Lompat ke isi utama
ilustrasi film Pengabdi Setan karya Joko Anwar

Menelaah Karakter Difabel dalam Film Pengabdi Setan

Solider.or.id - Film merupakan salah satu karya seni yang sangat digemari masyarakat. Sajian estetika berupa gambar bergerak yang dibumbui dengan efek audio visual, mampu membuat penonton terkesima. Tak dapat dipungkiri bahwa film dapat menggiring opini masyarkat dan sekaligus dapat membentuk realitas sosial yang merupakan hasil dari konstruksi sosial

Salah satu film yang sedang hanngat dibicarakan akhir-akhir ini adalah film horor yang berjudul Pengabdi Setan. Film karya Joko Anwar ini menyedot perhatian halayak karena  merupakan film daur ulang dari film dengan judul yang sama yang di produksi pada era 1980an, yang pada kala itu juga mendapatkan perhatian publik yang cukup luas. Ulasan soal film ini pun telah dituliskan oleh berbagai media ternama. Berbagai media tersebut rata-rata mengulas mengenai supstansi dari cerita yang disajikan dan kesuksesan yang di raih film tersebut.

Selain itu sisi menarik dari film Pengabdi Setan yang perlu dibahas adalah mengenai karakter difabel yang ditampilkan dalam film tersebut.

Pengabdi Setan menampilkan dua karakter difabel dalam alur cerita yang disajikan. Dua karakter difabel tersebut yaitu seorang Tuli yang menjadi salah satu tokoh sentral dalam film dan seorang difabel netra yang dimunculkan sekilas ditengah-tengah cerita. Pertanyaan kritis yang dapat dikemukakan disini adalah bagaimana film Pengabdi Setan membangun konstruksi tentang difabel dalam alur cerita yang di sajikan? Pertanyaan ini menjadi penting karena sebuah konstruksi sosial yang dibangun dalam  film dapat mempengaruhi paradigma berpikir penontonnya. Lebih-lebih  jika dikaitkan dengan difabel, pertanyaan yang lebih lanjut adalah apakah film itu menyampaikan nilai-nilai inklusivitas? Atau justru sebaliknya? Pertanyaan-pertanyaan itu yang akan coba dijawab oleh tulisan ini.

Ian, yaitu seorang anak difabel Tuli yang dalam film dikisahkan sebagai anak terakhir dari sebuah keluarga yang mengalami teror dari ibunya yang telah meninggal. Sosok Ian digambarkan dapat berkomunikasi  dengan menggunakan bahasa isyarat dalam keseharian-nya. Ian pun sebagai salah satu anggota keluarga juga mengalami teror dari hantu ibunya yang merupakan pengabdi sekte iblis pemuja kesuburan. Namun menjelang akhir film terungkaplah sebuah fakta, bahwa Ian seorang Tuli yang merupakan anak terakhir dari keluarga tersebut ternyata adalah seorang titisan iblis akibat sang ibu ketika masih hidup bergabung dengan sekte iblis pemuja kesuburan. Sehingga ketika menjelang akhir cerita dikisahkan bahwa Ian diambil kembali oleh para pengikut sekte iblis yang merupakan teeman-teman dari ibu.

Cerita mengenai karakter Ian dalam film, apabila dilihat sekilas memiliki poin positif karena menggambarkan bagaimana seorang  Tuli berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat dalam keseharian. Menurut Ramadhany Rahmi penerjemah bahasa isyarat dari Deaf Art Comunity Yogyakarta karakter Ian yang digambarkan sebagai seorang difabel Tuli dalam film memiliki poin positif karena dapat mengedukasi masyarakat bahwa bahasa isyarat itu penting.

“bahasa isyarat yang digunakan cukup jelas dan lancar karena anak yang menjadi pemeran dalam film di ajar langsung Panji Surya Sahetapi, seorang difabel Tuli” ungkapnya saat dihubungi Solider via Whatsapp.

Hal tersebut tentu menjadi poin positif mengingat masih sedikitnya film yang mengkampanyekan isu-isu difabel. Cerita yang disajikan oleh film bukan hanya berisi cerita yang bersifat menghibur saja, namun juga memiliki nilai edukasi yang dapat diperoleh oleh para penontonnya.

Sedangkan Gustian Hafidh Mahendra, aktifis Tuli dari Deaf Art Comunity mengatakan hal yang senada dengan Ramadany Rahmi, bahwa bahasa isyarat dalam film telah di pahami. Namun ia juga menyayangkan karena tidak terdapat sub title sehingga  Tuli tidak dapat memahami dialog dalam film dalam bahasa verbal. Hafidh sendiri mengaku ketika dirinya menyaksikan film yang berdurasi nyaris 2 jam itu, ia sama sekali tidak dapat memahami dialog yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam film yang tidak menggunakan bahasa isyarat. Selanjutnya Hafidh memberi saran dan rekomendasi kepada film-film di Indonesia agar kedepan lebih ramah terhadap  Tuli. Saran dari Hafidh adalah film harus disertai dengan sub title di bagian bawah layar atau alternatif lain yang bisa dilakukan adalah menyertakan penerjemah bahasa isyarat di bagian pojok layar, hal itu selain memberi akses informasi bagi  Tuli juga merupakan cara untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya bahasa isyarat.

Film Pengabdi Setan ini disisi lain juga menghadirkan sebuah kontradiksi apabila ditinjau dari perspektif social model of disability atau paradigma berpikir kritis dalam memandang difabel. pada satu sisi film ini menyampaikan poin positif karena menggambarkan bagaimana seorang  Tuli berkomunikasi dengan budayanya yang harus dihormati yaitu bahasa isyarat. Tetapi disisi lainn film ini juga menyajikan cerita yang dapat melanggengkan tradisional model of disability atau pandangan magis dalam melihat difabel. Menjelang akhir film bahwa Ian yang merupakan difabel Tuli adalah titisan iblis. Hal ini sama dengan memperkuat paradigma tradisional model of disability yang mana melihat kondisi difabel diakibatkan karena pengaruh magis seperti kutukan karena orangtuanya pernah berbuat dosa, peringatan dari Tuhan dan lain sebagainya.

Ramadany Rahmi penerjemah bahasa isyarat dari Deaf Art Comunity Yogyakarta juga menyayangkan hal tersebut. Menurutnnya tidak seharusnya difabel digambarkan sebagai jelmaan setan, anak setan atau titisan setan. Ini cukup berbahaya karena dapat memperkuat paradigma orang-orang yang masih berpegang pada paradigma tradisional dalam memandang difabel.

Selain kontradiksi yang dihadirkan oleh film Pengabdi Setan dalam menggambarkan tokoh Tuli, film ini juga justru memperkuat stigma-stigma negatif yang dilekatkan kepada difabel netra. Salah satu adegan dalam film menggambarkan seorang difabel netra yang dikisahkan sebagai seorang pemijat tanpa memakai kaca mata hitam sehingga terlihat menyeramkan. Seperti yang diketahui bahwa para difabel netra dilekatkan dengan stigma tiga P yaitu pengamen, pengemis dan pemijat. Seolah-olah stigma tersebut justru diperkuat oleh film ini. Karena film ini mengisahkan difabel netra sebagai seorang pemijat. Hal ini tentu bisa berdampak pada diskriminasi terhadap difabel netra dibidang ketenagakerjaan. Realitas sosial yang di hasilkan sangat berpotensi untuk mendiskriminasi difabel. Bima Indra Permana ketua UKM Peduli Difabel UGM juga turut menyayangkan cerita yang di sajikan dalam film tersebut. Menurutnya meskipun hal itu hanya digambarkan sekilas dalam film, tetapi sangat mungkin para penonton film tersebut terpengaruh oleh cerita yang disajikan.”film seharusnya menjadi media kampanye isu-isu difabel,  bukan malah memperkuat diskriminasi yang sudah ada” ungkapnya saat ditemui setelah menyaksikan film Pengabdi Setan di J-Walk Sleman Kamis 5 Oktober 2017.

Kini sudah seharusnya para produsen film menyadari bahwa konstruksi cerita yang dibangun dalam sebuah film, akan berdampak pada realitas sosial dalam masyarakat. Seperti yang telah disampaikan pada awal tulisan ini bahwa film adalah media komunikasi masa sehingga cerita dalam film akan disaksikan oleh masyarakat banyak. (Tio Tegar)

The subscriber's email address.