang anak dengan karakter anak tersebut di masa depan. Maluku adalah salah satu daerah di Indonesia yang terkenal dengan karakter penduduknya yang keras dan temperamental. Meskipun tidak semua orang Maluku seperti itu, stereotip keras dan tempermental memang sangat dekat dengan mereka.

Saya menemukan penafsiran atas jawaban stereotip itu di sekolah penempatan saya, sebuah SD yayasan di sebuah pulau paling selatan Maluku. Di sana, anak terbiasa dengan kata-kata kasar baik dari orang tua maupun lingkungan sekitar. Sampai di sekolah, jika melakukan hal yang dianggap melanggar peraturan, anak akan mendapat hukuman, sebagian besar berupa fisik. Bisa pukulan rotan di betis, jeweran dan juga kekerasan secara verbal. Pengalaman seperti ini mengendap bertahun-tahun yang akhirnya membentuk orang Maluku dewasa yang gampang tersulut emosi dan bertemperamen tinggi.

Pengalaman saya di atas itu memberikan perspektif bahwa karakter orang itu mulai terbentuk dari pengalaman-pengalamannya dari masa kecil. Dalam ilmu psikologi, karakter terbentuk dari lingkungan. Untuk membuat pendidikan berkarakter, kita harus terlebih dahulu membentuk lingkungan yang berkarakter.

Ada sebuah pepatah yang mendukung hal di atas: apabila kita bergaul dengan penjual minyak wangi, maka kita akan ikut wangi. Jika kita bergaul dengan penjual ikan, maka kita akan ikut amis. Pepatah itu jelas mengandung pengertian bahwa lingkungan yang dimulai dari orang tua, tetangga, teman sekolah, guru, sampai lingkup yang lebih luar adalah faktor penting dar perkembangan anak.

Keadaan seperti itu terjadi dengan setiap orang, tak terkecuali difabel. Stereotip yang cenderung sering muncul adalah difabel yang kurang percaya diri. Penyebabnya banyak, bisa karena fasilitas yang belum akses, pendidikan, maupun lingkungan masa kecil yang mengisolasi difabel dari pergaulan dengan dunia luar.

Dari sisi keluarga, misalnya, kecenderungan untuk menyembunyikan anggota keluarga yang difabel jelas sangat mempengaruhi pembentukan karakter difabel tersebut. Selain itu, dalam ranah pendidikan, sistem pendidikan segregasi yang memisahkan difabel dengan nondifabel juga sering menjadi penyebab inferioritas difabel dengan lingkungan masyarakat.

Tio Tegar Wicaksono adalah seorang difabel netra yang mengambil jurusan Hukum di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Bisa menembus UGM tentunya bukan merupakan hal yang mudah untuk dilakukan, untuk difabel dan nondifabel. Tegar lalu bercerita kepada saya pengalaman masa kecilnya yang membuat ia sangat percaya diri berjejaring dengan siapa saja.

“Saya merasa bersyukur saat kecil berada di lingkungan yang tak membeda-bedakan difabel,” Tegar membuka cerita.

Ia melanjutkan bahwa saat SD, ia berkesempatan bersekolah di sekolah umum (belum inklusi) daripada bersekolah di SLB. Menurutnya, saat itu ia memiliki lingkungan pertemanan yang inklusi.

“Teman-teman saya di SD tahu jika saya adalah seorang difabel netra dan mereka tetap mengajak saya bermain beberapa permainan yang sebenarnya tak cukup aksesibel untuk saya,” terangnya.

Menurutnya teman-teman dan lingkungan sekitarnya menghadirkan lingkungan inklusi yang membuat rasa percaya dirinya tinggi. Ia menambahkan bahwa kesempatan seperti ini yang jarang didapatkan oleh difabel yang bersekolah di SLB atau lingkungan yang tidak terlalu menerima mereka.

“Saya SD di sekolah umum, MTs di SLB dan setelah itu melanjutkan di institusi pendidikan umum. Saya menyadari bahwa beberapa teman saya yang sekolah di lingkungan segregatif seperti SLB memang cenderung lebih merasa inferior,” ia menerangkan.

Meski menurutnya, hal itu tak terjadi di setiap anak. “Saya punya teman yang walaupun bersekolah di sekolah segregatif tapi punya kepercayaan diri yang tinggi karena ia selalu bergaul dengan warga sekitar,” imbuhnya. 

Ia lalu meyakini bahwa lingkungan tanpa sekat yang sebenarnya penting dihadirkan untuk membuat difabel bisa punya kesempatan yang sama karena sebenarnya potensi difabel sama dengan nondifabel.

“Itu penafsiran saya. Tapi perlu ada kajian akademis yang membuktikan bahwa lingkungan segregatif itu memang menyumbang kepada pembentukan karakter difabel yang inferior,” ucapnya.

Ia pun merasa bahwa karakternya yang penuh percaya diri dan aktif seperti sekarang adalah buah dari lingkungan masa kecil dan sekolahnya dulu.

Di tempat lain, ahli pendidikan inklusi, Setya Adi Purwanta, mengatakan apa yang dialami oleh Tegar adalah bukti bahwa sekat-sekat yang mendiskriminasi difabel saat ini memang membawa dampak besar dari karakter difabel ke depannya.

“Delapan puluh lima persen informasi didapat dari indera penglihatan. Sisanya bisa didapat dari indera yang lain. Jika difabel netra seperti Tegar itu dikumpulkan dalam satu sekolah selama bertahun-tahun, betapa minimnya sumber informasi yang akan mereka dapatkan,” ungkap Setya.

Dari hal itu saya, menurut Setya, pendidikan segregatif seperti di SLB sudah nampak sekali permasalahannya. Ia bahkan percaya bahwa sistem pendidikan seperti itu jika dilanggengkan sama saja dengan upaya pemiskinan dan pemenjaraan. Menurutnya, sekolah segregatif dihadirkan hanya untuk mempermudah metodologi untuk penanganan siswa difabel. 

Setya menambahkan bahwa Indonesia sebenarnya sudah mempunyai sistem pendidikan inklusi dari dulu.

“Apa yang disebut sebagai kebinekaan itulah yang namanya inklusi. Seperti orang Papua yang sekolah di Yogyakarta, mata pelajaran bahasa Jawa harus disesuaikan biar jadi inklusi,” imbuhnya. Tapi, menurutnya, makna inklusi sekarang sudah disempitkan kepada difabel.

Setya meyakini bahwa jika kembali ke makna kebinekaan, harusnya pemerintah bisa menghadirkan lingkungan yang inklusi terutama di bidang pendidikan.

Semua pihak, nondifabel dan difabel, sudah sepatutnya bahu-membahu menghadirkan lingkungan tanpa sekat, sehingga semua orang bisa berbaur tanpa melihat apapun kondisi dan latar belakang kebudayaannya. Karena dengan kondisi yang seperti itu, intisari dari keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia akan jauh lebih terasa. (Yuhda)  

The subscriber's email address.