Lompat ke isi utama
transportasi umum, bus khusus difabel di Bandung

Rindu Menyuarakan Transportasi Inklusi

Solider.or.id, Bandung – Keluhan pemilik angkutan konvesional terhadap transportasi berbasis online di kota Bandung berdampak pada aktivitas mobilitas difabel. Sementara keberadaan bus khusus untuk difabel yang sudah diluncurkan dengan akses di tiga rute belum terjamah secara maksimal, Selasa (10/10).

Semilir isu terkait akan digelarnya aksi mogok masal angkutan umum (Angkot) di kota Bandung memang sudah terdengar sejak pekan lalu. Para sopir angkot pun benar-benar melakukan aksi tersebut sejak selasa siang. Sesuai dengan informasi yang menyebar luas di masyarakat Bandung dan sekitarnya, aksi mogok masal tersebut akan berlangsung dari tanggal 10 – 13 Oktober mendatang.

Pada aksinya kali ini, pemilik angkutan konvesional telah menyampaikan satu poin penting kepada pihak Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher) di Gedung Sate. Aher menyampaikan, pengusaha angkot meminta agar transportasi berbasis online ikuti aturan yang sama dengan angkutan konvesional, bukan melarang keberadaannya di kota Bandung.

Apa pun yang melatar belakangi aksi mogok masal dari transportasi publik ini, tetap memberikan dampak besar terhadap masyarakat luas, termasuk difabel. Aktivitas mobilitas masyarakat pada umumnya menjadi sangat terganggu. Hal tersebut turut dirasakan oleh kalangan difabel kota Bandung.

Para difabel yang terbiasa menggunakan jasa transportasi berbasis online, sejak  pagi dan selasa siang  kesulitan untuk mengaksesnya. Jaringan aplikasi yang sulit untuk lacak, hingga penolakan dari pihak sopir kendaraan online pun dialami oleh difabel. Terutama difabel pengguna kursi roda dan mereka yang tidak memiliki kendaraan pribadi.

Sepanjang hari tadi, efek mogok masal yang dirasakan oleh difabel mulai mencuat. Keluhan disampaikan oleh salah seorang difabel daksa kursi roda (H/42) yang terpaksa membatalkan diri mengikuti acara sebuah pelatihan. Menurut penuturannya, ia sejak pagi telah mencoba menggunakan aplikasi kendaraan online seperti biasa. Akan tetapi, gangguan konektivitas terjadi.

Begitu pula dengan keluhan lain yang disampaikan seorang difabel daksa kusi roda (N/42), ia tidak dapat beraktivitas di luar rumah karena mendapat menolakan dari sopir kendaraan online yang dihubunginya. Sementara menurut mereka, belum ada angkutan konvesional yang pernah bersedia membawa penumpang berkursi roda. Terkecuali sistim carteran. Layanan bus untuk difabel belum menjangkau rute dan waktu kebutuhan mereka.

Senada dengan difabel pengguna kursi roda. Seorang difabel low vision (Y/22), terpaksa berjalan kaki cukup jauh. Jarak sekitar empat kilometer ditempuh hampir 2,5 jam. Ia terjebak aksi mogok masal angkot ketika pulang dari aktivitasnya. Menurut ia, sepanjang perjalanan ada ojek motor yang menawarkan jasanya. Namun, tarif ongkos yang diminta teramat mahal melebihi berkali lipat jasa ojek online yang biasa digunakannya.

Lalu, bagaimana dengan bus untuk difabel yang telah tersedia?

Minimnya jangkauan rute dari tiga bus untuk difabel yang telah beroperasi sejak awal bulan lalu masih belum terjamah difabel dengan maksimal. Menurut salah satu sopir bus untuk difabel (I.S), bus difabel hingga saat ini belum mengalami peningkatan signifikan penggunannya. Begitu pula dengan bus untuk difabel rute-rute lainnya.

Hal tersebut dapat disebabkan oleh masih kurangnya sosialisasi tentang keberadaan bus khusus untuk difabel. Selain unsur informasi sosialisasi, jam operasi dan rute yang minim masih sangat berpengaruh. Akan tetapi, keberadaan bus untuk difabel tetap memberikan hawa segar pada moda transportasi akses bagi difabel. Harapan menuju transportasi inklusi mulai mengiringi.

Dilihat dari fenomena yang terjadi di lapangan, banyak masyarakat yang sangat bergantung kepada akses mobilitas berupa segala transportasi publik. Termasuk kalangan difabel secara keseluruhan. Difabel yang membutuhkan akses mobilitas khususnya para pengguna kursi roda masih belum terakomodir secara maksimal.

Permasalahan yang menyangkut segala bentuk layanan maupun kondisi kelengkapan, kenyamanan, kebersihan dari segala jenis transportasi sangat dicari masyarakat. Mengakses pelayanan yang berkualitas  serta keberadaan transportasi yang inklusi sangat diharapkan.

Namun, apakah sejauh ini para pemilik angkutan konvesional dan angkutan berbasis online di Bandung sudah menyuarakan serta mencontohkan moda transportasi yang inklusi? (Srikandi Syamsi)

 

The subscriber's email address.