Lompat ke isi utama
ilustrasi gambar, sebuah jari sedang menunjuk ikon salah satu aplikaasi transportasi online di ponsel

Transportasi Online dan Difabel

Solider.or.id, Makassar  - Pertama kali saya berkenalan dengan mode transportasi online ketika pada suatu malam yang gerimis, saya salah menaiki bus dari Bandung menuju Bekasi. Saat itu, saya bermaksud menuju terminal Bekasi, yang secara kebetulan jaraknya dekat dari rumah sanak famili yang ingin saya tuju. Sayangnya, malam itu, saya salah menaiki bus. Bus tersebut akan mengarah ketempat lain, dan tidak akan melalui jalur menuju terminal Bekasi. Masalahnya adalah, saya baru mengetahui itu ketika bus sudah sampai ketujuan. Saya pun bertanya ke sesama penumpang yang ketika itu tertangkap mata suap saya.

“wah, mas, lu salah naik bus. Ini jauh dari terminal Bekasi.” Jawabnya saat itu. Saya lantas bertanya kira-kira bagaimana saya bisa ke terminal Bekasi malam itu juga? Adakah angkutan umum yang bisa membawa saya ke sana?

“Lu busa naik Taksi. Tapi mungkin terlalu mahal.” Saya lantas berpikir sejenak, berusaha mengusir rasa panik yang mulai mengganggu. “atau begini, lu punya aplikasi gojek, gak?”

Saya menggeleng. sebagai seorang anak yang dibesarkan di sebuah desa di Sulawesi Selatan, saat itu, saya sebenarnya sudah amat familiar dengan mode transportasi online (gojek) tetapi sama sekali belum pernah menggunakannya. Saat itu, Gojek baru berbilang bulan beroperasi di Makassar, dan aplikasinya belum begitu aksesibel bagi difabel netra seperti saya. Malam itu, untuk pertama kalinya, saya belajar menggunakan aplikasi gojek. Berkat bantuan penumpang tadi, saya pun bisa mengaksesnya, dan langsung bisa menggunakannya.

Transportasi Online Kurangi Diskriminasi Pada Difabel di Makassar

Difabel Makassar mulai akrap dengan transportasi online sekitar pertengahan 2016. Saat itu, baru Gojek dan Grab yang beroperasi. Kemudian disusul oleh Uber pada maret 2017. Pengalaman di Bekasi malam itu membuat saya mulai terbiasa menggunakan mode transportasi online. Dalam bermobilitas di Makassar, saya merasa lebih terbantu sejak mode transportasi online itu beroperasi.

Kenyataannya, hal serupa juga dirasakan oleh difabel lain. Hal tersebut terungkap saat suatu ketika, dinas perhubungan (DISHUB) Sulawesi Selatan mengeluarkan larangan bagi semua jenis transportasi online untuk beroperasi pada 7 April 2017. Saat itu, mereka bekerja sama dengan pihak kepolisian, melakukan razia di beberapa jalan protokol di Makassar. Mereka memberhentikan setiap transportasi daring yang mereka temukan, memberinya peringatan untuk tidak beroperasi lagi. Protes pun bermunculan dari berbagai pihak menyikapi tindakan dishub tersebut,  beberapa diantaranya disuarakan oleh difabel.

Kala itu, saya menghimpun suara difabel (netra dan daksa), meminta tanggapan mereka terkait kebijakan yang ditempuh dishub Sulewesi Selatan tersebut. Setelah itu, saya menulis resume tanggapan mereka, dan mengirimkannya ke media. Berikut beberapa seruan saya, yang sempat dikutip beberapa media:

  “Semenjak mereka beroperasi (transportasi online), kami sudah tidak mengalami kesulitan lagi dalam bermobilitasi. Saat melakukan pemesanan, mereka akan menjemput ke rumah kami, dan mengantar sampai ke tujuan.” (metrotvnews.com, 08-04-2017).

Menurut Hamzah M Yamin (Sekertaris PPDI Sul-Sel), pada transportasi konvensional  seperti pete-pete (sebutan untuk mobil angkutan umum di kota Maakassar), difabel kerap mendapat perlakuan yang diskriminatif saat ingin menggunakannya. Difabel kadang tidak mau diterima oleh supir pete-pete, karena dianggap sebagai penghalang rejeki. Misal, jika menerima seorang buta, maka rejeki si pengemudi akan gelap. Atau ketika menerima seorang yang lumpuh, maka rejeki tidak akan lancar. Stigma tersebut cukup menyulitkan difabel ketika akan bepergian menggunakan transportasi umum. (wawancara 05-03-2017).

Pada umumnya, difabel beranggapan bahwa transportasi online lebih aman dan nyaman bagi mereka. Tak ada rasa takut akan perlakuan yang diskriminatif, karena pada transportasi online, ada ruang yang tersedia bagi penumpang untuk melaporkan jika dalam perjalanan, penumpang mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari driver. Lagi-lagi, hal tersebut tidak tersedia pada transportasi konvensional.

Hal lain disampaikan direktur Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK Sulsel), Abdul Rahman. Menurutnya, transportasi konvensional, seperti Taksi juga kadang tidak jujur dalam pembayaran. Berdasarkan pengalaman Rahman yang difabel netra ini, ia beberapa kali pernah dikibuli (ditipu) oleh pengemudi taksi. Karena si penumpang tidak dapat melihat argo taksi, maka pengemudi taksi akan seenaknya menyebut tarif yang tidak masuk akal, yang kadang mau tidak mau harus dibayar.

Lagi-lagi, permasalahan yang diungkapkan Rahman tersebut dapat terselesaikan pada transportasi Online. Pada transportasi online, sebelum penumpang menggunakannya, mereka sudah tahu terlebih dahulu berapa ongkos yang harus mereka bayarkan. Lagi-lagi, ini mudah diakses oleh difabel netra.

Pada akhirnya, dishub Sulsel dan kepolisian tak meneruskan razia tersebut, dan hingga saat ini, di Makassar, transportasi online masih dapat beroperasi dengan aman.

Terbukanya Lapangan Kerja Bagi Difabel

Kehadiran mode transportasi online juga memberikan peluang kerja yang cukup luas bagi difabel. Di Makassar, difabel tuli maupun difabel daksa busa saja menjadi driver taksi online maupun motor (gojek/grab bike). Sepanjang pengalaman saya, saya pernah mendapat seorang driver Uber yang merupakan seorang Tuli . Beberapa kawan daksa maupun netra (lowvision), di Makassar saat ini pun ada yang menjadi driver gojek maupun Grab Bike. salah satu driver gojek yang merupakan seorang lowvision (Ruslan), mengaku, menjadi driver transportasi online sudah menjadi mata pencahariannya sehari-hari. Ia pun tidak pernah merasa mendapat perlakuan yang diskriminatif atas pekerjaan yang saat ini sedang digelutinya itu.

Masalah terbesar yang sebenarnya sedang terjadi di Makassar adalah, difabel tuli saat ini masih kesulitan untuk memperoleh sim D, dikarenakan pihak kepolisian yang belum familiar dengan istilah sim D.

Masalah lain, seperti kita ketahui, pada aplikasi Gojek, ada salah satu fitur yang sebenarnya juga memungkinkan bagi difabel netra untuk bekerja. Yakni melalui go-massage. Sayangnya, beberapa difabel netra di Makassar yang pernah mendaftar menjadi mitra pada layanan go-massage, masih belum mau diterima. Pihak gojek beralasan, mereka belum pernah menerima mitra yang seorang difabel netra, pada layanan go-massage.

Tentunya, itu menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh aktifis, pemerhati, maupun organisasi  difabel di Makassar untuk melakukan advokasi atas permasalahan tersebut. (Ramadhan Sarro)

The subscriber's email address.